Lupa Sandi?

Ellyas Pical, Sang Legenda dan 5 Duel Legendarisnya

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Ellyas Pical, Sang Legenda dan 5 Duel Legendarisnya

Beberapa hari terakhir ini, kita mendengar kabar tentang kondisi mantan petinju juara dunia dari Indonesia, Ellyas Pical, yang dirawat di rumah sakit karena kondisinya yang melemah. Tentu kita semua berharap bahwa kondisinya akan segera membaik dan kembali bersama keluarganya dalam kondisi sehat walafiat. 

Masih terngiang dalam benak saya, ketika saya kecil dulu, pertandingan tinju Ellyas Pical dengan lawan-lawannya selalu dinantikan oleh seluruh rakyat Indonesia. Jalanan sepi, toko-toko tutup, sekedar untuk melihat siaran langsung TVRI saat Ellyas Pical melumat lawan-lawannya. 

Ellyas Pical, namanya sering disingkat dengan 'Elly', memang luar biasa di masanya. Anak bangsa ini diakui atau tidak, berhasil menyatukan hati jutaan rakyat Indonesia. Setidaknya di masa itu. Bagaimana istimewanya dia? 

DOK. BOLA Ellyas Pical saat merobohkan Mutsuo Watanabe dan mempertahankan gelar juara OPBF, 14 Oktober 1984 | Bola
DOK. BOLA Ellyas Pical saat merobohkan Mutsuo Watanabe dan mempertahankan gelar juara OPBF, 14 Oktober 1984 | Bola

Elly Pical merupakan orang Indonesia pertama yang bisa merebut titel dunia. Dia meraih sabuk juara super flyweight IBF pada 3 Mei 1985 dari petinju Korea Selatan, Chun Ju Do.

Baca Juga

Catatan karier Elly Pical adalah 20 kali menang, 11 di antaranya dengan KO, 1 kali seri, dan 5 kali kalah.

Ellyas Pical | Pustaka Digital Indonesia
Ellyas Pical | Pustaka Digital Indonesia

Berikut adalah 5 duel legendaris Elly Pical semasa aktif menjadi petinju:

19 Mei 1984 - Hee Yun Chun

Elly Pical dari Sasana Garuda Jaya Jakarta menjadi petinju pertama Indonesia yang berhasil meraih gelar juara OPBF kelas super terbang di Korea Selatan.

Dia menang angka mutlak atas petinju tuan rumah, Hee Yun Chun, di Stadion Mun Hua. Ini adalah untuk kali pertama ada petinju Indonesia yang menang di Korea.

"Saya ingin jadi juara dunia," kata Elly Pical waktu itu.

3 Mei 1985 - Chun Ju Do

Impian Elly Pical untuk menjadi juara dunia akhirnya terwujud tak sampai setahun setelah menjadi juara OPBF. Dia menjadi juara kelas superflyweight dengan mengalahkan Chun Ju Do.

Yel-yel "Hidup Ely, Viva Ely, Ely manise!" amat berkepanjangan di Istora Senayan dari sekitar 12.000 di Istora Senayan.

Sebuah straight kiri jarak pendek yang menerpa keras rahang kanan pemegang gelar Chun Ju Do, mengantar petinju berusia 25 tahun kelahiran Saparua, Maluku Utara, Ellyas Pical, menjadi juara dunia kelas super terbang Federasi Tinju Internasional (IBF).


5 Juli 1986 - Cesar Polanco

Elly Pical sempat kehilangan gelar juara setelah kalah dari petinju Rep. Dominika, Cesar Polanco. Namun, dia berkesempatan melakukan laga ulang di Jakarta, Sabtu (5/7/1986).

Ellyas Pical hanya memerlukan tiga ronde, tepatnya 8,5 menit, untuk merampas kembali mahkota juara dunia tinju kelas super terbang IBF dari Cesar Polanco.

"Perut kanan saya kena dua kali," kata Polanco.

"Pical masih memiliki pukulan yang keras," ujar James Stevenson, Wakil Ketua IBF, saat itu.

Pukulan keras, terutama lengan kiri, membuat Elly Pical dijuluki The Exocet, merujuk rudal buatan Perancis yang digunakan Argentina pada Perang Malvinas.

28 Februari 1987 - Khaosai Galaxy

 

Setelah kembali merebut sabuk juara dari Polanco, Elly Pical sempat mempertahankan gelar melawan petinju Korea Selatan, Dong Chun Lee. Lalu, datanglah juara dunia versi WBA asal Thailand, Khaosai Galaxy.

Gagah berani saja ternyata belum cukup. Dalam superfight di Stadion Utama Senayan, Ellyas Pical roboh KO di ronde ke-14 dengan pelipis kanan sobek sepanjang 2 cm.

Gelar juara dunia IBF kelas super terbang Elly Pical pun copot. WBA pun sudah menutup peluang dia untuk melakukan laga ulang melawan Galaxy.

"Galaxy memberi 5 ronde awal kepada Pical," tulis Syamsul Anwar, pengamat tinju yang juga mantan petinju nasional, ketika itu.

17 Oktober 1987 - Chang Tae Il

 

"Kembalikan sabuk kejuaraan padaku!" ucap Elly Pical dalam jumpa pers jelang pertarungan melawan juara bertahan tinju dunia kelas super terbang IBF, Chang Tae Ill, Jumat (16/10/1987).

Ellyas Pical memang tidak sebesar Muhammad Ali, dalam segala hal. Tidak tubuhnya, tidak kehebatannya di ring, dan tidak pula proses pencapaiannya. Tapi dalam hasil satu ini, tiga kali jatuh bangun dan tiga kali pula kembali meraih gelar juara dunia, mereka sama.

Elly Pical pun kembali mendapatkan sabuk juara dunianya. Dia menang angka atas lawannya yang berasal dari Korea Selatan itu. Padahal, Elly Pical sempat diragukan karena menjalani persiapan "ala kadarnya". 

"Tampil lebih dewasa dengan ketenangan yang luar biasa, Ellyas Pical akhirnya tak mengalami kesukaran untuk menundukkan juara dunia tinju kelas bantam junior versi IBF Chang Tae Il. Kunci kemenangan Pical adalah sikap bertinjunya yang teguh, counter fighter," tulis Syamsul Anwar .


Sumber: http://olahraga.kompas.com/read/2016/02/05/07210001/5.Duel.Legendaris.Ellyas.Pical.#zrdw7WGVS1UgWZUp.99

Label:
ellyas pical
Pilih BanggaBangga91%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi9%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie