Lupa Sandi?

Belajar dari Keajaiban Formosa

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Belajar dari Keajaiban Formosa

Anda tentu pernah mendengar produk-produk teknologi merk Acer, HTC, atau Asus, dan bisa jadi, beberapa dari anda juga memakai produk-produk dari merk tersebut. Namun, saya pernah bertanya kepada beberapa orang kawan, dan umumnya mereka tidak tahu bahwa merk-merk tersebut adalah merk Taiwan,  yang kini  sudah memenuhi sudut-sudut dunia. Saya pernah melihat digital banner Acer berukuran besar di Times Square di New York, pun juga pernah melihatnya di sudut kota Lamongan. HTC dan ASUS, produknya bisa ditemukan di pasar di Samarinda, hingga di London. 

Apa rahasia Taiwan, sebuah negara berpenduduk 23 juta, mampu menjadi salah satu pusat inovasi dan industri teknologi utama di dunia? Selain itu, juga menjadi negara yang dulunya miskin, menjadi salah satu negara termakmur di Asia?

Siang tadi, saya sampai di bandara Internasional Taoyuan di Taipei. Bandara megah ini baru saja meraih bandara dengan pelayanan terbaik di dunia versi Skytrax. Bandara ini memang tak semegah Changi atau Dubai, tapi saya merasakan betapa semuanya berjalan efisien dan efektif. Rasanya, inilah yang menjadi kunci kehebatan Taiwan. Keluar dari bandara, anda akan dibawa menuju kawasan pinggiran kota Taipei, kota berpenduduk sebesar populasi Surabaya.

Taiyuan International Airport
Taiyuan International Airport

Sekali lagi, Taipei bukanlah Singapura, ataupun Kuala Lumpur yang dipenuhi dengan bangunan-bangunan megah, baru, iconic, dan keren. Taipei adalah sebuah kota dengan blok-blok bangunan lawas yang berfungsi sempurna sebagai sebuah tempat tinggal ataupun pemukiman. Rasanya, menurut saya, Taipei tak begitu memusingkan bagaimana mempercantik kotanya, namun lebih mengedepankan bagaiman kota ini berfungsi sempurna, dengan infrastuktur, kenyamanan, dan konektifitas yang memadai dan efisien., Sekali lagi, bisa jadi, ini adalah kunci kedua kebangkitan negeri ini. 

Baca Juga
Blok dan blok pemukiman
Blok dan blok pemukiman

Siapa sangka, dibalik gedung-gedung tua tersebut, "tersembunyi" berbagai raksasa teknologi dunia yang produknya kita pakai sehari hari. Dan pertanyaan kembali mengemuka, apa resep Taiwan?  (Tulisan berikut adalah yang pertama dari setidaknya 3 tulisan mendatang)

Taiwan, adalah satu dari contoh keajaiban Asia, bersama dengan Singapura, Korea Selatan, dan Hongkong. Pulau Taiwan, yang dulunya disebut Formosa ('Pulau yang Cantik" dalam bahasa Portugis) ini memang bukanlah pulau yang terlalu besar. Luasnya hampir sama dengan luas Propinsi Jawa Barat. 

Sebelum berubah menjadi Taiwan, dulu dikenal dengan nama "Formosa". Nama Formosa berasal dari penjelajah Portugis yang "menemukan" pulau tersebut pada abad 16. Formosa artinya "Pulau yang indah". 

‘The Island Formosa and the Pescadores‘, digambarkan oleh Johannes Vingboons sekitar tahun 1640. Formosa adalah nama yang diberikan pada Taiwan oleh para penjelajah Portugis yang menemukan pulau tersebut pada abad ke-16 | Wikipedia
‘The Island Formosa and the Pescadores‘, digambarkan oleh Johannes Vingboons sekitar tahun 1640. Formosa adalah nama yang diberikan pada Taiwan oleh para penjelajah Portugis yang menemukan pulau tersebut pada abad ke-16 | Wikipedia

Pada tahun 1949, pemerintahan Nasionalis China Kuo Min Tang (KMT) terpaksa mengungsi ke Taiwan karena terdesak oleh kekuatan komunis pimpinan Mao Zedong dalam perang sipil yang melanda China daratan. Para cendekiawan, kaum terpelajar, dan pebisnis yang sukses ikut mengungsi ke Taiwan. Penjajahan Jepang yang singkat ternyata meninggalkan infrastuktur yang memadai, seperti cadangan makanan yang cukup, industri kimia dan pengolahan bahan baku, juga infrastruktur jalan. Mereka juga membawa cadangan emas dari China daratan sebanyak $170 juta yang membantu menstabilkan mata uang dan menghindari inflasi. Bantuan keuangan dan kredit lunak, juga militer dan makanan, membantu Taiwan cepat berdiri sendiri, dan mampu melaksanakan program-program ekonominya dengan cepat. 

Li Kuo-Ting, arsitek kesuksesan Taiwan | News Lens Int'l
Li Kuo-Ting, arsitek kesuksesan Taiwan | News Lens Int'l

Itulah awal mula tumbuhnya Taiwan yang kita kenal sekarang. Dan, jika di Singapura kita mengenal sang arsitek ekonomi negara tersebut, yakni Lee Kuan Yew, di Taiwan, arsitek ekonominya adalah seorang insinyur Fisika bernama Li Kuo-Ting (1910-2001). Ia sarjana lulusan National Center University, Nanjing, yang kemudian melanjutkan studi ke Universitas Cambridge dalam bidang Fisika. Lulus pada 1934, Li kembali ke negerinya, terjun ke bidang industri perkapalan. Pada 1953, Li diangkat menjadi anggota Komisi Pengembangan Industri dengan tugas merencanakan pengembangan ekonomi Taiwan. Menjadi Menteri Ekonomi (1965-1969) dan Menteri Keuangan (1969-1976), Li tidak pernah mendapat pendidikan formal dalam ekonomi. 

Taipei metropolitan | World Population Review
Taipei metropolitan | World Population Review

Li menyadari sepenuhnya bahwa  pertumbuhan ekonomi Taiwan terhambat oleh kelangkaan sumber daya alam, modal, valuta asing, teknologi, dan keterampilan kewirausahaan. Melalui perencanaan ekonomi, pemerintah membangun infrastruktur dan memberikan insentif guna mempercepat tumbuhnya perusahaan-perusahaan swasta di Taiwan.

Pemerintah menyusun program investasi, memberikan pinjaman bunga rendah, membangun zona-zona industri, zona pemrosesan ekspor, dan taman industri berbasis sains. Menurut Li, ada dua peran yang dapat diambil pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi: mendukung perusahaan-perusahaan Taiwan dalam persaingan global dan memilih bidang-bidang produksi yang diprioritaskan. 

Taiwan, lambang kesuksesan Asia | Property Report
Taiwan, lambang kesuksesan Asia | Property Report

Taiwan kemudian membangun infrastruktur industri besar-besaran, komunikasi, dan mengembangkan sistem pendidikannya. Antara tahun 1952 hingga 1982, pertumbuhan ekonominya rata-rata 8.2% per tahun, dan pada 1983 hingga 1986, pertumbuhan rata-ratanya adalah 6.9%. GDP-nya juga tumbuh 360% dalam rentang 1965 hingga 1986. 

Pada tahun 1970, seiring 'ditendangnya' Taiwan dari keanggotaan PBB, negara tersebut justru makin terpacu membuktikan diri sebagai kekuatan ekonomi. Pemerinah memulai memperbesar dan memodernisasi industrinya, terutama di bidang teknologi, seperti microelectronics, PC, dan spare partnya. 

Banyak merk-merk teknologi dari Taiwan yang menjadi penyuplai penting bagi perusahaan-perusahaan global seperti DEC atau IBM, dan mereka pun mulai melebarkan sayapnya ke Silicon Valley dan tempat-tempat lain di AS. 

Pada dekade 80'an, Taiwan telah menjadi kekuatan ekonomi penting di Asia, dengan ekonomi yang makin matang dan terdiversifikasi, dengan kehadirannya yang makin diperhitungkan di dalam pasar global, pun punya cadangan devisa yang tinggi. Perusahaan-perusahaannya mampu menancapkan kaki ke negara lain, memproduksi produk-produknya di negara lain, berinvestasi secara masif di Asia (terutama China), dan di negara-negara OECD, terutama AS. 

Pada tahun 1952, pendapatan nasional perkapitanya hanya $170, setara dengan Congo (waktu itu bernama Zaire). Pada 2008, sudah mencapai $32,000. 

Menurut pengamat ekonomi Dwight Perkins menyatakan bahwa keberhasilan Taiwan dalam waktu yang begitu cepat, karena mereka meningkatkan produktifitas negaranya. Dorongan produktifitas ini dicapai melalui reformasi tanah, perubahan struktural (urbanisasi dan industrialisasi), peningkatan pendidikan kepada rakyatnya, dukungan terhadap riset dan teknologi, dan kebijakan ekonomi dalam mendorong ekspor, bukan mensubstitusi impor.

Banyak yang kita bisa pelajari dari keajaiban Taiwan ini, inilah salah satu negara yang tak mempunyai sumber daya alam sebesar Indonesia, dan bisa menjadi salah satu negeri paling makmur di Asia. Taiwan bisa juga menjadi tempat belajar, bagaimana membangun kebijakan-kebijakan ekonomi, hingga dijuluki "Laboratory of Economic Policy"

Referensi:

http://www.taiwan.com.au/Polieco/History/ROC/report04.html

http://historycooperative.org/#FOOT16

http://www.povertyeducation.org/the-rise-of-asia.html

http://aipi.or.id/admin/assets/pdf/pdf_file/011014_belajar_dari_keajaiban_taiwanpdf_EPDJZ.pdf

https://www.forbes.com/sites/danielrunde/2015/05/26/taiwan-development-model-freedom-prosperity/#781c41c9670c 

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi33%
Pilih TerpukauTerpukau67%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie