Lupa Sandi?

Sudah Kenal dengan Reog Obyog Khas Ponorogo Ini?

Candriko Pratisto
Candriko Pratisto
0 Komentar
Sudah Kenal dengan Reog Obyog Khas Ponorogo Ini?

Siapa tak kenal reog? Pertunjukan seni tari yang berasal dari Ponorogo ini sepertinya sudah dikenal oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia. Pertunjukan reog memang selalu menyita perhatian orang-orang karena tariannya yang amat lincah, ditambah lagi dengan penampilan Warok atau topeng reog yang besar itu, yang menjadi ikon dari penampilan reog.

Bicara soal reog, kita pasti terngiang dengan reog tradisional atau yang biasa disebut reog festivalan. Hal ini dikarenakan reog festivalan atau reog kawak biasanya digelar setahun sekali menjelang bulan suro, hari besar nasional, acara bersih desa, kemerdekaan RI, hari jadi kabupaten Ponorogo, penyambutan tamu-tamu negara dan kegiatan sosial masyarakat lainnya.

Keterbatasan frekuensi pertunjukan, membuat para seniman reog merasa dibatasi dalam berkarya. Sehingga para seniman membuat inovasi, dan lahirlah Reog Obyog atau Obyogan pada kisaran tahun 1984 atau 1985 di Ponorogo yang diprakarsai oleh tokoh seniman Reog yaitu bapak Upal. Inovasi tersebut berkembang dan dikembangkan sendiri oleh masyarakat setempat khususnya pedesaan di Ponorogo sebagai alternatif hiburan warga. Meski telah berkembang di lingkungan masyarakat Ponorogo, masih ada masyarakat desa dan kota lain yang belum mengenal kesenian ini.

Perbedaan Reog Festival dengan Reog Obyog

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Pentas Reog Obyog. Penari barongan beratraksi di depan penonton saat pentas Reog Obyog di Ponorogo, Jawa Timur (© Siswowidodo antaranews.com)

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Reog Tradisional (© pinterest.com)

Perbedaaan utama Reog Obyog dengan Reog Tradisional, selain terletak pada frekuensi pagelarannya, adalah dari perubahan formasi pemainnya, tempat pertunjukan, dan iringan musik.

Formasi Pemain Reog Obyog

Jika pada Reog tradisional terdiri dari formasi pemain yang lengkap (Jathil, Bujang Ganong, Warok, Dadak Merak, dan Klono Sewandono), lain halnya dengan Reog Obyog. Pada Reog Obyog, formasinya hanya terdiri dari jathil, dadak merak, dan bujang ganong. Dengan formasi yang lebih sederhana ini, diharapkan para seniman reog bisa lebih banyak mendapat tanggapan pentas dari orang yang punya hajatan, pernikahan, syukuran, dan acara lainnya. Selain itu, para seniman juga berharap bahwa dengan formasi yang demikian sederhana, bisa menjadi daya tarik bagi anak muda yang ingin belajar kesenian reog.

Jathil

Para penari jathil pada reog tradisional, biasanya dimainkan oleh kaum pria dengan memainkan adegan loncat-loncat dengan kuda kepang, perang-perangan, sampai aksi heroik, namun beda halnya dengan reog obyog. Biasanya penari jathil dimainkan oleh para gadis dengan gerakan lemah gemulai tanpa membawa kuda kepang dan mereka akan menari sesuai dengan musik yang dimainkan. Misalnya, musik jaipongan, mereka akan memainkan gerak tari jaipong. Hal inilah yang menjadi daya tarik tersendiri dari reog obyog.

Bujang Ganong

Peran bujang ganong dalam Reog Obyog, biasanya dimainkan oleh anak-anak dan tidak selalu ada dalam setiap pagelaran. Peran Bujang Ganong pada pementasan reog tradisional ialah seorang patih dari prabu Klono Sewandono yang dipercaya untuk melamar Dewi Songgolangit ke Kediri. Adapula, yang menceritakan bahwa perannya sebagai kritikus bagi raja Bre Kertabumi saat memimpin kerajaan Majapahit. Namun, pada reog obyog, peran Bujang Ganong ini menampilkan sosok yang jenaka, serta lebih banyak menampilkan tarian khas Bujangganong yang menghibur penonton khusunya anak-anak.

Dadak Merak

Dadak merak atau barongan merupakan ikon utama reog. Sehingga, menurut para seniman reog, peran dadak merak harus tetap dipentaskan dalam reog obyog. Jika selama ini kita tahu, bahwa dadak merak adalah sebuah simbol yang berisi kritikan bagi raja Bre Kertabumi yang gaya kepemimpinannya didikte oleh permaisurinya, serta versi lain menyebutkan bahwa barongan merupakan dua binatang yang satu tubuh (harimau dan burung merak) sebagai persyaratan Dewi Songgolangit untuk menerima lamaran dari Prabu Klono Sewandono. Namun, pada reog obyog peran Dadak Merak adalah sebagai simbol kekuatan. Hal ini mengingat para pembarong yang memainkan bagian ini, memerlukan latihan rutin agar dapat memainkan dadak merak dengan cara menggigit.

Tempat Pementasan

Jika reog tradisional dalam pementasannya berada di atas panggung, namun tidak bagi reog obyog. Dalam pementasannya, reog obyog justru dilakukan di jalan. Misalnya saja, dalam acara hajatan oleh salah seorang warga desa mengundang reog obyog. Maka, dalam hal ini para seniman reog menyiapkan diri di salah satu rumah warga yang jaraknya sekitar 1 kilometer dari rumah warga yang mengadakan hajatan. Setelah tampil pada acara pembukaan tersebut, rombongan berjalan menuju ke rumah warga yang menggelar hajatan sambil memainkan beragam tarian yang diiringi tabuhan gamelan reog. Dan sesekali berhenti di lokasi-lokasi strategis seperti perempatan jalan, atau lapangan desa. Saat pementasannya, yang tidak kalah meriah adalah sorak sorai dari penonton baik yang melihat sampai yang mengikuti. Bahkan beberapa orang penonton rela menggantikan pemain barongan yang mengenakan dadak merak seberat 50 kg itu.

Musik Pengiring

Musik pengiring dalam pementasan reog ini lebih bebas. Banyak mengadopsi lagu daerah bahkan dalam prakteknya, juga dicampur dengan musik dangdut dan alunan alat musik tradisional khas reog. Dari iringan musik ini pula, banyak orang yang menganggap asal mulanya nama Reog Obyog. Istilah Obyog berasal dari kata “byok-byok” sebuah istilah khas Ponorogo yang diucapkan berulang kali, sehingga menimbulkan arti kacau, “pecah”, atau meriah seperti yang terjadi pada Reog Obyog.

Nah, supaya lebih jelas sekaligus menghibur, video berikut bisa membantu.


Sumber : Diolah dari berbagai sumber

Pilih BanggaBangga80%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi20%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG CANDRIKO PRATISTO

Senang mengkhayal di tengah bercerita ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata