Lupa Sandi?

Kampoeng Dolanan di Kota Metropolitan

Mustofa Sam
Mustofa Sam
0 Komentar
Kampoeng Dolanan di Kota Metropolitan

Indonesia, begitu mendengarnya terpampang jelas perjuangan para pahlawan merebut kemerdekaan dengan bersusah payah.

Indonesia, begitu mendengarnya teringat jelas akan warisan tradisi dan budaya yang ditinggalkan oleh nenek moyang kita kepada cucu-cucunya yang berdiri dan menginjakkan kaki di bumi tercinta, Indonesia.

Indonesia, begitu mendengarnya banyak rahasia yang terdapat dalam setiap peristiwa. Warisan tentang permainan tradisional pun ditinggalkan oleh nenek moyang untuk dipelajari bersama dan wajib dipertahankan karena itu menjadi sebuah identitas bangsa.

Ketika berbicara tentang permainan tradisional, pada kondisi yang sekarang ini hampir tidak pernah kita jumpai anak-anak kecil bermain permainan tradisional. Bagaimana dengan kondisi di kampungmu atau daerahmu tentang sebuah realita permainan tradisional?

Jakarta, bandung, surabaya, semarang, dan kota-kota besar lainnya? seperti apa ya realita permainan tradisional yang terjadi disana?

Beberapa waktu belakangan ini, ada kabar mengejutkan datang dari kota metropolitan, kota terbesar kedua di Indonesia bernama Surabaya. Di Surabaya ternyata ada Kampoeng Dolanan tepatnya di Kampung Kenjeran IV-C, RT.04/RW.02 Kelurahan Simokerto Kecamatan Simokerto Kota Surabaya. Kampungnya unik, hanya berjarak 1-2 meter langsung bersinggungan dengan rel kereta api sedangkan di belakang rumah adalah bantaran kali yang sangat mepet sekali dengan kali bahkan ada badan rumah yang melebihi bendungan kali tersebut.

Menariknya lagi ternyata gagasan Kampoeng Dolanan diinisiasi pemuda/i yang tergabung di karang taruna kampung setempat. Permainan tradisional sejak tahun 90-an sudah dimainkan disini. Membuat layangan sendiri, membuat benang senar untuk layangan sendiri, engkle, dakon, bekel, kethek menek (permainan khas kampung) dan banyak lagi permainan lainnya.

Karang Taruna RT.04/RW.02 yang selanjutnya disebut kartar kampoeng dolanan ingin menularkan semangat melestarikan permainan tradisional kepada lingkup luas, yakni Indonesia. Ajakan ini bersifat mengingatkan kembali pada kita semua bahwa nenek moyang telah meninggalkan permainan tradisional dengan berbagai filosofi dan nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya.

Kartar kampoeng dolanan ingin melebarkan sayap hingga pelosok negeri, langkah pertama yang dilakukan adalah mencari relawan dan mendapatkan relawan sebanyak 60 orang dengan berbagai latar belakang profesi dari 100 lebih pendaftar calon relawan. Ada yang pelajar, mahasiswa, pekerja dan pebisnis. Mereka mengaku bahwa rindu akan permainan tradisional dan melestarikan permainan tradisional secara bersama dan digalakkan secara gotong royong. Relawan ini dikenal dengan sebutan relawan konco dolan yang artinya dalam bermain permainanan tradisional memang dibutuhkan teman untuk bermain bersama.

Di tahun 2017 ini, karang taruna kampoeng dolanan dan relawan konco dolan juga berencana untuk mengadakan 3 event besar yaitu FireBall Competition (sepakbola api) dengan pelaksanaannya bertepatan pada momen ulang tahun Surabaya yakni di bulan Mei, Festival Kampoeng Dolanan yang dilaksanakan pada bulan Agustus bertepatan pada hari Kemerdekaan RI dan Wisata Dolanan yang akan dilaksanakan pada momen liburan sekolah.

Program lain selain 3 event besar diatas adalah sambang kampung, sambang sekolah, sambang dalan dan sambang acara. Artinya dari program itu sama saja yakni mengenalkan permainan tradisional di kampung, sekolah, tempat umum dan event/acara. Geliat untuk melestarikan permainan tradisional juga terasa sekali dengan hadirnya acara Ayo Rek Dolanan yang dilaksanakan setiap Minggu di Car Free Day Tunjungan pukul 06.00-08.30 WIB.

Keren sekali apa yang direncanakan oleh karang taruna kampoeng dolanan, pelestarian tradisional yang digalakkan tidak hanya untuk kampungnya saja melainkan untuk masyarakat se-Indonesia. Ayo kenalkan permainan tradisional lalu kita mainkan bersama, itu artinya kita telah bersama-sama atau turut serta dalam hal melestarikan permainan tradisional.

Sumber : Dok. Mustofa Sam

Pilih BanggaBangga33%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang42%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi25%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG MUSTOFA SAM

Aktivis sosial yang bergerak di bidang pendidikan, pemberdayaan masyarakat dan pegiat dolanan tradisional. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara