Lupa Sandi?

Lewat Produk Kreatifnya Hibrkraft Bertekad Ajak Anak Muda Indonesia Giat Menulis

Bagus Ramadhan
Bagus Ramadhan
0 Komentar
Lewat Produk Kreatifnya Hibrkraft Bertekad Ajak Anak Muda Indonesia Giat Menulis

Sebagian dari kamu mungkin menekuni hobi ala kadarnya, semata-mata untuk mencari kepuasan sendiri, ada juga yang menekuninya secara professional seperti atlet. Semua dapat berkembang tergantung dari bagaimana kamu memaksimalkan hobi tersebut. Jika beruntung, hobi yang kamu miliki bisa berkembang menjadi bisnis yang menggiurkan, lho.

Hal inilah yang dirasakan oleh Ibrahim Anwar. Berbekal hobinya menulis, Anwar mendirikan Hibrkraft, brand yang berfokus menghasilkan produk handmande berupa jurnal untuk menulis. Kepada Qlapa, Anwar menceritakan perjalanannya mendirikan Hibrkraft.

Dari Hobi ke Produk Tulis Lelaki kelahiran 1992 yang akrab disapa Anwar ini memiliki hobi menulis. Ia bercerita, sejak kecil kerap melihat sang Ibu menulis, apa pun itu. Ibarat pepatah 'buah jatuh tak jauh dari pohonnya', kini Anwar mewarisi kegemaran sang Ibu.

"Saya jadi suka nulis karena dari kecil liat ibu suka nulis. Apa aja ditulis. Kadang cerpen, kadang catatan belanja, apa aja," kata Anwar.

Cikal bakal Hibrkfraft dimulai Anwar sejak tahun 2011. Pada awalnya, ia membuat 3 buah jurnal untuk kebutuhan menulisnya. Dari ketiga jurnal itu hanya satu yang terpakai dan ia mencoba memasarkan sisanya.

“Bikin model hardcover, dari bahan-bahan bekas seperti kalendar. Saya jual awalnya enggak ada yang mau. Terus

akhirnya ada yang beli tuh satu, itu juga karena kasihan,” kata Anwar sambil tertawa.

Merasa produknya gagal, Anwar pun memutuskan untuk tidak lagi memproduksi jurnalnya. Baru pada 2013 lalu ia mulai lagi mulai lagi untuk membuat jurnal dengan desain yang berbeda. Pilihannya jatuh pada jurnal kulit.

(Foto: Qlapa.com)
(Foto: Qlapa.com)

Saat ini Hibrkraft memproduksi jurnal dari berbagai bahan, seperti kulit sintetis dan kulit nabati. Penggunaan bahan tergantung dari produk yang ingin dibuat. Ia mengaku menggunakan bahan kulit karena terinspirasi dari sebuah film. Film tersebut menceritakan seorang pendaki gunung yang selalu membawa buku catatan berbahan kulit ke mana pun pergi.

“Dari film itu saya belajar bikin pakai bahan kulit. Ternyata animonya nge-hype banget. Nah, saya kumpulin uang terus saya beli kulit asli. Sampai sekarang berjalan stok udah banyak,” tutur Anwar.

Membangkitkan semangat menulis tangan Bermarkas di Bojong Gede, Hibrkraft kini memiliki 6 pegawai, yakni 2 orang tim produksi, 3 orang marketing termasuk Anwar sendiri lalu seorang admin dan social media specialist. Setiap harinya mereka memproduksi jurnal murni hasil tangan. Setiap lembar setipis apapun hingga pemotongan kertas dilakukan sendiri, karena kesan handmade-lah yang menjadi ciri khas dari Hibrkraft.

Penjualan produk Hibrkraft tertuju pada anak muda. Di mana menurut mereka kini tingkat membaca dan menulis di kalangan anak muda tengah menurun. Para remaja beralih ke era di mana gadget menjadi senjata andalan dalam setiap aktivitas apapun.

“Menulis pakai tangan tuh enggak boleh dihentikan menurut saya. Walau kita menulis di tablet yang bisa gambar-gambar, tetap saja rasanya berbeda,” tutur Anwar.

Jika kita membayangkan, tentu akan terasa berbeda saat kita menggenggam pensil dan gadget. Rasanya mengerjakan apapun menggunakan tangan pasti terasa lebih bebas dan luwes dibanding gadget.

Usahanya membangkitkan semangat menulis kini juga mulai terasa. Anwar mengaku dapat mengantongi omset rata-rata sekitar Rp 20 juta setiap bulan. semua tergantung dari pesanan yang diterima.

“Kalau corporate order, kita bisa 500-an jurnal dalam sebulan. Di luar corporate order, sebulan produksi sekitar 50 sampai 60 jurnal,” tutur Anwar.

Produk handmade yang penuh inovasi Sekadar menjual jurnal semua orang bisa, namun Anwar ingin produk Hibrkraft memiliki nilai yang lebih. Hal ini ia lakukan dengan membuat produk handmade yang punya ciri khas tersendiri.

“Semua dibuat dengan manual, sampai memotong kertasnya pun dilakukan dengan tangan. Sebenarnya bisa aja dilakukan dengan mesin, tapi nanti khas-nya Hibrkraft jadi hilang,” ujarnya.

Pilihan untuk membuat produk handmade sendiri bukannya tanpa plus minus. Di satu sisi, ia tidak dapat membuat produk secara massal dalam waktu singkat. Namun hal ini bukan masalah baginya, karena dengan begitu, produk Hibrkraft juga bisa dipesan dengan custom.

“Kadang ya itu kalau custom-nya sudah terlalu rumit, sulit juga buatnya. Tapi di situ juga bagian serunya,” katanya.

Kesungguhan dalam membuat produk yang berkulitas tinggi juga ditunjukkan dengan cara membuat prototype-nya terlebih dulu. Alih-alih sekadar menjual, setiap produknya harus melewati uji kelayakan yang tidak sebentar.

“Kenapa kita pakai ukuran segitu, bahan seperti itu, semua ada alasannya. Banyak juga produk yang kita coba bikin akhrnya nggak kita jual, karena menurut kita kurang oke,” imbuh Anwar.

Selain cukup ketat dalam ‘menyaring’ produk yang dijual ke pasaran, Anwar juga kerap ‘dipaksa’ oleh timnya untuk terus berinovasi. Salah satu buah inovasinya adalah jurnal yang beraroma kopi.

“Waktu itu lagi mikirin mau bikin ide apa, pas sambil ngopi. Akhirnya kepikiranlah untuk bikin jurnal yang ada aroma kopinya. Jadilah jurnal yang jenis Kava. Sampai sekarang kita masih dalam tahap mendaftarkan hak ciptanya,” tuturnya.

Terus memupuk mimpi Saat ini ribuan jurnal buatan Hibrkraft telah sampai ke tangan para penikmatnya. Mimpi Hibrkraft agar setiap anak muda melestarikan budaya menulis dan menggunakan produk Hibrkraft dengan bangga. Kedepannya, Anwar ingin membawa jurnal Hibrkraft agar dapat tekoneksi ke gadget, dengan tujuan menstimulus pengguna agar semakin tertarik untuk menulis.

Hal ini membuat Anwar terus semangat untuk mengembangkan bisnis yang sejalan dengan mimpinya. Hibrkraft sendiri juga menyimpan mimpi personal dari pendirinya yang disematkan pada nama brand tersebut. Hibrkraft ternyata diambil dari namanya lengkapnya sendiri, Ibrahim Anwar.

“Hibr itu dari Haji dan Ibrahim, dengan tambahan kata kraft di akhir, jadilah Hibrkraft. Karena cita-cita saya mau naik haji, hahaha,” jelas Anwar ketika ditanya sudah Haji atau belum.

Semoga! Artikel ini merupakan hasil kolaborasi GNFI dengan Qlapa.com

Pilih BanggaBangga29%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang6%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi65%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG BAGUS RAMADHAN

Seorang copywriter dan penulis konten yang bermimpi mampu menebar inspirasi dan semangat lewat konten-konten berkualitas untuk kehidupan yang lebih baik. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie