Lupa Sandi?

Kenapa Indonesia Menggunakan Jalur Kiri di Jalan Raya?

Luqman Saputro
Luqman Saputro
0 Komentar
Kenapa Indonesia Menggunakan Jalur Kiri di Jalan Raya?

Di film-film terutama film barat, kalau kita cermati ketika ada adegan mengendarai mobil posisi setir seringkali berada di sebelah kiri. Pemandangan ini jelas berbeda dengan apa yang terjadi di Indonesia karena kendali setir mobil semuanya berada di sebelah kanan dengan posisi kendaraan selalu berada di sebelah kiri. Pelajaran ini juga berulangkali disebutkan oleh guru-guru kita waktu sekolah, bahwa kalau berjalan kaki posisi kita haruslah di sebelah kiri. Sekarang coba kita pikirkan sejenak, mengapa jalan raya kita menggunakan jalur kiri?

Peta dunia yang menunjukkan jalur berkendara yang digunakan di seluruh dunia. Indonesia adalah salah satu negara yang berkendara di jalur kiri | drivingdirectionsandmaps.com
Peta dunia yang menunjukkan jalur berkendara yang digunakan di seluruh dunia. Indonesia adalah salah satu negara yang berkendara di jalur kiri | drivingdirectionsandmaps.com

Sejarah Penggunaan Jalur Kiri

Beberapa abad lalu, sebenarnya orang-orang menggunakan jalan raya di jalur sebelah kiri. Menurut Charles Anderson dalam buku berjudul Puzzles and Essays from the Exchange Essays, prajurit Yunani kuno, Mesir kuno, dan Romawi ketika berjalan selalu memilih jalur kiri. Kebiasaan pada zaman Sebelum Masehi tersebut berlanjut hingga abad pertengahan, ketika sebagian besar pengguna jalan adalah kaum kesatria feodal serta orang-orang yang bersenjata di Eropa.

Ilustrasi Kesatria Eropa Abad Pertengahan. Kebanyakan kesatria Eropa menggunakan tangan kanan untuk memegang pedang sehingga membuat mereka berkendara di jalur kiri | Paul Mercuri (via Wikimedia Commons)
Ilustrasi Kesatria Eropa abad pertengahan. Kebanyakan kesatria Eropa menggunakan tangan kanan untuk memegang pedang sehingga membuat mereka berkendara di jalur kiri © Paul Mercuri (via Wikimedia Commons)

Para kesatria Eropa biasa menggunakan jalur kiri karena sebagian besar dari mereka terbiasa menggunakan tangan kanan. Penggunaan jalur kiri dirasa menguntungkan bagi mereka ketika menghadapi serangan di jalan karena tangan kanan mereka mampu mencabut pedang dan menyerang musuh yang berada di sebelah kanan mereka.

Baca Juga

Lebih lanjut, posisi sarung pedang (scabbard) yang dipasang di pinggang kiri kesatria juga berpengaruh. Karena penempatan sarung pedang di sebelah kiri, menunggangi dan turun dari kuda terasa lebih mudah dari sisi kiri kuda. Kegiatan tersebut lebih aman apabila dilakukan di sudut pinggir kiri jalan. Sehingga ketika berkendara, para kesatria berjalan di jalur kiri.

Namun kebiasaan ini mulai kehilangan dominasinya di Eropa pasca meletusnya Revolusi Perancis yang dimulai pada tahun 1789. Sebelum revolusi, para aristokrat di Perancis menggunakan jalur kiri dan memaksa rakyat jelata menggunakan jalur kanan. Namun perubahan kondisi sosial yang radikal pasca revolusi menyebabkan para aristokrat turut menggunakan jalur kanan untuk membaur dengan rakyat jelata. Penggunaan jalur kanan di Perancis mulai disahkan pada tahun 1794 oleh Napoleon Bonaparte.

Penggunaan Jalur Kiri di Indonesia

Nah, lantas bagaimana ceritanya Indonesia akhirnya menggunakan jalur kiri? Pada umumnya, segala norma dan nilai-nilai yang dipegang oleh bangsa Eropa akan diterapkan pada wilayah koloninya. Tidak terkecuali Belanda yang pernah menguasai sejumlah wilayah di dunia, termasuk Hindia Belanda Timur (yang kini menjadi Indonesia). Semenjak kedatangan Belanda pada tahun 1596, kebiasaan penggunaan jalur kiri di jalan juga turut di bawa ke Hindia Belanda, untuk menyesuaikan mobilitas orang-orang Belanda di tanah jajahan.

Namun kebiasaan jalur kiri di Belanda berakhir setelah Napoleon berhasil menguasai Belanda. Memang setelah Revolusi Perancis, Napoleon Bonaparte naik menjadi pemimpin baru Perancis dan mulai mencanangkan kebijakan yang ekspansif dan agresif di Eropa. Tidak hanya ekspansi wilayah, Napoleon juga menyebarkan kebiasaan jalur kanan ke seluruh penjuru Eropa. Bagi negara yang menentang Napoleon seperti Britania Raya, mereka menolak kebiasaan Perancis dan tetap setia berjalan di jalur kiri. Namun bagi negara yang berhasil dikuasai oleh Napoleon, mereka mau tidak mau harus turut berjalan di sebelah kanan. Salah satu negara yang mengalami perubahan jalur tersebut adalah Belanda.

Uniknya, perubahan Belanda yang menggunakan jalur kanan tidak diikuti oleh koloni-koloninya. Bahkan setelah Hindia Belanda sempat dipegang oleh Herman Williem Daendels yang notabene bawahan Napoleon. Meskipun Daendels mampu memimpin pembangunan Jalan Raya Pos (Jalan Anyer-Panarukan), namun ia tidak mengubah jalur berkendara di Hindia Belanda. Sehingga Hindia Belanda masih menggunakan jalur kiri.

Gubernur Jenderal Daendels. Meskipun ia memimpin pembangunan Jalan Raya Pos, namun ia tidak mengubah jalur berkendara di Hindia Belanda seperti Napoleon
Gubernur Jenderal Daendels. Meskipun ia memimpin pembangunan Jalan Raya Pos, namun ia tidak mengubah jalur berkendara di Hindia Belanda seperti Napoleon | Wikimedia Commons
Lukisan yang menggambarkan Jalan Raya Pos. Kini, Jalan Raya Pos menjadi bagian utama di dalam Jalur Pantura | Tropenmuseum
Lukisan yang menggambarkan Jalan Raya Pos. Kini, Jalan Raya Pos menjadi bagian utama di dalam Jalur Pantura © Tropenmuseum / CC BY-SA 3.0

Tidak adanya perubahan jalur menyebabkan Indonesia hingga kini masih tetap menggunakan jalur kiri. Bagi Indonesia, letak geografis yang terisolasi oleh bentang samudera menyebabkan perubahan jalur dirasa tidak diperlukan. Selain itu, negara-negara yang berbatasan darat langsung dengan Indonesia (Malaysia) sebagian besar merupakan bekas koloni Britania Raya yang notabene masih menggunakan jalur kiri. Sehingga kondisi tersebut menyebabkan Indonesia menjadi bagian dari 35% populasi di dunia yang masih konsisten menggunakan jalur kiri.

Meskipun demikian, ternyata ada jalan di Indonesia yang justru tidak menggunakan jalur kiri. Jalan Praban di Surabaya adalah contoh jalan yang tergolong berbeda. Jalan yang terletak di sebelah barat laut Gedung Siola (kini Museum Surabaya) justru menggunakan jalur kanan. Cukup melintas di Jalan Praban, kalian bisa mencoba sensasi melewati jalan raya di jalur kanan tanpa harus repot-repot ke luar negeri.

Jalan Praban di Surabaya. Berbeda dengan jalan raya di Indonesia pada umumnya, di Jalan Praban kita melintas di jalur kanan | Foto oleh Heru Waluyo CC BY-NC-ND 3.0
Jalan Praban di Surabaya. Berbeda dengan jalan raya di Indonesia pada umumnya, di Jalan Praban kita melintas di jalur kanan © Heru Waluyo / CC BY-NC-ND 3.0

Sumber : World Standards

Attribusi Gambar Utama: Coris (Wikipedia Indonesia) [CC BY-SA 3.0 or GFDL], via Wikimedia Commons

Pilih BanggaBangga25%
Pilih SedihSedih2%
Pilih SenangSenang13%
Pilih Tak PeduliTak Peduli8%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi10%
Pilih TerpukauTerpukau42%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG LUQMAN SAPUTRO

Mahasiswa biasa, penulis cerpen amatiran, (mendaku sebagai) arek Suroboyo, juru kunci di masroyalbecak.blogspot.com ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas