Lupa Sandi?

Sasi, Kebanggaan Kearifan Lokal dari Tanah Timur Indonesia

Rahmad Supriyanto
Rahmad Supriyanto
0 Komentar
Sasi, Kebanggaan Kearifan Lokal dari Tanah Timur Indonesia

Banyak pesona yang ditawarkan dari bangsa yang diapit secara strategis oleh dua benua dan dua samudra ini, dimulai dari pesona alam hingga pesona budayanya. Berbicara tentang pesona alam Timur yang tak habis untuk diperbincangkan oleh bangsa Barat dari pesona Raja Ampat, Bunaken hingga pesona alam  lainnya. Ternyata, bangsa Timur menyimpan pesona budaya yang tak kalah membanggakan. Salah satu adat budaya Timur Indonesia, Sasi, diperkenalkan jauh sebelum peradaban modern mengenal kata ‘konservasi alam’.

Pesona Alam Raja Ampat, Papua (dok. Wonderful Indonesia)
Pesona Alam Raja Ampat, Papua © Wonderful Indonesia

Sasi  melekat hampir di setiap jiwa masyarakat Timur mulai dari individu, tempat ibadah, hingga kawasan-kawasan desa-pun menerapkan sistem konservasi berbasis adat ini menjadi sebuah tradisi. Masyarakat Timur percaya bahwa ‘jika kita menjaga alam, maka alam-pun akan menjaga kita’. Menebang 1 pohon sagu mengharuskan untuk menanam 10 pohon anakan sagu adalah contoh Sasi  yang diterapkan masyarakat Ihamahu, Maluku Tengah. Selain itu, ada juga Sasi  hutan yang melarang tanaman yang sedang tumbuh/berbuah untuk dieksploitasi. Sama halnya di daratan, di lautan-pun Sasi  diperkenalkan sebelum program konservasi , KKLD (Kawasan Konservasi Laut Daerah) dicanangkan. Manajemen penangkapan hasil laut yang tradisional, minim eksploitasi, dan bertumpu pada keberlangsungan hasil laut nampak pada Sasi  di kawasan Timur ini.

Sasi Laut dalam Penangkapan Ikan Balobe © Dhanang
Sasi Laut dalam Penangkapan Ikan Balobe © Dhanang

Indonesia patut bangga bahwa bangsa ini memiliki warisan adat leluhur yang banyak mengajarkan kita untuk melestarikan alam demi keseimbangan hidup antara manusia dan alam dalam sebuah kearifan lokal. Sudah sepatutnya, tidak hanya bangga sebagai bangsa Timur namun juga kebanggaan ini terwujud dalam menjaga adat ini bertahan ditengah-tengah pemikiran modern manusia.



Baca Juga

"Artikel ini diikutkan dalam Kompetisi Menulis Kabar Baik GNFI #2"

Menulis Kabar Baik #2
Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG RAHMAD SUPRIYANTO

Kawan GNFI ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas