Lupa Sandi?

Perkenalkan, Kafe Tempe Tahu Pertama di Jerman

Thomas Benmetan
Thomas Benmetan
2 Komentar
Perkenalkan, Kafe Tempe Tahu Pertama di Jerman

Pesona tempe dan tahu sebagai ikon kuliner Indonesia kian meroket. Di Jepang ada Rustono Tempeh yang menjadi raja tempe negeri Sakura. Sementara di Eropa, mulai dari Belanda, Inggris, Polandia dan berbagai negara lainnya mulai berseliweran para pedagang tempe, mulai dari orang Indonesia hingga warga asli negeri tersebut.

Tren masa kini di benua biru menunjukkan bahwa Tempe kini menjadi salah satu makanan yang paling dicari – cari, terutama oleh kaum vegetarian yang menjadikan makanan ini sebagai pengganti daging. Selain itu, makanan sehat dan organik menjadi salah satu yang paling diminanti. Pada posisi ini, tempe menjadi salah satu jawaranya.

Kini, tempe kembali merambah ke negeri Panzer. Sebuah kafe dengan nama Sojahaus Setia di kota Nuremberg menyediakan menu – menu tempe dan tahu asli indonesia. pemiliknya pun orang Indonesia. Setia Nugraha, pria asal tanah Sunda yang kini menetap di Jerman menyatakan bahwa awal mula mendirikan kafe ini adalah karena keinginannya untuk membuka usaha sendiri. Bersama istrinya, mereka sepakat untuk memulai usaha di bidnag kuliner karena latar belakangnya yang bisa memasak, yaitu mendirikan sebuah Food Truck dengan menu masakan Indonesia.

Selain itu,Kote Nuremberg merupakan salah satu kota dengan food truk terbanyak di Jerman. Peluang yang cukup besar untuk membuka usaha kuliner. Apalagi, food truck dengan tema Asia, khususnya Indonesia belum ada di kota tersebut.

Setia Nugraha (kiri) (www.facebook.com/sojahaussetia)
Setia Nugraha (kiri) (www.facebook.com/sojahaussetia)

Beberapa menu yang direncanakan adalah menu vegetarian seperti buerger nasi atau burger mie dengan tempe. Namun, sebuah pertanyaan muncul dilatarbelakangi kesulitannya mendapatkan tempe sebagai bahan baku, karena tempe hanya ada di Asian Stroe saja. Setia pun berinisiatif untuk belajar membuat tempe berbekal youtube dan pengetahuan yang ia dapat dari internet. Dari internet pula ia mengetahui bahwa di berbagai negara, banyak sekali orang – orang yang mulai berdagang tempe, baik itu warga keturunan indonesia maupun warga asli negara tersebut.

Hal tersebut akhirnya menjadi perenungan bagi Setia, tempe adalah produk asli indonesia, dan sebagai orang Indonesia ia tentu memiliki keuntungan tersendiri apabila ia terjun untuk memasarkan dan mengolah tempe secara lebih total. “saya tidak mau kalah dengan bule – bule yang sudah terkenal dengan warung tempe mereka,” ujarnya. Setelah bisa memproduksi tempe, Setia pun disarankan oleh istrinya untuk memproduksi tahu. Tidak tanggung – tanggung, pada Juni 2016 ia kembali ke Indonesia, mengunjungi sebuah rumah tempe di Bogor serta mempelajari pengolahan tahu pada para pengrajin tahu di Bandung. Hasilnya cukup menakjubkan. Tempe dan tahu buatan Setia kualitasnya jauh lebih baik dari tempe dan tahu yang biasa tersedia di Asian Store.

Dari sanalah muncul ide untuk terjun dalam dunia tempe. Bersama istrinya, Katharina, mereka dihadapkan pada dua pilihan, akan menjafi produsen tempe, atau menjadi produsen sekaligus mengolah dan memasarkan tempe dalam bentuk makanan olahan. Setelah sekian lama mencari tempat, akhirnya ditemukanlah sebuah tempat dengan konsep kafe. Maka berdirilah Sojahaus Setia, kafe tempe dan tahu yang menyediakan produk – produk olahan dari tempe dan tahu yang diproduksi oleh mereka.

Profduk tempe dan tahu yang ada di Sojahaus Setia (sojahaus-setia.net)
Profduk tempe dan tahu yang ada di Sojahaus Setia (sojahaus-setia.net)

Sojahaus sendiri memiliki arti yang cukup sederhana, namun mendalam. Sojahaus berarti rumah kedelai, yang mengisyaratkan bahwa tempat mereka menyediakan produk – produk hasil olahan kacang kedelai seperti tempe dan tahu. Kata Setia sendiri berasal dari nama Setia, serta foto wajahnya yang dijadikan sebagai logo. “Karena ceria,” jelasnya. Selain menjadi kafe, Sojahaus Setia juga menjadi tempat – tempat pertemuan untuk hal – hal yang berbau indonesia. Karena itu, interior kafe ini menitikberatkan pada tema Indonesia dengan sentuhan modern. Didalamnya ada galeri foto, angklung serta batik. Menu berbahan dasar tempe dan tahu cukup mendominasi, mulai dari tempe oreg, tahu balado, tempe kecap, gulai tahu dan sebagainya. Selain itu, ada juga menu masakan Indonesia lainnya seperti gado – gado, capcay, tumis kangkung dan sebagainya. masakan – masakan fusion modern seperti wrap gado – gado, burger tempe tahu pun disediakan di kafe ini. Sojahaus memang lebih menitikberatkan menu makanan vegetarian.

Kafe tempe tahu ini buka mulai pukul 11.30 - 18.00 (facebook.com/sojahaussetia)
Kafe tempe tahu ini buka mulai pukul 11.30 - 18.00 (facebook.com/sojahaussetia)

(sojahaus-setia.net)
(sojahaus-setia.net)
(sojahaus-setia.net)
(sojahaus-setia.net)

Sebagai kafe tempe dan tahu yang pertama kali berdiri di Jerman, respon positif atas keberadaan Sojahaus Setia pun dituai pasangan suami istri ini, tidak hanya dari warga Indonesia di Jerman namun dari warga asli Jerman sendiri. Warga Indonesia di Jerman menyambut dengan positif, karena akhirnya ada orang Indonesia yang memperkenalkan produk asli indonesia di negeri tersebut dimana mereka bisa dengan mudah mendapatkan tempe, tahu bandung dan tahu sumedang dengan citarasa yang sama seperti di negeri sendiri.

Setia dan Katharina  beserta Sojahaus dalam salah satu koran lokal di Jerman (facebook.com/sojahaussetia)
Setia dan Katharina beserta Sojahaus dalam salah satu koran lokal di Jerman (facebook.com/sojahaussetia)

Warga Jerman sendiri cukup antusias denga adanya Sojahaus Setia. Apalagi, bahan – bahan utama seperti kedelai masih didapatkan Setia dari petani lokal di Jerman dengan kualitas kedelai organik yang cukup bagus. Sehingga menu – menu yang tersedia pun bisa terjamin akan kualitasnya. Tidak hanya itu, Sojahaus sudah beberapa kali diliput oleh media massa di Jerman karena keunikannya dalam mengenalkan dan mempopulerkan tempe di negeri tersebut. Tempe kini makin mendunia!

*GNFI

Pilih BanggaBangga71%
Pilih SedihSedih2%
Pilih SenangSenang10%
Pilih Tak PeduliTak Peduli2%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi10%
Pilih TerpukauTerpukau5%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG THOMAS BENMETAN

A Fulltime life-learner who lost himself into book, poem, Adventure, travelling, hiking, and social working. Graduated from Faculty of Communication Science, Petra Christian University. Currently pur ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara