Sejarah panjang teknologi satelit di Republik Indonesia tidak bisa terlepas dari keberanian para pemimpin dan ilmuwan bangsa di tahun 60-an. Sebab dimasa tersebut, teknologi satelit domestik, merupakan hal yang belum lumrah karena berbiaya sangat tinggi. Sehingga mengakibatkan kontroversi di dalam negeri.

Perjuangan mewujudkan satelit pertama milik RI bermula dari kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) berdasarkan pidato Prof. Dr. Ing. Iskandar Alisjahbana, seorang guru besar bidang telekomunikasi yang menyampaikan gagasan pentingnya teknologi satelit bagi Indonesia. Berikut adalah gagasan beliau seperti dikutip dari buku Satelit Telkom 3S.

“Telekomunikasi melalui satelit buatan manusia, membuka kemungkinan jang khas, di dalam hubungan antara dua tempat atau pun penyebarluasan informasi dari suatu tempat ke banjak tempat. Pada prinsipnja telekomunikasi melalui satelit tidak berbeda dalam kapasitas dan tjara penjaluran informasi dengan tjara-tjara transmisi jang pada waktu itu sedang dibangun oleh PN Telekomunikasi dari Djakarta sampai Surabaja. Beda satu-satunja jang chas dan sangat penting adalah kemungkinan menghubungi dua tempat jang djauh dan dekat melampaui lautan dan hutan belantara, dengan ongkos dan faktor kesulitan jang sama.
Dengan telekomunikasi melalui satelit, ongkos hubungan antara dua tempat jang djaraknya 200 kilometer sama dengan ongkos hubungan antara dua tempat jang djaraknya 5000 kilometer. Penjaluran televisi ke seluruh kepulauan Indonesia atau pun ke seluruh dunia, jang sampai pada waktu ini belum ada penjelesaian, dengan berhasilnja telekomunikasi melalui satelit sudah tidak merupakan persoalan teknologi lagi. ….”

Pidato tersebut berhasil memantik perbincangan dan berbagai dialog tentang satelit komunikasi. Baik dari kalangan akademisi, pemerintahan maupun Perumtel (nama Telkom saat itu). Pihak yang kontra dengan gagasan satelit ini mengungkapkan bahwa Indoensia belum saatnya untuk memiliki barang mewah semacam satelit, karena secara ekonomi, Indonesia dianggap belum mampu.

Pertimbangan lainnya adalah dari segi kemampuan mengelola, Indonesia terbilang baru dalam teknologi satelit. Tercatat pada masa 60an hanya ada dua negara yang meluncurkan dan mengelola satelit, yakni Uni Soviet dan Amerika Serikat.

Namun, dari sisi pemerintah RI lewat Dirjen Postel Mayjen Soehardjono, bergeming. Di awal April 1974, usai Amerika Serikat berhasil meluncurkan statelit geostasioner Westar 1, secara resmi pemerintah mengumumkan rencana pembangunan Sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD).

Langkah pemerintah ini tidak kalah kontroversi seperti di masa pidato Prof. Iskandar, pernyataan resmi tersebut tetap membuat dialog pro dan kontra terjadi. Namun pemerintah melakukan langkah dengan mengumpulkan pada akademisi dan ahli di bidang satelit. Tercatat, kota Bandung dan Jakarta sempat menjadi tuan rumah simposium para pakar satelit baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Di masa itu, Kepala Direktorat Telekomunikasi Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi, Ir.Yahya Sutanggar Tengker juga mengungkapkan bahwa adalah wajar jika Indonesia menggunakan SKSD sebagai pembangunan jaringan komunikasi jarak jauh.

“Kebutuhan yang meningkat untuk hubungan komunikasi jarak jauh akibat pesatnya perkembangan ekonomi negara hanya dapat dilayani dengan cepat oleh suatu sistemkomunikasi satelit domestik,” kata Sutanggar dalam salah satu simposium.

Hingga akhirnya, berdasarkan hasil simposium-simposium yang telah dilakukan. Niat pemerintah menjadi bulat bahwa memiliki sistem komunikasi satelit sendiri merupakan pilihan yang tepat. Namun niat saja rupanya tidaklah cukup, permasalahan berikutnya adalah bagaimana biaya yang dibutuhkan untuk membangun satelit tersebut. Padahal Indonesia saat itu tidak memiliki dana yang cukup. Perumtel sendiri sebagai pihak yang diproyeksikan akan mengelola satelit pertama milik Indonesia juga tidak mampu.

Singkat cerita, permasalahan dana untuk membangun satelit terselesaikan berkat pemerintah yang mengeluarkan kredit dengan persyaratan yang lebih tinggi dari pinjaman lumak namun tetap lebih rendah dari pinjaman komersial saat itu. Sehingga menarik perhatian berbagai bank seperti Bank EXIM Washington dan bank-bank yang tergabung dalam Konsorsium bank komersial.

Satelit Anik A milik Kanada, teknologi yang sama juga digunakan oleh Palapa A1 (Foto: ieee.ca)
Satelit Anik A milik Kanada, teknologi yang sama juga digunakan oleh Palapa A1 (Foto: ieee.ca)

Dari dana yang terkumpul tersebut, Indonesia dengan bekerja sama dengan 3 perusahaan asal Amerika Serikat menyepakati berbagai hal seperti pembangunan 2 satelit komunikasi, satu stasiun pengendali utama di Cibinong Bogor, 5 stasiun lintasan utama dan 4 lintasan tipis di Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara yang dilakukan oleh Hughes Aircraft Company. Sedangkan 7 stasiun lintasan utama dan 6 stasiun lintasan tipis di Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi dibangun oleh Aeronutronics Oversas System International (AOSI). Dan pembangunan 6 stasiun lintasan utama dan 9 stasiun lintasan tipis di Sulawesi, Maluku dan Irian Jaya dilakukan oleh International Telephione & Telegraph Company (ITT).

Pembangunan satelit pertama pun akhirnya selesai pada awal bulan Februari tahun 1975. Satelit ini diberi nama Palapa A1 oleh Presiden ke-2 RI yang terinspirasi kisah sumpah Palapa yang dicetuskan oleh panglima Majapahit, Gajah Mada. Satelit Palapa A1 yang memiliki 12 transponder mampu menjangkau seluruh wilayah Indonesia dan beberapa negara tetangga di Asia Tenggara seperti Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand.

Satelit Palapa A1 akhirnya berhasil diluncurkan pada 8 Juli 1976 di Kennedy Space center, Florida, Amerika Serikat oleh roket Delta-2914. Sedangkan satelit kedua Palapa A2 berhasil diluncurkan satu tahun kemudian pada 10 Maret 1977 dengan roket yang sama. Sehingga secara resmi, Indonesia menjadi negara ketiga yang menjadi operator satelit komunikasi setelah Kanada dan Amerika Serikat dan negara ketujuh yang memiliki satelit komunikasi.

Sejak saat itulah kisah perjalanan satelit Merah Putih bermula.

Kesuksesan-kesuksesan satelit Indonesia terus terjadi. Hingga kemudian satelit generasi ke-10, Telkom-3 gagal mencapai orbit akibat kegagalan prosedur yang terjadi pada proses tahap ketiga modul Briz-M dari roket Proton-M .

Satelit Telkom-3 dibuat oleh ISS Reshetnev, Rusia dan sejatinya akan beroperasi untuk kebutuhan komunikasi dan keamanan negara dengan 36 transponder C-Band dan 6 transponder Ku-Band. Satelit terbesar yang pernah dimiliki oleh Telkom ini diluncurkan dari Baikonur Cosmodrome di Kazakhstan pada 6 Agustus 2012. Kegaalan ini memaksa Telkom Indonesia sebagai operator harus menyewa transponder dari GE Sat (Amerika Serikat), APStar (Hong Kong), dan JCSat (Jepang).

Roket Proton-M yang membawa Satelit Telkom-3 (Foto: Krunichev/spaceflight101.com)
Roket Proton-M yang membawa Satelit Telkom-3 (Foto: Krunichev/spaceflight101.com)

Dua tahun kemudian, Telkom Indonesia memutuskan untuk kembali membuat satelit bersama dengan pembuat satelit Telkom-3 Thales Alenia Space dari Perancis. Satelit pengganti tersebut bernama satelit Telkom-3S (T3S) yang akan diluncurkan dari stasiun peluncuran Kourou di negara Guyana Perancis dengan roket Ariane 5 ECA milik Arianespace.

Satelit Telkom-3S memiliki 24 perangkat transponder jenis C dan 8 transponder C-band tambahan dan 10 transponder Ku-band. Transponder C-band akan menjangkau wilayah Indonesia dan Asia tenggara, sedangkan transponder C tambahan akan menjangkau sampai ke Malaysia. Untuk transponder Ku akan eksklusif digunakan menjangkau wilayah Indonesia.

Baca juga: [Foto] Momen Menakjubkan Pemasangan Satelit Telkom 3S Pada Roket Ariane 5

Berkat satelit T3S nantinya masyarakat Indonesia akan bisa menerima siaran televisi berkualitas tinggi, broadband internet yang lebih luas jangkauannya, serta mampu menerima sistem komunikasi VSAT di seluruh Asia Tenggara baik di laut maupun di daerah terpencil untuk 15 tahun kedepan.

Sebagaimana dikutip dari detikInet, satelit Telkom 3S ternyata sangat dibutuhkan. Karena Indonesia saat ini kekurangan transponder satelit untuk memenuhi kebutuhan telekomunikasi, baik untuk keperluan pemerintahana ataupun maupun industri. Setidaknya kebutuhan transponder di Indonesia saat ini berjumlah 300 transponder, sedangkan di Indonesia baru terdapat 160 transponder, sehingga sisa kebutuhan tersebut dipenuhi dengan melakukan penyewaan transponder dari satelit luar negeri.

Berdasarkan rilis Telkom Indonesia, lewat satelit ini diharapkan akan terjadi peningkatan kecerdasan bangsa lewat kemudahan akses informasi secara global di Indonesia. Sebab selama ini dua per tiga wilayah Indonesia belum terjangkau sistem komunikasi terestrial. Sistem komunikasi satelit dianggap sebagai solusi yang tepat untuk mengurai kesenjangan telekomunikasi dan informatika di Indonesia yang mampu menjangkau area terluar, terdepan, dan terpencil (3T). Oleh karena itu, seperti satelit-satelit pendahulunya, satelit Telkom digadang-gadang sebagai satelit pemersatu bangsa.

Rencananya, satelit T3S akan diluncurkan 15 Februari 2017 pukul 04.39 WIB dan menempati orbit 118 derajat setelah mengalami penundaan pada tahun 2016 yang lalu. Mari berharap satelit kebanggaan bangsa ini dapat berhasil mencapai orbit yang ditentukan. Sebagai tanda kiprah Telkom Indonesia untuk Indonesia di tahun yang ke-40.

Live stream peluncuran Satelit Telkom 3S

Sumber :

Buku Satelit Telkom 3S
DetikInet
NasaSpaceFlight
SpaceFlight101

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu