Lupa Sandi?
Java Jazz Single

Sinuhun Pakubuwana III, Pelopor Perdamaian Dunia dari Surakarta

Fajar Misbakhul Munir
Fajar Misbakhul Munir
0 Komentar
Sinuhun Pakubuwana III, Pelopor Perdamaian Dunia dari Surakarta
Siti Hinggil Utara Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Pict by: EyeEm)

            Sejak naik tahta pada tanggal 15 Desember 1749 Sinuhun Pakubuwana III mulai melakukan mesu budi atau asketisme intelektual. Perjalanan panjang peradaban Jawa dibaca dan direnungkan sebagai bahan refleksi. Kebijakan pemerintahan dan kenegaraan didasarkan pada referensi historis. Pengalaman empiris sejarah ini penting untuk dipelajari, sehingga policy yg dibuat menjadi lebih berkualitas.

Sri Susuhunan Pakubuwana III
Sri Susuhunan Pakubuwana III

            Sinuhun Pakubuwana III lahir pada Sabtu Wage, 26 Ruwah atau 24 Pebruari 1732. Beliau suka membaca beragam literatur. Pustaka klasik merupakan sumber informasi yang berharga untuk mengungkapkan kehidupan masa silam. Kitab-kitab Mahabarata, Ramayana dan Adiparwa dibaca oleh Sunan Pakubuwana III. Kemudian dilengkapi dengan karya sastra tinggalan pujangga Jawa. Empu Kanwa, Empu Sedah, Empu Panuluh, Empu Darmaja, Empu Manoguna, Empu Triguna, Empu Tanakung, Empu Tantular, Empu Prapanca merupakan cendikiawan yang mencerahkan pikiran Kanjeng Sunan Pakubuwana III. Imajinasi estetis memperkaya wawasan Sri Baginda Raja.

            Studi komparatif antar teks kesastraan tersebut telah menjelaskan plus minus setiap jaman. Masing-masing negeri, pemerintahan dan raja memiliki sistem yang berlainan. Dari kerajaan Mataram Hinud yang mewariskan Candi Prambanan serta ephos Ramayana terdapat sisi positif yang perlu diadopsi. Wangsa Syailendra yang beragama Buddha meninggalkan mahakarya Candi Borobudhur. Lantas berpindah ke Jawa Timur muncullah otoritas Medang, Kahuripan, Daha, Jenggala, Singasari dan Majapahit. Pakubuwana mencermati sejarah.

            Para pakar politik, sejarah, sosiologi, antropologi, psikologi, filsafat, bahasa, sastra, hukum, fisika, kimia, kedokteran, farmasi dan teknik diundang oleh Pakubuwana III. Mereka diberi fasilitas untuk sarasehan, diskusi, dialog, musyawarah, rembugan guna merumuskan kebijakan yang tepat. Pemerintahan Mataram yang beribukota di Surakarta sedang punya problem. Persoalan kenegaraan itu memerlukan penyelesaian yang sempurna dan tuntas. Peta permasalahan, latar belakang, tinjauan pustaka, deskripsi, analisis, metode, pembahasan dan kesimpulan disusun dengan standar ilmiah dan akademis.

Baca Juga

            Seminar digelar beberapa kali. Semua peserta bebas bicara, tanpa seleksi, tanpa tekanan, tanpa pesanan. Diskusi terbatas dilakukan pertama kali pada tanggal 24 Maret 1753 di Desa Candi, Ampel, Boyolali. Di sana terdapat villa Kraton Mataram yang disebut Pesanggrahan Madusita. Selama empat hari mereka berdebat. Suasana keras dan panas. Tapi Cuma sebatas wacana. Di luar sidang mereka tetap bersahabat santai sambil minum kopi. Di bawah kaki Gunung Merbabu tersebut Sunan Pakubuwana III membuat kesimpulan atas permasalahan terumus. Diskusi awal ini menarik perhatian. Segera diatur pertemuan kedua. Tempat yang dipilih adalah Pesanggrahan Deles, Kemalang, Klaten. Hawanya sejuk, di tempat yang asri ini Sinuhun Pakubuwana III membaca semua kitab Jawa kuna. Sarasehan kedua diadakna pada tanggal 20 Juli 1753. Hadir dalam pertemuan ini adalah Pangeran Wijil Kadilangu, Pangeran Aneh, Ngabehi Sastrawijaya dan Kyai Yasadipura I.

Pesanggrahan Langenharja yang berada di tepi Bengawan Solo dijadikan tempat pertemuan ketiga. Konsep semakin matang, data, fakta, analisa, dialog oleh tim ahli yang berasal dari berbagai bidang. Hasil konsep itu dibicarakan lagi dengan ditambah data mutakhir. Diskusi pada tangaal 24 April 1754 menghasilkan pemikiran yang semakin maju. Para peserta semakin menyadari dan mengerti duduk persoalan. Cara mengatasi dan merampungkan permasalahan diulas sistematis, integral dan komprehensif. Para pakar Kraton, LSM dan aktivis datang dengan data hasil riset yang valid. Mereka merasa bertanggung jawab atas perkembangan peradaban pada masa depan.

Semangat untuk mendapatkan problem solving karena didasari pengetahuan yang rinci dan mencukupi. Atas usul Raden Tumenggung Widyo Pratignyo, sarasehan dilanjutkan pada tanggal 5 September 1754 di daerah Sambungmacan, Sragen. Konsumsi, transportasi dan akomodasi dibiayai sendiri. Beliau menjabat Wedana yang mumpuni dan disegani. Kebetulan Raden Tumenggung Widyo Pratignyo mempunyai lembaga pendidikan di Kota Sragen. Di sana terbiasa dialog dan diskusi ilmu pengetahuan sedangkan Nyi Tumenggung Widyo Pratignyo adalah pengusaha mebel yang terkenal. Ekspor impor meja, kursi, almari, amben, pintu, jendela dan barang-barang berukir melalui pelabuhan Rembang. Nyi Tumenggung Widyo Pratignyo mempekerjakan juru ukir dan Jepara yang mahir kayu. Relasi Tumenggung Widyo Pratignyo dari pesisir utara terdiri dari pengusaha, birokrat, kepala pelabuhan, bos bandar dan pedagang kayu.

Riset dan pengetahuan pokok tentang problematika telah dikuasai oleh Sinuhun Pakubuwana III. Tim ahli yang dibentuk merupakan Lembaga Pengetahuan Keraton (LPK) yang ahli dan mumpuni. Analisa yang dibuat sungguh teapat karena berbasis data. Publik memberi kepercayaan penuh. Lembaga Pengetahuan Keraton terdiri dari Kyai Yasadipura, Panjang Mas, Panjang Swara, Pangeran Karanggayam, Ki Ageng Karanglo dan Tumenggung Sastronagoro. Data lapangan, dokumentasi, historis dan referensi klasik berlimpah ruah. Lalu dibuat klarifikasi, deskripsi dan intepretasi. Benda-benda arkeologi yang berwujud candi, petilasan dan prasasti dipelajari. Tumbuh-tumbuhan dan hewan dicatat. Geografi daerah dibuat guna memudahkan distribusi. Perpustakaan dibngun untuk penyebaran ilmu pengetahuan.

Kitab Jawa klasik dialih aksara, dibaca, disadur dan diterjemahkan. Kitab Arjuna Wiwaha, Baratayuda, Gathutkaca Sraya, Kresnayana, Asmaradhana, Pararaton, Negarakertagama, Arjuna Wijaya, Kidung Ranggalawe, Sutasoma, Suluk, Dewaruci, Menak, Panji, Kakawin dan Macapat dijadikan obyek kajian. Perpustakaan Widya Pustaka diberi fasilitas dan tenaga yang melimpah. Gaji cukup, prestise dan bergengsi. Pegawai perpustakaan makmur dan mujur. Mereka rajin membaca, membuat sinopsis, catatan ringkas, katalog, saduran, terjemahan, interpretasi dan penyalinan. Ilmu berkembang maju.

Ketemulah kitab Kakawin Arjuna Wiwaha karya Empu Kanwa. Kitab ini dihimpun pada jaman kerajaan Kahuripan. Rajanya bernama Prabu Airlangga. Ajaran keprajuritan, nasionalisme, kebajikan, keluhuran, keagungan, kewibawaan dan perdamaian banyakditemukan dalam Kakawin Arjuna Wiwaha. Sunuhun Pakubuwana III tertarik dan membaca sepenuh hati. Empu Kanwa diperintah Airlangga untuk menyusun kitab Kakawin Arjuna Wiwaha punya maksud luhur. Disamping mengembangkan estetika pewayangan, kitab Arjuna Wiwaha membawa misi perdamaian. Kraton Kahuripan, Singosari, Daha, Kediri, Jenggala dan Medang diberi otonomi dan otoritas yang adil, terbuka dan jujur. Inilah inspirasi Sunan Pakubuwana III untuk meniru kebijakan Prabu Airlangga.

Pembagian wilayah dengan teritorial otonom adalah solusi untuk Mataram, agar tercapai perdamaian abadi dan keadilan sosial. Sentralisasi kekuasaan Cuma memanjakan nafsu keserakahan. Orang lain tidak boleh madhani atau menyamai. Dirinhya berubah menjadi orang yang paling hebat. Itu mesti dihindari. Perdamaian diperoleh dengan membagi peran dan eksistensi, biar semua pihak bisa hidup wajar.

Diutuslah para diplomat untuk mendekati barisan oposisi Mataram. Personal approach yang dilakukan tim diplomasi sungguh menguasai dalam bidang psikologi, perdamaian, civil society, ekonomi, hukum tata negara dan otonomi daerah. Secara berkala tim diplomasi melaporkan hasil kerja pada Sunan Pakubuwana III. Usaha damai mendapat sokongan dari berbagai pihak. Pengusaha, pengamat dan palu bisnis. Seolah-olah mereka punya harapan untuk menyongsong masa depan yang penuh damai dan ayem tentrem.

Juru runding mula-mula mencari informasi tentang pola pikir Pangeran Mangkubumi. Sunan Pakubuwana III percaya bahwa pamannya itu punya niat baik untuk membangun Mataram. Soal perbedaan politik dinaggap sebagai barang biasa. Dan wajar. Juru runding pelan-pelan melakukn dialog tentang beragam masalah dan solusi. Dalam aktivitas dialog kedua belah pihak tidak kaku memegang egoisme. Sita-sitanya saling memberi dan salng menerima. Tidak boleh menang­-menangan. Prinsip saling menghormati dipegang teguh. Dengan semangat kekeluargaan, Sunan Pakubuwana III menyetujui perjanjian Giyanti. Pangeran Mangkubumi diberi otoritas di Yogyakarta dengan sebutan Sultan Hamengkubuwono I. Perjanjian Giyanti ditanda tangani Sunan pakubuwana III pada hari Kamis Kliwon 29 Rabiul Akir 1680 atau tanggal 13 Pebruari 1755. Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengkubuwana I mendapat anugerah besar dari Sunuhun Pakubuwana III.

Tokoh politik dan militer yang perlu disantuni adalah raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa. Beliau berjuang selama 15 tahun. Sunan Pakubuwana III mengirim surat kepada Pangeran Sambernyawa, yang merupakan kakak sepupu. Dengan hati tulus, rendah hati, sopan, terbuka, logis, sportif, jujur, bermartabat, bersahabat dan enak isi surat Pakubuwana III amat menyentuh sanubari Pangeran Sambernyawa. Bahkan sang kakak sampai meneteskan air mata. Kutipan surat Pakubuwana III untuk Raden Mas Said demikian:

‘Sasampunipun taklim kula kakangmas Pangeran Adipati Mangkunegara dhumateng sampeyan.

Wiyosipun, satampining serat kula punika kakangmas kula aturi dhateng ing Surakarta. Salajengipun amomonga ing sarira kula, amargi anggen kula jumeneng Nata rumaos kijenan temah kontit. Jalaran rama Pangeran Mangkubumi samangke sampun jumeneng Sultan wonten ing Ngayogyakarta. Dados boten wonten malih ingkang prayogi momong sarira kula kajawi Panjenganipun kakangmas. Manawi kakangmas sampun karsa pinanggih kaliyan kula, punapa ingkang kakarsakaken, kula badhe mituruti. Punapa malih bab siti ing Mataram, sarta ing dhusun Sala ingkang sampun wonten astanipun kakangmas, inggih kula lulusaken dados kagunganipun kakangmas.’

Surakarta, 17 April 1756

Pakubuwana III

Susunan kata surat tersebut tersebut amat cantik. Hati haru, trenyuh dan kagum pada kemuliaan Sinuhun Pakubuwana III. Beliau menganggap raja punya sikap berbudi bawa laksana. Tidak ada alasan untuk menolak ajakan damai damai Sri Baginda Raja. Sunan Pakubuwana III mengajak bicara empat mata. Catur Netra dalam dialog ini meyakinkan Pangeran Sambernyawa untuk pulang ke istana Surakarta.

Sinuhun Pakubuwana III memberi jaminan dalam bentuk kontrak politik yang terkenal dengan Perjanjian Salatiga. Ditanda tangani oleh Pakubuwana III pada hari Sabtu Legi, 5 Jumadil Awal atau 17 Maret 1757. Perjanjian ini mengikat kedua belah pihak. Pangeran Sambernyawa diberi ganjaran bumi Karanganyar, Wonogiri dan Pacitan. Hadiah ini berlaku turun-temurun. Pangeran Sambernyawa bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I. Beliau bertahta di Pura Mangkunegaran dengan otoritas Kadipaten Otonom. Kali ini Sunan Pakubuwana III tampil sebagai juru damai. Problematika Mataram yang ruwet diselesaikan dengan damai. Beliau menjauhi sikap kekerasan. Tidak ada korban jiwa. Semua berjalan aman dan selamat.

Prestasi damai ini berbuah salut dan rasa hormat dari Sultan Hamengkubuwana I dan KGPAA Mangkunegara I. Tindakan Pakubuwana III tulus ikhlas. Jauh dari mengejar popularitas. Beliau wafat pada hari Jumat Wage, 25 Besar atau 26 September 1788. Namun demikian perlu dicatat bahwa sikap Sunan Pakubuwana III tegas dalam menurunkan tradisi leluhur. Kotagede, Imogiri dan Ngawen menjadi hak penuh Keraton Surakarta. Sejarah mencatat bahwa Pakubuwana III satu-satunya raja yang bersedia power sharing. Pengetahuannya yang luas dan dalam terhadap polemologi atau ilmu perdamaian menghasilkan putusan yang tepat, terhormat serta bermartabat. Lumrah sekali jika makam Sunan Pakubuwana III terdapat julukan Sunan Suwarga. Sebuah gelar penghormatan yang semestinya diterima.

Aktivis perdamaian perlu mengingat strategi damai yang telah dicontohkan oleh Sunan Pakubuwana III. Bila perlu diusulkan mendapat piagam NOBEL. Penghargaan tertinggi NOBEL hendaknya diusulkan oleh masyarakat Indonesia untuk Sunan Pakubuwana III. Beliau telah menjadi contoh eksekutif, raja, priyayi, bangsawan dan ilmuwan yang mewariskan nilai perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Sumber: Dr. Purwadi M., Hum. dan Dra. Endang Waryanti, M., Pd. 2015. Perjanjian Giyanti. Bantul: Laras Media Prima.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG FAJAR MISBAKHUL MUNIR

Saat ini saya sedang menempuh pendidikan Desain Interior, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia, Surakarta. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara