Lupa Sandi?

Padepokan Asmorobangun. Bukti Hidupnya Wayang Topeng Malangan

Candriko Pratisto
Candriko Pratisto
0 Komentar
Padepokan Asmorobangun. Bukti Hidupnya Wayang Topeng Malangan

Kalau kita jalan-jalan ke Malang biasanya yang diingat adalah Arema beserta maskotnya yang disebut Singo Edan. Atau yang sama dekatnya dengan ikon tersebut adalah buah apel. Atau yang sekarang sedang hits adalah kampung Jodipan. Itu semua benar! Tapi masih ingat tidak kalau Malang juga punya Tari Topeng Malangan?

Tari topeng merupakan pertunjukan penari yang memakai topeng dengan dialog yang dilakukan oleh seorang dalang. Tari topeng ini biasa disebut dengan wayang wong atau wayang topeng karena gerakan dan dialog antar tokoh tersebut atas instruksi dari seorang dalang. Pada umumnya, kisah yang diceritakan dalam pertunjukan tersebut diambil dari kisah Panji, Menak, Mahabarata, dan Ramayana. Zaman dulu tari topeng dipentaskan dalam prosesi yang bersifat sakral, sedangkan untuk saat ini lebih mengarah ke hiburan semata.

Tarian ini dulunya merupakan sarana yang diadakan pada acara keagamaan, terutama agama Hindu. Agama Hindu merupakan agama yang berkembang pesat di kerajaan Majapahit sehingga, dalam lingkup kerajaan Majapahit sendiri tarian topeng pun mengalami perkembangan yang cukup cepat.

Setelah runtuhnya kerajaan Majapahit, seorang abdi dalem keraton Majapahit bernama Surya Atmojo mengungsi ke daerah Malang. Saat di Malang ia mengabdi pada bupati pertama di kabupaten Malang sebagai Mantri Agung/Asisten Bupati. Sembari pengabdiannya pada bupati, ia juga memperkenalkan tari topeng yang ia dapatkan saat mengabdi untuk kerajaan Majapahit. Dari keterampilannya ini, bupati pun tertarik dengan tarian ini, sehingga pada akhirnya tarian topeng ini pun ditetapkan sebagai tarian khas Malang.

Apa sih yang membedakan topeng Malangan dengan topeng dari daerah lain?

Nah, bedanya, secara umum ada pada 15 elemen topeng yaitu mata, alis, hidung, bibir, kumis, jenggot, jambang, rambut, hiasan, urna, jamang, cula, sumping, isen-isen, dan juga warna. Masing-masing elemen ini lah yang akan membentuk tokoh khas Malangan seperti Panji Asmorobangun, Dewi Sekartaji, Raden Gunungsari, Bapang Jayasentika, dan Klana Sewandana.

Keterangan Gambar (© pemilik gambar Melany dan Aditya Nirwana dari  Universitas Ma Chung)
Keterangan Gambar (© pemilik gambar Melany dan Aditya Nirwana dari Universitas Ma Chung)

Melany dan Aditya Nirwana peneliti dari Universitas Ma Chung
Melany dan Aditya Nirwana peneliti dari Universitas Ma Chung

Melany dan Aditya Nirwana peneliti Universitas Ma Chung
Melany dan Aditya Nirwana peneliti Universitas Ma Chung

Warga Malang sudah lama mengenal kesenian ini dan dulunya juga merupakan tradisi yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Seiring dengan perkembangan zaman, kesenian ini sudah mulai banyak ditinggalkan oleh warga Malang. Hanya sebagian kecil yang meneruskan Topeng Malangan, itu saja karena orang tua mereka berprofesi sebagai penari Topeng Malangan atau orang tuanya bekerja sebagai pembuat topeng.

Menyikapi hal ini, beberapa seniman topeng membuat suatu tempat pendidikan tari. Seperti sanggar tari Asmorobangun yang berada di Dusun Kedungmonggo, Desa Karangpandan, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang.

Fitri Prawitasari dari Kompas.com
Fitri Prawitasari dari Kompas.com

Mbah Karimun atau biasa dipanggil Mbah Mun merupakan salah satu tokoh sanggar tari Asmorobangun. Mbah Mun telah banyak pengalaman di bidang tari. Atas kesadarannya untuk melestarikan tradisi, ia berusaha memberikan ilmunya kepada pemuda – pemudi yang tertarik belajar tari Topeng Malangan tanpa dipungut biaya. Sampai saat ini, sanggar kursus tari tersebut masih digelar. Kursus diadakan setiap hari minggu di sanggar. Biasanya diikuti oleh siswa SD dan SMP, Asmorobangun juga terbuka untuk masyarakat umum yang ingin belajar tari Topeng Malangan.

Sanggar wayang topeng ini juga mengadakan pertunjukan wayang topeng untuk bersih desa dan Suroan sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat. Tak hanya itu, sanggar juga menggelar pertunjukkan 36 hari sekali yaitu pada hari Senin Legi menurut penanggalan Jawa. Jadwal pertunjukan ini pun didasarkan untuk memperingati adat buka desa pertama kali. Biasanya pertunjukan berlangsung mulai pukul 19.00 sampai satu hingga dua jam kedepan.

Produksi topeng sendiri

Seiring berkembangnya padepokan juga memunculkan lapangan kerja baru seperti pengrajin-pengrajin topeng. Tokoh pengrajin yang sekaligus penerus sanggar adalah Bapak Handoyo dan istrinya Ibu Saini. Bapak Handoyo sebagai pengrajin topeng, memperoleh keterampilan membuat topeng dari ayahnya yaitu Mbah Mun.

Fitri Prawitasari dari Kompas.com
Fitri Prawitasari dari Kompas.com

Topeng-topeng yang diproduksi di Sanggar ini terbuat dari kayu Sengon. Sampai saat ini, ada sekitar 70-an karakter topeng. Jumlah ini mewakili tiga karakter utama yaitu, baik, jahat, dan lucu. Demikian juga dengan pemilihan warna topeng untuk menunjang kesan dari karakter yang dibuat. Misalnya saja karakter baik, diberi warna putih, untuk karakter jahat, diberi warna hitam.

Fitri Prawitasari dari Kompas.com
Fitri Prawitasari dari Kompas.com

Topeng-topeng ini tak hanya digunakan sebagai properti untuk pementasan, tetapi juga dijual sebagai cinderamata. Bahkan orang asing sering datang kemari lho untuk mendapatkan topeng malangan.

“Kalau orang Eropa sukanya tokoh-tokoh lucu, yang menghibur. Kalau orang Asia seperti Korea sukanya yang cantik-cantik,” ujar Saini dikutip dari Kompas.com.

Menurut Ibu Saini, saat ini sanggar juga bekerja sama dengan beberapa agen travel untuk menyelenggarakan paket wisata kesenian ke Asmorobangun. Pengunjung yang pergi kesana tak hanya disuguhkan penampilan tari Topeng Malangan kok, tetapi juga bisa belajar menari, dan membuat topeng.


Sumber : Jurnal Resital, dan kompas.com

Pilih BanggaBangga63%
Pilih SedihSedih6%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli13%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi19%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG CANDRIKO PRATISTO

Senang mengkhayal di tengah bercerita ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata