Lupa Sandi?

Taipei Symposium 2017: Wadah Potensial Penguatan Hubungan Indonesia - Taiwan

Rahmandhika Firdauzha Hary Hernandha
Rahmandhika Firdauzha Hary Hernandha
0 Komentar
Taipei Symposium 2017: Wadah Potensial Penguatan Hubungan Indonesia - Taiwan

"Taiwan, adalah salah satu bagian dari Asia—saya menyebutnya hanya existing political entity—karena kami adalah bagian dari negara China, akan tetapi Taiwan memiliki potensi besar untuk bekerja sama dengan Indonesia," ujar Ching-Lung Tsay, professor dari Tamkang University, Taiwan.

Sebuah pernyataan unik yang berhasil memantik atmosfer diskusi saat sesi panel di Taipei Symposium 2017 hari ini (23/3), tak terkecuali Akhyari Hananto, founder of Good News From Indonesia, yang menanyakan tentang 'kapan kebijakan bebas visa mulai diberlakukan Taiwan untuk Indonesia'. Serta pertanyaan-pertanyaan kritis lain dari para peserta.

Suasana diskusi di Taipei Symposium 2017 sangatlah menarik jika digali lebih dalam, tapi tahukah kamu acara seperti apa sih Taipei Symposium 2017 ini?

Taipei Symposium 2017 adalah acara yang digawangi oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia, PPI Asia-Oseania, dan PPI Taiwan, dengan menggandeng Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei dan juga Taiwan Trade and Economic Office (TETO) sebagai lembaga pendukung utama. Symposium ini dilangsungkan selama dua hari, 23-24 Maret 2017 di National Chengchi University, Taipei, Taiwan. Menurut Pitut Pramuji, "Symposium kali ini merupakan upaya untuk memperkuat hubungan kerjasama antara Indonesia dengan Taiwan, lewat aspirasi pemikiran mahasiswa," saat memberikan sambutan di awal acara.

Topik yang diangkat dalam Taipei Symposium 2017 ada dua yang terbagi dalam dua hari. Tema yang diangkat di hari pertama ini adalah Transformation of Indonesia-Taiwan Relations Under New South Bound Policy: Retrospect and Prospect for Future Cooperation, yang akan lebih menitikberatkan pada efek kebijakan New South Bound Policy yang diberlakukan oleh Taiwan di 2017 terhadap celah kerjasama positif dengan Indonesia. Sedangkan untuk hari ke-2, tema yang diangkat adalah Enhancing 'Mental Revolution' in Indonesia's Education Sector: Challenges in the 21st Century.

Selain sebagai upaya penguatan kerjasama antara Indonesia dengan Taiwan, momentum bersejarah: Taipei Symposium 2017 ini akan menjadi agenda untuk pertemuan akbar antar mahasiswa Internasional lewat "Konsolidasi PPI Asia-Oseania" yang akan digelar Sabtu nanti.

Lewat acara ini, sangat jelas terlihat bahwa mahasiswa Indonesia—meski telah jauh merantau di luar negeri—tak pernah sedikitpun melupakan kulit-nya, Indonesia. Terbukti, masalah utama yang menjadi fokusan adalah masalah kekinian bangsa Indonesia yang sangat menarik untuk diulas dan dikaji lebih jauh, demi satu harapan besar: kemajuan bangsa Indonesia.

#KotakAjaib


Sumber :

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG RAHMANDHIKA FIRDAUZHA HARY HERNANDHA

Mahasiswa di National Central University, Taiwan. Mengambil bidang study Material (ilmu bahan) dan fokus pada Magnesium sebagai obyek riset sejak S1. Selain kuliah, hobi sampingan saya adalah membaca ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara