Lupa Sandi?

Sudah Kenal Tradisi Orang Buton Untuk Menemukan Jodoh?

Candriko Pratisto
Candriko Pratisto
0 Komentar
Sudah Kenal Tradisi Orang Buton Untuk Menemukan Jodoh?

Orang Indonesia itu unik. Di zaman yang modern ini, selalu ada masyarakat kita yang mempertahankan tradisi adatnya. Mulai dari tarian, rumah adat, kuliner, sampai sebuah tradisi yang bagi mereka punya makna tersendiri. Alasan lain, mereka juga ingin mempertahankan identitas mereka sebagai warga Indonesia yang hidup dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika. 

Berbicara soal tradisi yang menyangkut perjodohan memang banyak menyita perhatian masyarakat, terutama usia muda. Bukan karena filosofinya, melainkan keunikan prosesinya yang tidak dapat ditemukan di daerah lain. Dan hal ini yang menjadi ikon sebuah daerah atau suku sehingga banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia yang beragam ini. Di Buton, misalnya,  selain terkenal sebagai pulau penghasil aspal, juga punya tradisi perjodohan yang unik dan menarik.

Sudah kenal Kamomose? Tradisi perjodohan ini dapat kita jumpai tepatnya di kecamatan Lakudo, kabupaten Buton Tengah, provinsi Sulawesi Tenggara. Tradisi Kamomose sudah mulai diterapkan sejak zaman nenek moyang mereka yang harapannya bisa segera bertemu dengan jodohnya. 

Menurut Lukman kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan kabupaten Buton Tengah yang dilansir dari travel.kompas.com, Kamomose berasal dari kata “komomo” dan “Poose ose”. “Komomo” sendiri mengandung makna bunga yang sedang kuncup atau hampir mekar, sedangkan “Poose ose” artinya berjejer secara teratur. Jadi, secara harafiah, Kamomose adalah sebuah tradisi dimana para gadis yang menginjak usia akil balik duduk berjajar untuk kemudian dikenalkan kepada pemuda desa. Tradisi ini biasanya diadakan satu tahun sekali setelah masyarakat setempat merayakan Lebaran. 

Baca Juga

Tradisi yang punya nama akrab Panga ini, di awal prosesinya, para gadis desa dipingit oleh para orang tua atau tetua desa yang telah diberi kepercayaan untuk mengasuh mereka. Pelaksanaan pingitan ini diadakan selama 6 hari 6 malam, uniknya para gadis tersebut tidak diperbolehkan buang air besar maupun air kecil. Agar para gadis tersebut sukses menjalankan aturan tersebut, sebelum pingitan, para gadis tersbut dimandikan dengan air yang sudah diberi doa oleh seorang tetua kampung atau kepala adat setempat. 

Selama dipingit oleh orang tua asuh, ada proses pembekalan yang harus mereka ikuti agar kelak saat sudah menemukan tambatan hatinya, mereka sudah punya bekal untuk hidup berdampingan dengan suaminya.

Setelah berhasil melaksanakan prosesi pingitan, para gadis itu di rias seperti halnya seorang pengantin; lengkap dengan baju adat khas Buton (Kombo) atau baju kebesaran kaum wanita yang berbahan dasar kain satin berwarna emas dan putih beserta aksesoris pelengkap lainnya. Pemilihan warna ini didasarkan atas kepercayaan masyarakat setempat atas representasi dari kesucian, harapan-harapan atas kebaikan, kesejahteraan, dan kesuburan.  Ada juga beberapa dari mereka yang dikenakan baju Perangkat Adat (Pakaena Syara). Pakaena Syara biasanya digunakan oleh perangkat adat di lingkungan Masjid Agung Keraton Buton. Baju adat ini memiliki ciri berbentuk jubah lengan panjang yang dihiasi motif tenunan khas Buton berupa garis-garis yang membujur dan melingkar. Dan motif ini dipercaya oleh warga Buton sebagai bentuk kepatuhan terhadap hukum adat dan agama yang harus dilakukan. 

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Tradisi Kamomose (© Huda Nevara dari twitter.com)

Nah, setelah para gadis ini dirias, akhirnya mereka keluar ruangan  atau keluar dari rumah orang tua asuh. Di luar rumah, mereka berjajar dengan gadis lainnya dengan cara berhadap-hadapan sambil membawa baki. Dalam prosesi ini, merupakan pertemuan antara si gadis dengan para pemuda desa. Uniknya, dalam tradisi ini apabila para pemuda itu tertarik dengan salah satu gadis tersebut, mereka akan melemparkan satu butir kacang goreng ke baki yang dibawa oleh para gadis tersebut. Nah, setelah itu, akan ada yang namanya rundingan dengan gadis tersebut dan pihak keluarganya untuk meminta persetujuan. Apabila proses lamaran itu disetujui, maka perkenalan singkat itu bisa ditingkatkan ke hubungan yang lebih serius. 


Sumber : Dari berbagai sumber

Pilih BanggaBangga38%
Pilih SedihSedih3%
Pilih SenangSenang5%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi3%
Pilih TerpukauTerpukau51%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG CANDRIKO PRATISTO

Senang mengkhayal di tengah bercerita ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara