Payakumbuh

Hasil survei bertajuk World’s 50 Most delicious Foods dari CNN yang meletakkan rendang sebagai makanan terlezat di dunia bukan tak beralasan. Cita-rasa yang terkandung dalam warisan kuliner Ranah Minang ini memiliki kekhasan tersendiri, baik dari rasa hingga olahan. Hikayat Amir Hamzah pun begitu ternama menggambarkan betapa olahan daging ini sudah dikenal bahkan sebelum abad ke 16.

Tak ayal, penobatan makanan terlezat tersebut membuat rendang menjadi salah satu kuliner yang diminati banyak kalangan. Beragam menu olahan rendang pun semakin dilirik sebagai usaha yang menjanjikan. Salah satu yang terjun dalam peluang tersebut adalah usaha Rendang Gadih.

Kami pun melakukan kunjungan ke sentra oleh-oleh rendang ini. Beralamat di jalan Soekarno-Hatta Payakumbuh, tim disambut langsung oleh Manajer Sales dan Production Planning and Inventory Control (PPIC), Witrya Dameiyanti, SE. Mengenakan setelan merah muda, wanita yang akrab disapa Kak Dewi ini menyalami tim dengan ramah. Kami pun diajak ke ruangan kerjanya.

“Rendang Gadih ini tetap menggunakan bahan baku lokal. Kita tak mau tergiur dengan harga daging impor yang memang relatif lebih murah. Rendang Gadih, rumah potongnya sudah punya sertifikasi halal, serta daging sapi lokal yang mutunya terjamin,” terang Dewi di awal.

Mengenai harga bahan baku, Dewi sendiri mengakui sapi lokal tergolong mahal. Bila daging impor memiliki kisaran harga 80.000 hingga 90.000 ribu rupiah per kilo, daging lokal justru berada pada harga 115.000 hingga 120.000 rupiah per kilo.

Dengan harga bahan bau tersebut, olahan Rendang Gadih dibandrol dengan harga 260.000 per kilo di awal. Namun saat ini kemasan dibuat lebih variatif dengan 80.000 rupiah per 250 gram dan 155.000 rupiah per 500 gram. Pengemasan yang variatif ini dinilai membuat Rendang Gadih lebih menarik untuk dijadikan oleh-oleh. Selain itu, target masyarakat urban yang sibuk sebagai target market membuat Rendang Gadih mempertimbangkan kemasan yang lebih instan.

Untuk produk rendang sendiri, Rendang Gadih memiliki enam macam varian, yakni rendang tumbuk, rendang iris, rendang jengkol, rendang paru, rendang ayam, serta rendang telur ayam. Pembuatan dari setiap produk juga menggunakan cara khusus.

“Rendang tumbuk, dagingnya kita giling dulu tapi tanpa tepung. Jadi kita tidak menyebutnya rendang bakso karena memang bukan bakso sama sekali. Kenapa tidak hancur? Karena kita membuatnya menggunakan cetakan,” terang Witrya Dameiyanti.

Rendang Gadih sudah memiliki alat dan mesin produksi standar pabrik. Namun untuk beberapa tahap pengolahan seperti memasak rendang, diakui masih dimasak secara manual.

“Usaha ini hingga sekarang punya produk yang best seller itu rendang tumbuk. Rendang Gadih, sebagai brand yang coba kita kenalkan di awal membawa satu-satunya rendang tumbuk sebagai produk. Awalnya kita kesulitan mengenalkan Rendang Gadih, orang sering bertanya, ‘rendang gadih itu apa?’ Tapi akhirnya kita mampu menjelaskan kalau Rendang Gadih itu brand, sementara ada beberapa olahan rendang yang kita produksi di dalamnya” kenang Dewi.

Usaha keluarga yang dijalankannya ini diakui sering ditanggapi salah kaprah oleh konsumen luar Sumatera Barat. Menurutnya, konsumen kerap mengira Rendang Gadih merupakan jenis rendang tersendiri. Mengenalkan Rendang Gadih sebagai brand, serta mengenalkan

“Rendang Gadih sendiri saat ini sudah memiliki reseller di Korea Selatan. Sebagai teman dari adik kami yang berkuliah di sana dan hobi menjalankan usaha. Nah, untuk di Korea ini awalnya kita kirim rendang tumbuk dan rendang iris. Rupanya yang favorit itu rendang iris,” terangnya.

Namun siapa sangka, pasar Korea justru kemudian lebih meminati olahan rendang jengkol. Melihat permintaan tersebut, Rendang Gadih langsung meracik olahan untuk produk barunya. Sebelum merilis, Dewi mengakui melakukan banyak uji rasa dan testimoni.

“Kita kirim sana, kirim sini. Kirim ke sanak keluarga, ke teman. Alhamdulillah setelah dapat, kita launching rendang jengkol. Bahkan Jabodetabek, juga daerah Timur rendang jengkol megang. Baru setelah itu rendang paru, rendang ayam dan rendang telur ayam dilaunching berbarengan. Rendang Gadih saat ini juga sudah menembus pasar Singapura, Hongkong dan Taiwan. Selain itu juga kerap dipilih pelancong untuk oleh-oleh ke Jerman, Paris, Jepang dan Amerika."

Rendang Gadih, aku Dewi sangat memperhatikan permintaan konsumen. Hal ini diungkapkannya saat salah satu pelanggannya menyarankan rendang tumbuk dibuat menjadi dua varian. Awalnya rendang tumbuk hanya disajikan dengan rasa pedas.

“Kalau spicy ‘kan khusus untuk dewasa. Kita ingat, ini ada konsumen kalangan anak-anak. Dari sana kita coba bikin rendang tumbuk manis.”

Selain itu ada 6 jenis seri balado, seperti dendeng balado, tribolado, jengkol balado, belut lado merah, belut lado hijau, serta belut kering balado. Lebih lagi, ada beberapa jenis keripik dan cemilan yang disajikan outlet-outlet Rendang Gadih yang ada.

Rendang Gadih sendiri serius dalam menjamin kualitas produknya. Dengan penggunaan bahan baku lokal yang berkualitas, produksi yang sudah memenuhi standar pabrik, serta kemasan yang menarik, Rendang Gadih sejak awal sudah menargetkan kalangan menengah ke atas sebagai marketnya. Hal ini membuat usaha ini dijalankan secara serius.

Mengenai omset penjualan, Kak Dewi terbuka menyampaikan usaha Rendang Gadih mampu menyentuh angka dua ratus juta per bulan. Diakuinya capaian tersebut tidak terlepas dari metode penjualan yang tidak hanya melalui outlet dan toko, tapi juga dijajakan secara online. Sejak September 2015, Rendang Gadih sudah meluncurkan produknya melalui jejaring sosial dan web tersendiri.

Tak kalah dalam hal manajerial, usaha keluarga ini memiliki struktur pimpinan. Rendang Gadih sendiri didirekturi oleh Dedy Syandera Putera, ST. Rendang Gadih juga dimanajeri oleh beberapa bidang seperti Quality Control dan Logistic Manager, Riko Ekaputra, SE; Sales dan PPIC Manager, Witrya Dameiyanti, SE; Production Manager, Dra. Hj. Anwida; Marketing Manager, Brigita Lidya Syahniva, ST; serta HRD Manager, Drs. H. Syafruddin.

Witrya Dameiyanti juga berpesan pada pengusaha UMKM lain yang ada, baik di Kota Payakumbuh, serta di Sumatera Barat agar optimis dalam menjalankan usaha. Ia juga menyarankan agar jangan takut dalam memasarkan produk secara online. Menurutnya, pasar e-commerce cukup tinggi untuk menjualkan produk-produk yang diproduksi oleh para pengusaha lokal. Lebih penting, menurutnya, para pengusaha juga meningkatkan standar pelayanan terhadap konsumen agar minat terhadap produk yang dijajakan semakin tinggi. (Novaldi Herman/Dodi Syahputra)

Sumber : http://pondokpromosi.com/mengemas-warisan-kuliner-khas-sumatera-barat-ukm-di-payakumbuh-rendang-gadih-taklukkan-korea/

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu