Lupa Sandi?

Wayang Tertua di Indonesia Bukan Wayang Kulit

Ahda Fariha
Ahda Fariha
0 Komentar
Wayang Tertua di Indonesia Bukan Wayang Kulit

Orang Indonesia pasti sudah mengenal kesenian teater wayang khas Indonesia seperti wayang kulit, wayang orang atau wayang golek. Bahkan kesenian teater tradisional Indonesia yang populer seperti wayang kulit pun telah terdaftar dan tercatat dalam UNESCO sebagai warisan dunia.

Rupanya sebelum jauh adanya wayang kulit, Indonesia memiliki jenis wayang lain yang ternyata sudah lahir dan keberadaannya hampir terlupakan. Dikenal dengan sebutan Wayang Beber, salah satu kesenian yang dianggap paling tua dalam sejarah wayang di Indonesia.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Biasanya menceritakan tokoh dalam Mahabharata dan Ramayana ©wayangbeberproject

Menurut bahasa Jawa, kata beber sendiri berarti njentrehke atau dalam bahasa Indonesia berarti membentangkan. Dalam kesenian Wayang Beber kita dapat menjumpai karakter-karakter wayang yang dilukiskan pada selembar kain atau kertas yang tersusun dari adegan demi adegan yang dimainkan oleh dalang dengan cara membeberkannya atau melisankan lukisan cerita yang ada di kain kepada penonton.

Sejarah Wayang Beber

Baca Juga

Konon Wayang Beber sudah muncul dan berkembang di daerah Jawa pada masa kerajaan Majapahit. Hingga salah satu Wayang Beber pernah ditemukan di daerah Pacitan, Donorojo yang disebut-sebut sebagai yang tertua.

Menurut Kitab Sastro Mirudo, Wayang Beber dibuat pada tahun 1283 oleh Condro Sengkolo, Gunaning Bujonggo Nembah Ing Dewo (1283). Kemudian pada akhirnyapembuatan wayang dilanjutkan oleh Putra Prabu Bhre Wijaya, Raden Sungging Prabangkara.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Bentuknya dulu berupa kain yang digulung ©wayangbeberproject

Ketika masuknya agama Islam ke Jawa oleh para wali di antaranya Sunan Kalijaga, kesenian Wayang Beber ini mengalami modifikasi karena dalam ajaran Islam mengharamkan bentuk makhluk hidup, patung dan Pusaka Hyang Kalimusada.

Sehingga pada saat itu wayang hasil modifikasi para wali ini digunakan untuk menyebarkan agama Islam ke Pulau Jawa dalam bentuk wayang kulit seperti yang kita kenal sekarang ini.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
© wikiwand

Tradisi asli Wayang Beber masih dapat kita jumpai saat ini. Namun seiring berjalannya waktu, perkembangan kesenian Wayang Beber tidak hanya dengan menggunakan tradisi lama namun juga ditambah unsur lainnya sehingga menciptakan Wayang Beber dengan bentuk kontemporer.

Tidak Sembarang Dimainkan

Pertunjukan Wayang Beber sebenarnya tidak berbeda dengan pertunjukan wayang lainnya. Yang membedakannya adalah pada bentuk wayang, cerita dan komponen yang ada dalam pertunjukkan. Biasanya dalam Wayang Beber terdapat tiga komponen, antara lain dalang yang menyajikan cerita, gulungan yang menggambarkan adegan, dan musik tradisional yang menjadi pengiring dalang bercerita.

Pada zaman dahulu ceritanya lebih mengangkat cerita klasik dan roman tokoh-tokoh wayang Mahabharata dan Ramayana. Namun seiring perkembangan zaman, Wayang Beber bertransformasi ke dalam seni teater modern yang juga mengangkat cerita masa kini.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Beberapa komponen yang tidak lepas dari kesenian Wayang Beber ©kyumailes

Konon pertunjukan Wayang Beber ini dikeramatkan dan tidak sembarangan untuk dipentaskan sehingga harus melalui ritual tertentu. Biasanya dipertunjukkan pada kegiatan seperti, menolak hama, bersih desa, ruwat, dan proses kehidupan manusia (pernikahan, kelahiran, khitanan).

Pertunjukan Wayang Beber sekarang ini memang jarang ditemui dan hanya beberapa kalangan yang masih memainkannya di daerah tertentu di Pulau Jawa seperti di daerah Pacitan dan Gunungkidul, Yogyakarta.

Diangkat Rumah Produksi Film Kroasia

Meskipun tidak banyak yang mengenalnya, namun Wayang Beber memiliki nilai dan daya tarik tersendiri. Berkat daya tariknya lah, sebuah rumah produksi Luma Film di Zagreb, Kroasia sedang melakukan sebuah proyek Wayang Beber.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
kedua peneliti asal Kroasia yang tertarik pada Wayang Beber ©radarjogja

Tea Skrinjaric dan Marina Pretkovic, kedua perempuan Kroasia ini ternyata sudah tertarik dengan kesenian Wayang Beber sejak pertama kali datang ke Indonesia pada 2013 lalu. Selama Juli 2016 hingga Februari 2017 keduanya tengah melakukan penelitian yang rencananya akan mereka dokumentasikan dan dibuat dalam sebuah film dokumenter.

“Wayang Beber sering dinilai sebagai bentuk budaya menghilang dan kami menganggap itu menjadi sangat penting untuk mendokumentasikan sejarah, budaya dan artistik dan perannya dalam masyarakat setempat dan dalam yang lebih luas, sebelum terlambat,” tulis Luma Film dalam blog mereka, wayangbeberproject.wordpress.com.

Keduanya memiliki tujuan dalam membuat film dokumenter Wayang beber on Java, antara lain untuk mendorong penonton agar lebih merenungkan pentingnya melestarikan budaya dan hasilnya juga dapat diterapkan dalam konteks kehidupan pribadi penonton lokal maupun luar negeri.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Wayang Beber saat ini dapat dijumpai dalam bentuk kontemporer dengan balutan cerita masa kini ©waybemetro

Selain itu dokumentasi etnografis buatannya juga memiliki tujuan untuk mempromosikan secara lokal maupun internasional akan sebuah tradisi yang mulai memudar dan memberikan perlindungan terhadap seni dan budaya tradisional Jawa. Untuk memperkuat penelitiannya, keduanya juga melakukan melakukan wawancara ke sejumlah seniman Wayang Beber yang masih tersisa di daerah Pacitan dan Yogyakarta.

Meskipun sekarang kurang populer, namun dalam perjalanannya Wayang Beber menyimpan sejarah yang memiliki nilai historis tinggi dan mengilhami berbagai jenis kesenian Jawa lainnya.


Sumber : diolah dari berbagai sumber

Pilih BanggaBangga77%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang8%
Pilih Tak PeduliTak Peduli4%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau12%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AHDA FARIHA

art - poetry ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie