Lupa Sandi?

Uniknya Masyarakat Bugis Pindahan Rumah

Candriko Pratisto
Candriko Pratisto
0 Komentar
Uniknya Masyarakat Bugis Pindahan Rumah

Rumah Panggung sudah banyak diadaptasi oleh rumah adat berbagai suku di Indonesia, misalnya Rumah Aceh, Rumah Gadang Minangkabau, Rumah Joglo, Rumah Lamin, Rumah Tongkonan, Rumah Baileo, dan termasuk rumah panggung suku Bugis. Bentuk rumahnya yang memanjang kebelakang, dengan tambahan di samping bangunan utama dan bagian depan, serta memiliki atap berbentuk prisma ini, memiliki arti tersendiri bagi orang Bugis.

Menurut orang Bugis, rumah lebih dari tempat tinggal maupun tempat berteduh dengan semua keindahannya, tetapi juga menjadi barang sakral. Rumah adalah ruang sakral di mana penghuninya mengalami, lahir, menikah, mati, serta kegiatan peribadatan dan sosial lainnya.

Orang Bugis juga percaya bahwa alam raya terbagi menjadi tiga bagian yaitu alam atas (botting langi), alam tengah (alang tenga), dan alam bawah (peretiwi). Dan dari kepercayaan ini yang akhirnya direfleksikan ke dalam struktur rumah panggung khas Bugis.

Struktur rumah panggung Bugis terdiri dari bagian yaitu bagian atas (rakkeang) yang biasanya digunakan untuk menyimpan padi yang baru dipanen, bagian tengah (ale bola): bagian dimana yang menjadi tempat tinggal, dan bagian bawah atau kolong (awa bola) yang berfungsi untuk menghindari serangan binatang buas untuk naik ke atas, atau pada zaman sekarang digunakan untuk menempatkan kendaraan pribadi.

Baca Juga
Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Bagian-bagian rumah panggung khas suku Bugis © Jurnalite.com

Dibalik rumah mereka yang filosofis, uniknya, bangunan rumah ini dibuat secara lepas-pasang, sehingga dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Dan inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat daerah lain.

Dalam tradisi suku Bugis, tradisi memindahkan rumah disebut sebagai Mappalette Bola. Ada dua cara dalam memindahkan rumah. Pertama adalah dengan cara di dorong. Cara ini dilakukan ketika posisi rumah yang baru, berdekatan dengan posisi rumah yang lama. Sedangkan yang ke dua, dengan cara diangkat. Cara ini digunakan, jika jarak posisi rumah yang baru cukup jauh dari posisi rumah yang lama. 

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
 © Irsyam Syam dari kompasiana.com
Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
 © Irsyam Syam dari Kompasiana.com
Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
© Irsyam Syam dari Kompasiana.com

Sebelum hal ini dilakukan, ada persiapan yang dilakukan oleh pemilik rumah, seperti mengadakan ritual selamatan, menurunkan perabotan rumah tangga yang mudah pecah, mudah bergerak, atau yang dapat memengaruhi berat rumah pada saat pemindahan berlangsung, sampai memasang bambu pada kaki-kaki rumah panggung sebagai pegangan dan penahan untuk menggotong.

Sebelum rumah dipindah, warga yang akan membantu, biasanya dijamu oleh si pemilik rumah. Makanan ringan khas suku Bugis seperti kue bandang, baronggo, suwella, serta secangkir teh hangat dan kopi, akan tersaji di depan para kaum adam yang akan membantu jalannya tradisi tersebut. Makanan ke dua disajikan setelah kegiatan pindah rumah ini selesai. Hal ini sebagai timbal balik atas bantuan mereka dalam memindahkan rumah, dan sebagai “obat” lelah setelah bekerja keras. Makanan khas yang menjadi suguhan ini adalah sup saudara, dan ikan bandeng yang diberi bumbu saus kacang. Orang Bugis menganggap, setelah proses ini adalah sebuah perayaan atau pesta besar. 

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Perayaan setelah memindahkan rumah panggung (© Ramli AT dari kompasiana.com)

Pemilik rumah biasanya melakukan tradisi ini karena tanah yang dipakai untuk mendirikan rumah panggung sudah terjual, sehingga mereka memindahkan rumahnya ke tanah (tempat) yang baru.

Setelah rumah dipindahkan ke lokasi yang baru, dan telah berumur satu tahun, kemudian diadakan sebuah upacara yang disebut Maccera Bola. Upacara ini bertujuan untuk menolak bala atau nasib sial pada tempat yang baru dengan cara menyapukan darah ayam pada tiang-tiang rumah. Dalam pelaksanaanya, upacara ini dipimpin oleh seroang dukun setempat atau tukang yang membangun rumah panggung.


Sumber : Dari berbagai sumber

Pilih BanggaBangga60%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli5%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau36%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG CANDRIKO PRATISTO

Senang mengkhayal di tengah bercerita ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara