Lupa Sandi?

Eksotisnya Masjid Agung Keraton Surakarta dari Perspektif Budaya (Bagian 2)

Fajar Misbakhul Munir
Fajar Misbakhul Munir
0 Komentar
Eksotisnya Masjid Agung Keraton Surakarta dari Perspektif Budaya (Bagian 2)

Dakwah Islamiyah sejak berdirinya Kraton Surakarta hingga sekarang tetap dilakukan. Hal ini karena Kraton Surakarta merupakan kerajaan Islam. Beberapa upacara keislaman yang terkait dengan dakwah di antaranya Grebeg Besar, Grebeg Lebaran, Grebeg Maulud, Grebeg Sura dan Malem Selikuran. Masing-masing upacara ini sudah terjadwal dengan rutin dan dilakukan dengan ketentuan yang baku. Bentuk dan tata caranya tidak boleh dirubah oleh siapapun.

Grebeg Mulud dilaksanakan tepat pada tanggal 12 Rabiul Awal. Upacara ini digunakan untuk menghormati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sebelumnya kurang lebih diselenggarakan pasar malam di alun-alun lor dan pagelaran. Bermacam-macam produk kerajinan tangan dan seni dijual untuk umum. Makanan khas Solo disajikan dengan penuh daya tarik. Mainan anak-anak tersedia berlimpah ruah. Pentas seni wayang selama tujuh hari. Pasar malam sekatenan benar-benar menjadi pesta rakyat. Perekonomian berkembang pesat. Siang malam kawasan kraton menjadi pusat keramaian. Aktivitas kultural ekonomis ini secara positif merupakan manifestasi paham manunggaling kawula Gusti. Zoetmulder (2000: 1) telah memberi pengertian tentang pantheisme dan monisme yang berkembang dalam masyarakat tradisional. Dalam hal ini As’ad Said Ali (2010: 212) memberi deskripsi tentang aspek kesejahteraan. Upacara ritual keagamaan yang berlangsung tersebut telah memberi dampak ekonomi pada masyarakat.

Prosesi Grebeg Mulud (12 Rabiul Awal)
Prosesi Grebeg Mulud (12 Rabiul Awal)

Gamelan sekaten yang bernama Guntur Madu dan Kyai Madusari dibunyikan di Mesjid Ageng selama tujuh tujuh hari tujuh malam. Sekaten sendiri berasal dari kalimat syahadatain. Artinya kesaksian dua kalimat syahadat. Lambang permulaan seseorang memeluk agama Islam. Upacara berkesenian selalu dilaksanakan dalam rangka dakwah Islamiyah. Kerajaan Demak, Mataram dan Surakarta menyelenggarakan upacara Sekatenan sebagai pengalaman atas ajaran Wali Sanga yang berdakawah dengan basis kultural. Budaya dapat digunakan utnuk memperlancar syiar keagamaan. Gamelan yang turut menyertai perayaan sekaten yaitu gamelan kodhok ngorek, gaemlan monggang, gamelan carabalen dan gamelan sekaten (Rahayu Supanggah, 2002: 47).

Tepat pada hari kelahiran Nabi Muhammad SAW itu puncak sekatenan diselenggarakan. Kira-kira pukul 10 pagi prajurit kraton melakukan kirab. Bunyi terompet, tambur, suling menggema di angkasa raya. Tampak gagah, megah dan mewah. Iring-iringan berjalan terlebuh dulu. Dua gunungan yang terdiri dari Gunungan Estri dan Gunungan Jaler diarak menuju Mesjid Ageng. Prajurit Nyutra mengawal dari belakang. Iringan gamelan Carabalen mengikuti perjalanan prajurit Nyutra. Mereka berjalan sambil menari, sesuai dengan irama gendhing gamelan Carabalen.

Perlengkapan upacara, pengirim dan uba rampe berkumpul di Mesjid Ageng untuk diberi doa. Biasanya massa yang berasal dari desa-desa sudah berdatangan memenuhi kompleks Kraton. Mereka berhadap ngalap berkah. Ketika doa sudah selesai, semua hadirin berebut gunungan. Apapun yang diperoleh akan dibawa pulang sebagai oleh-oleh yang membawa barokah. Tanamannya subur, ternak gemuk, jualannya laris dan rejekinya mbanyu mili. Mereka percaya bahwa Kraton Surakarta membawa berkah.

Pelaksanaan grebeg Sekaten ini menarik secara finansial, kultural dan spiritual sekaligur. Sudah sewajarnya pemerintah dan masyarakat terlibat aktif dalam melestarikan warisan luhur ini. Pemerintah berperan memberi kemudahan dalam hal dana, fasilitas dan keamanan. Masyarakat bisa memberi kontribusi dengan melakukan penghormatan sesuai dengan kekuatan masing-masing. Sedang perhuruan tinggi dapat melakukan pengkajian dan penelitian. Dikotomi antara santri, aangan dan priyayi dapat dijawab dengan upacara Grebeg Sekaten.

Dua grebeg lainnya yaitu Grebeg Besar dan Grebeg Pasa dikeluarkan pada 1 Syawal kalender Jawa (Mulyanto utomo, 20014: 112). Untuk upacara Grebeg Pasa dilaksanakan pada tiap-tiap tanggal 2 Syawal, sehari setelah shalat Idul Fitri. Suasana lebaran dirayakan besar-besaran oleh Kraton Surakarta sebagai manivestasi Kraton Islam. Cara pelaksanaannya bertolak dari Sasana Handrawina, Kori kamandungan, Bangsal Smarakata, Bala Marcukundha, Sitihinggil, Pagelaran, Alun-alun dan berakhir di mesjid Ageng. Prajurit dan gamelan Carabalen menyertai arak-arakan. Paripurna Grebeg Pasa lantas antar abdi dalem dan sentana bersalam-salaman dan halal bihalal.

Hari raya Idul Adha juga diselenggarakan upacara grebeg. Waktunya setelah shalat Id, kira-kira pukul 10.00. Rute grebeg juga sama dengan yang dilewati Grebeg Mulud dan Grebeg Lebaran. Para abdi dalem biasanya mendapat bagian daging kurban. Maklum pada hari itu sebagian kaum muslimin sedang kurban sapi dan kambing. Pesta daging itu ada di mana-mana. Bagi yang mempunyai rejeki, diharapkan mau melakukan kurban. Berbagi rasa bersama orang lain sangat dianjurkan dalam agama Islam.

Sumber: Dr. Purwadi M., Hum. dan Dra. Endang Waryanti, M., Pd. 2015. Perjanjian Giyanti. Bantul: Laras Media Prima.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG FAJAR MISBAKHUL MUNIR

Saat ini saya sedang menempuh pendidikan Desain Interior, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia, Surakarta. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie