Lupa Sandi?

Satu Tekad Marina Kusumawardhani: Mengentas Kemiskinan

Arifina Budi
Arifina Budi
0 Komentar
Satu Tekad Marina Kusumawardhani: Mengentas Kemiskinan

Perempuan satu ini gemar sekali melakukan aktivitas traveling dan satu negara favoritnya adalah India. Dalam sebuah wawancara bersama Wimar Witoelar, Marina Kusumawardhani mengungkapkan bahwa "India is the best place untuk backipacking". Dan ternyata dari perjalanannya di India-lah Marina menemukan sebuah kesadaran besar soal kenyataan hidup.

 

Ceritanya kala itu di suatu malam di stasiun kereta api kota Kalkuta, India sekira lima tahun yang lalu Marina melihat seekor anjing liar yang terkapar dan tak berdaya, tidak jauh dari rel tempatnya menunggu kereta yang akan membawanya ke kota kecil di dekat punggung pegunungan Himalaya.

 

Baca Juga

"Saya langsung mencari air untuk dikasih ke anjing itu, soalnya dia haus banget," kisahnya kepada BBC Indonesia, Oktober 2016 silam.

 

Setelah ia memberi minum kepada anjing yang sudah tergeletak lemas itu, Marina mendapati orang-orang di sekitarnya menatapnya tegun bahkan ada di antaranya yang menangis haru. Kata Marina, orang-orang itu adalah gelandangan miskin yang tinggal di emperan bangunan stasiun. "Bisa dibayangkan kehidupan macam apa yang mereka lalui kalau melihat mereka menangis seperti itu," kenang Marina.

 

Lantas keluar dari stasiun kereta, perempuan asal Bandung, Jawa Barat ini tak kuasa menahan tangis. Ia terisak mengingat beban kehidupan yang ditanggung oleh orang-orang yang melihatnya tadi. Ia lantas teringat dengan kata-kata Mahatma Gandhi. "Kata Gandhi, kemiskinan adalah kekerasan paling brutal," Marina mengingat-ingat kata-kata Gandhi tersebut.  Dalam cengkeraman kemiskinan itulah, orang-orang yang terjebak di dalamnya sama-sekali tidak memiliki harga diri. "Apapun menjadi budak untuk sepeser atau dua Rupee itu dilakukan. Itu sangat menyedihkan."

Dan saat itulah Marina membulatkan tekad ingin mengentas kemiskinan di dunia.

Berguru pada Muhammad Yunus

Marina berbincang dengan perain Nobel Perdamaian 2006, Muhammad Yunus (foto: bbc.com)
Marina berbincang dengan perain Nobel Perdamaian 2006, Muhammad Yunus (foto: bbc.com)

Sejak usia 19 tahun Marina sudah gemar sekali melakukan perjalanan keluar negeri. Ia sudah menjelajah 45 kota di Eropa, menjelajahi Asia Tenggara, dan beberapa negara yang mengalami konflik dan masalah kemiskinan. India menjadi kunjungan pertamanya kala itu dan ia pergi ke Delhi, Kashmir, serta Ladakh, yakni tempat pengungsian orang Tibet.

Sepanjang pengalaman perjalanannya, kepada Wimar, Marina mengaku bahwa ia melakukan perjalanan untuk mencari makna atau jati diri. Ia pun pernah bertemu dan berbincang dengan His Loneliness  Dalai Lama mengenai hal-hal spiritual. Lantas, perjalanannya ke Kalkuta beberapa tahun silam tersebut menjadi titik di mana Marina menemukan apa hal yang harus dilakukannya

Marina merupakan lulusan Teknik Industri ITB, Bandung. Ia kemudian melanjutkan studi ke Universitas Teknik Wina, Austria. Di sana ia pun bersentuhan langsung dengan ide dan program pengentasan kemiskinan. Usai studi, Marina bergabung dengan sejumlah lembaga internasional yang peduli dengan masalah kemiskinan ini. Ia mempelajari dan mempraktikkan pendekatan alternatif penyelesaian persoalan kemiskinan di negara-negara terbelakang.

Hingga akhirnya Marina bertemu dengan peraih Nobel Perdamaian 2006, Muhammad Yunus asal Bangladesh yang dikenal dengan konsep Grameen Bank untuk kaum miskin.  Seperti diketahui, Muhammad Yunus telah mengembangkan konsep kredit mikro. Ini adalah pinjaman skala kecil untuk orang-orang yang tidak mampu meminjam uang dari bank umum. Yunus mengimplementasikan gagasan ini dengan mendirikan Grameen Bank.

"Mengobrol lima menit (dengan Muhammad Yunus), rasanya langsung klik banget," ungkap perempuan kelahiran 1983 ini. Ketika itu, Yunus menyarankan Marina agar berkunjung ke Bangladesh untuk melakukan penelitian dan mempraktikkan pelajaran-pelajaran yang sudah diperolehnya. Dan setelah lulus S2 Marina pun bertolak ke Bangladesh, melakukan riset di sana dengan hidup di desa-desa tertinggal. Selama itu pula, dia bersama sejumlah konsultan senior di PBB dan beberapa menteri Austria, dia mendirikan semacam lembaga pelatihan terkait social entrepreneurship bernama Generation Social.

Pulang ke Indonesia dan memulai pengabdian

 

BBC menyebut Marina sebagai jembatan kokoh yang menghubungkan pemerintah dan pemilik modal dengan kaum miskin yang membutuhkan pendampingan dan uluran tangan. Ia mencoba memotong rantai distribusi yang terlalu panjang dna merugikan petani dengan bekerja sama melalui dua situs jual beli online Indonesia.

Tahun 2014 Marina bergabung dengan Asian Development Bank, ADB. Dia ditunjuk sebagai konsultan karena pengalamannya dalam bersentuhan dengan bisnis sosial atau social entrepreneur (foto: bbc.com)
Tahun 2014 Marina bergabung dengan Asian Development Bank, ADB. Dia ditunjuk sebagai konsultan karena pengalamannya dalam bersentuhan dengan bisnis sosial atau social entrepreneur (foto: bbc.com)

Tahun 2014 Marina memutuskan pulang ke Indonesia dengan satu alasan, yakni mempraktikkan betul program bisnis sosial yang telah dilakukannya di luar negeri untuk diterapkan di Indonesia. Ia pun mengawali dengan memberikan pelatihan kepada anak-anak muda di dunia bisnis sosial. " Bikin semacam start-up mengenai training dan konsultasi bisnis sosial dan sampai sekarang jalan terus,” ujar mantan konsultan di Asian Development Bank (ADB) itu,” ujarnya seperti ditulis Majalah Kartini.

Melalui Kementerian Koordinator bidang Perekonomian dan sejumlah pemerintah kota, Marina sekarang melakukan apa yang disebutnya sebagai advokasi mengenai bisnis sosial. Marina menjelaskan, bisnis sosial adalah bisnis yang memiliki dampak sosial. Ada pula yang menyebutnya sebagai bisnis inklusif karena konsepnya adalah bisnis yang mengambil sebanyak mungkin orang yang berada di bawah garis kemiskinan.

"Dia harus sustainable (berkelanjutan), bisa menghidupi diri sendiri dan tidak tergantung pada sumbangan, kadang-kadang dia non profit, kadang-kadang profit (mencari keuntungan). Dia sebuah bisnis, tapi dampak sosialnya besar," jelasnya.

Marina pun merintis bisnis ini dengan menghubungkan para pelaku usaha kecil menengah di Bandung dengan pemerintah Kota Bandung dan pengelola situs belanja online Tokopedia. Agustus 2016 lalu situs  Tokopedia membuat sebuah halaman khusus untuk kota Bandung yang isinya adalah produk-produk kota bandung yang diutamakan kerajinan lokal dan produk UMKM yang mikro.

Dalam waktu hampir bersamaan, Marina juga membantu Kemenko-perekomian untuk menghubungkan para petani, pengusaha kecil, komunitas lokal di sektor kehutanan serta kaum papa lainnya, dengan pemodal yang memiliki bisnis sosial.

Untuk membantu petani, pihak lain yang digandeng oleh Marina dan kawan-kawan adalah situs online Limakilo yang selama ini menjual hasil pertanian melalui situs internet, sejak sekitar lima bulan lalu.

"Untuk barang-barang yang banyak menyebabkan inflasi, seperti bawang, cabe, ikan, daging, beras, dan jagung," ungkapnya. Dan menurutnya kerja sama ini dapat memotong rantai distribusi yang terlalu panjang dan merugikan diri sendiri.

Langkah ini mungkin masih menjadi sebuah awal, namun Marina tetap optimis bahwa apa yang dilakukannya bersama para rekan seperjuangan yang bekerja sama juga dengan pemerintah ini setidaknya bisa mengamankan akses pasar. Misinya adalah bagaimana agar produk-produk yang lebih murah tersebut bisa didistribusikan seluas-luasnya.

"Tapi apakah sudah mencapai apa yang saya impikan, itu belum, dan tidak mungkin pernah (tercapai), karena sebaiknya 'kan selalu memperbaiki diri, selalu belajar," ungkapnya.

"Tidak puas dengan dampak sosial yang dicapai. Jadi, stay hungry stay foolish, karena untuk mencapai sesuatu (secara sempurna) itu tidak akan pernah. Akan selalu ada milestones baru. Kemudian, apa target berikutnya," tandasnya.

Begitulah Marina. Dia bersama teman-temannya - yang memiliki komitmen yang sama - terus mencari jalan dan memperbaiki jembatan kokoh agar kaum papa yang terpinggirkan itu dapat terbantu.

 

“Do not wait for someone else to come and speak for you. It’s you who can change the world.”
– Malala Yousafzai


Sumber : bbc.com | majalahkartini.co.id | perspektifbaru.com

Pilih BanggaBangga75%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi25%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ARIFINA BUDI

Pencerita hal-hal baik untuk dunia. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas