Lupa Sandi?

Hiromi Kano, Potret Warga Asing yang Mencintai Kesenian Jawa

Candriko Pratisto
Candriko Pratisto
0 Komentar
Hiromi Kano, Potret Warga Asing yang Mencintai Kesenian Jawa

Dalam pertunjukan Gamelan dan Wayang, tak jarang kita jumpai penyanyi wanita atau biasa disebut pesinden yang kerap nembang Jawa yang liriknya berisi petuah-petuah kehidupan.

Mendengar lantunan tembang yang merdu dan mendayu-dayu dari seorang pesinden atau waranggana, mungkin yang ada dalam benak kita adalah seorang wanita Jawa yang mengenakan pakaian tradisional Jawa, lengkap dengan kondenya. Namun, siapa yang mengira kalau suara mendayu-dayu dengan langgam Jawa yang luwes itu dilafalkan oleh pesinden asal negeri Sakura? 

Hiromi Kano, wanita asal Jepang yang sejak tahun 1996 mendalami kesenian Jawa khususnya Karawitan. Awal mula kecintaannya pada Gamelan Jawa adalah karena Gamelan dimainkan tanpa notasi, sehingga hal ini memunculkan kesan aneh menurutnya. Meski aneh, akan tetapi pemainnya sangat menikmati lantunannya. Keanehan itu datang karena selama kuliah, ia belajar musik barat klasik di Tokyo College of Music, sehingga ketika bertemu mata kuliah pilihan tentang kesenian Jawa, hal ini menjadi hal baru yang ia jumpai. 

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Hiromi Kano, sedang memainkan Rebab di kantornya di wilayah Mojosongo Solo (© Ahmad Rafiq dari Tempo.co

Merasa asing dengan Gamelan Jawa, membuatnya terus terngiang oleh alat musik tradisional ini. Inilah yang membuatnya penasaran dengan Gamelan Jawa. 

Rasa penasarannya, semakin membuatnya terdorong untuk belajar Gamelan di kampus. Hingga suatu titik, ia berniat untuk berhenti mempelajari Gamelan Jawa karena mata kuliah Gamelan Jawa di kampusnya kurang menarik minatnya. Akan tetapi sebelum benar-benar berhenti mempelajari Gamelan, ia berniat menghabiskan waktu liburannya pergi ke Indonesia untuk melihat Gamelan di TMII dan belajar gamelan di Jawa Tengah di tahun pada tahun 1988. Gamelan dan pertunjukkan wayang yang ia lihat di Indonesia, membuatnya terkesan atau ia biasa menyebutnya culture shock lantaran hal ini berbeda sekali dengan yang selama ini ia ketahui di kampusnya. 

Dari pengalaman liburannya di Indonesia, akhirnya ia kembali menekuni kesenian Jawa ini. 

Usahanya dalam mempelajari Gamelan tentu tidak mudah. Ibunya berharap setelah Hiromi lulus dari Tokyo College of Music, ia menjadi guru piano atau guru instrumen musik lainnya bukan menjadi seorang pemain Gamelan. Namun, Hiromi enggan menerima harapan ibunya, karena ia merasa menjadi seorang pemain instrumen musik termasuk Gamelan adalah profesi yang baik untuk dirinya. 

“Saya menyekolahkanmu di Tokyo College of Music bukan untuk belajar Gamelan.” Ingatnya pada acara Kick Andy. 

Ketidaktertarikan ibunya pada Gamelan semakin menjadi, ketika Hiromi berupaya meyakinkan ibunya mengenai kesenian ini. Suatu ketika, ia mengundang ibunya untuk datang melihat pementasan Gamelan di kampusnya yang kala itu dimainkan oleh orang-orang Jepang yang sedang mempelajari Gamelan. Melihat pertunjukan itu, ibunya semakin tidak suka dan kecewa dengan kesenian ini, lantaran menurutnya tidak menarik dan buruk, sehingga Mitori meragukan putrinya bisa lebih baik. 

Di tahun 1996, Hiromi datang lagi ke Indonesia dengan niat ingin mempelajari lebih dalam tentang Gamelan Jawa di ISI Surakarta. Keinginannya belajar Gamelan di Surakarta membuat ibunya menyerah, tapi di sisi lain banyak teman-temannya di bidang yang sama mendukung langkahnya ini. 

“Delapan tahun setelah itu saya baru bisa kuliah di ISI dengan beasiswa pemerintah Indonesia. Sebelumnya saya mencari beasiswa ke mana-mana, tapi selalu gagal. Orang tua tidak setuju, tapi saya nekat berangkat. Saya benar-benar jatuh cinta dengan gamelan. Paino saya tinggalkan.” Kata Hiromi pada Soloraya.com. 

Ikut kursus sinden

Selain belajar Gamelan Jawa di ISI, Hiromi juga mengikuti kursus sinden untuk menambah pengetahuannya akan kesenian Jawa. Selama belajar nyinden dengan Bu Supadmi dan almarhum Pak Tarman, tantangan yang ia hadapi adalah bahasa Jawa dan laras. Menurut Hiromi, dalam bahasa Jepang, pelafalan seperti misalnya “er”, “en”, dan “é” tidak ada, sehingga hal ini menjadi tantangan baginya. Karena tekdanya yang kuat untuk mempelajari kesenian Jawa, membuatnya berhasil dalam melafalkan huruf-huruf tersebut dengan baik. Karena sudah fasih, orang lain tidak ada yang mengira kalau dia orang Jepang yang tampil sebagai pesinden. 

Perjalanannya mempelajari kesenian Jawa tidak mudah, karena ia membiayai kuliahnya sendiri ditambah lagi karena ia warga negara asing, sehingga biayanya sepuluh kali lipat dari mahasiswa domestik. Sampai suatu saat uang tabungannya hampir habis dan pikir Hiromi ia tidak dapat melanjutkan studinya. 

“Saat itu, tabungan saya sudah hampir habis. Saya pikir hanya bisa memperpanjang satu semester lagi.” Jelas Hiromi pada Harianjogja.com. Tetapi, nasib berkata lain, di tahun 1997 ia banyak mendapat tawaran pementasan Gamelan. Hasil dari pementasan itulah ia kumpulkan untuk membiayai kuliahnya sampai selesai dan membiayai hidupnya di Solo. Meski banyak tawaran yang datang padanya, ia terpaksa menolak beberapa ajakan dalang, karena waktu pentas sering bertabrakan dengan jadwal kuliah. 

“Saya tidak ingin kuliah berantakan. Saya ke Indonesia untuk kuliah. Saya malu kalau kuliah tidak selesai.” Uangkapnya kepada Soloraya.com 

Karena aktif di berbagai pementasan, sampai di tahun 2001, ia diajak tampil sebagai pesinden di Jepang oleh dalang KI Manteb Sudharsono dalam pementasan wayang kulit. Sebelumnya, Hiromi sudah mengajak dan meyakinkan ibunya yang kala itu kecewa dengan pementasan Gamelan. Ibunya pun sempat menolak ajakan Hiromi kala itu. 

Reaksi Mitori berubah ketika melihat anaknya tampil di atas panggung sebagai pesinden dalam pentas pewayangan. Saat itu lah ibunya mulai mendukung Hiromi menjadi seorang pesinden. 

“Sepulangnya dari menonton pagelaran itu, ibu saya bilang ternyata kebudayaan Jawa [wayang dan sinden] bagus. Kemudian beliau mengizinkan saya berprofesi sebagai sinden. Saya senang sekali” Kesan Hiromi pada Harianjogja.com. 

Sebagai pesinden, Hiromi punya komitmen untuk menyanyikan tembang berbahasa Jawa. Hiromi sama sekali tidak tertarik untuk memadukan atau menggantinya dengan bahasa Jepang, terkecuali lagu Bangawan Solo yang memang ada versi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Ia pun menegaskan bahwa perpaduan atau penggantian bahasa bukan tujuannya dalam menyinden. 

“Hal seperti itu banyak diminta oleh dalang untuk menampilkan sesuatu yang berbeda. Tapi, saya selalu menolak.” Katanya. Hiromi melanjutkan, “Kalau untuk cari nama sangat bisa. [Tapi] tujuan saya bukan itu. Bukan untuk jadi sinden kondang di Indonesia.” Dilansir dari CNN. 

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Hiromi menyinden di atas panggung (© Siti Mauliana dari maulianasiti3.blogspot.co.id)
Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
 © Agustinus Sukandar dari Flickr.com

Hiromi seperti orang Jepang pada umumnya, yang terkenal menjunjung tinggi nasionalisme. Di satu sisi ia mencintai Indonesia, terutama Solo, namun sisi yang lain ia juga cinta dengan tanah kelahirannya di Jepang. 

“Saya sudah belasan tahun tinggal di Indonesia. Saya cinta Indonesia dan Jepang. Semua ada lebih dan kurangnya.” Dikutip dari CNN. Sampai saat ini Hiromi masih menjalani profesinya sebagai pesinden. Wanita yang menyukai alat musik Gender ini, kerap menerima tawaran pementasan dari kota ke kota. 


Sumber : Dari berbagai sumber

Pilih BanggaBangga41%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi14%
Pilih TerpukauTerpukau45%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG CANDRIKO PRATISTO

Senang mengkhayal di tengah bercerita ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie