Generasi milenial suka sekali traveling ke tempat indah di seluruh indonesia. Sekalipun tempat itu masuk pelosok hutan, mereka tidak keberatan untuk tetap melaluinya sampai ke tujuan. Mereka lebih mencari tempat dengan pemandangan yang indah atau menantang seperti gunung, pantai, air terjun dan lainnya.

Tapi sangat disayangkan karena mereka tidak begitu peka dengan budaya lokal yang ada. Banyak tempat mungkin telah mereka lalui dan memiliki budaya khas nusantara yang unik. Salah satunya budaya Pencak Rotan Ojhung di Desa Karang Sengon, Kabupaten Bondowoso. Budaya yang diketuai Bapak Nor Mohpa sebagai pengurus di Bondowoso ini masih belum banyak diketahui oleh generasi muda indonesia sendiri. Padahal budaya ini cukup banyak diadakan di kota-kota besar.

Budaya Pencak Rotan Ojhung merupakan permainan pertahanan diri/bela diri dengan menggunakan rotan sebagai alat pemukulnya. Ojhung kini menjadi bentuk hiburan karena diselingi tarian yang menghibur agar masyarakat tidak takut. Permainan ini telah dilakukan secara turun-temurun. Mulai dari Raden Wijaya Majapahit sampai masa modern sekarang. Memiliki teknik dan aturan khusus dalam memainkannya. Ojhung bisa ditemui setiap acara selametan desa, hiburan masyarakat dan bisa juga sebagai ritual pemanggil hujan.

Permainan Ojhung ini terdiri dari 2 orang yang saling menyerang dengan rotan selama 3 babak. Dalam satu babak pemain hanya diperbolehkan menyerang satu kali dan tidak boleh melakukan serangan lebih dari 3 langkah. Serangan dianggap berhasil apabila mengenai area lengan dalam dan bagian badan atas musuh. Jika serangan mengenai kepala, area lengan luar dan bagian bawah badan, maka serangan itu tidak dianggap berhasil.

Pemain yang mendapatkan poin paling banyak selama 3 babak menjadi pemenangnya. Tapi pemain juga bisa didiskualifikasi langsung selama permainan berlangsung, apabila melakukan penyerangan dengan melangkah lebih dari 3 langkah, rotan terlepas dari genggaman dan melakukan pukulan atau menyerang lebih dari sekali dalam satu babak. Terdapat 5 orang juri, 4 orang sebagai pengawas pemain dan 1 orang sebagai penentu permainan (juri inti).

Masih banyak budaya unik dan khas nusantara yang bisa dipelajari oleh generasi muda bangsa. Kepedulian terhadap budaya lokal atau local wisdom itu sangat diperlukan sehingga bisa terlindung dari klaim negara lain. Karena generasi yang keren adalah mampu berkompetisi secara global dan tetap berakal pada budaya lokal.

Sumber: Wawancara dengan Nor Mohpa, Ketua Pengurus Ojhung Cabang Kabupaten Bondowoso

Artikel ini diikutkan dalam Kompetisi Menulis Kabar Baik GNFI #2

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu