Lupa Sandi?

Salak Pondoh Indonesia Kini Tiba di Negeri Kiwi

Luqman Saputro
Luqman Saputro
0 Komentar
Salak Pondoh Indonesia Kini Tiba di Negeri Kiwi

Dengan ciri-ciri berbentuk bulat agak lonjong, bersisik warna cokelat, dan pas digenggam, sebagian besar orang Indonesia tidak asing lagi dengan buah yang satu ini. Salak adalah buah asli Indonesia yang berasal dari Pulau Jawa dan Sumatera serta juga ditemukan di Pulau Bali. Salak-salak di Indonesia memiliki cita rasa yang beragam namun khas. Mulai dari masam segar hingga manis legit serta bertekstur renyah hingga terasa seperti pasir di lidah.

Kebun Salak di Bogor © W. A. Djatmiko / CC BY-SA 3.0 (via Wikimedia Commons)
Kebun Salak di Bogor © W. A. Djatmiko / CC BY-SA 3.0 (via Wikimedia Commons)

Tak hanya di Indonesia, buah salak juga dapat ditemui dan dinikmati di beberapa penjuru dunia. Mulai dari Asia Tenggara hingga Eropa. Dan baru-baru ini, salak Indonesia mulai merambah pasar Selandia Baru. Capaian ini merupakan buah dari negosiasi dan kerja keras yang dilakukan oleh Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian (Barantan Kementan) Republik Indonesia dalam memperjuangkan masuknya salak Indonesia di Selandia Baru. Berkat itulah, salak pondoh Indonesia berhasil memenuhi persyaratan Import Health Standard (IHS) Selandia Baru. Dengan kata lain, salak pondoh telah dicap layak untuk dijual dan dinikmati oleh masyarakat Selandia Baru.

Terdapat alasan tersendiri mengapa salak pondoh yang menjadi andalan ekspor Indonesia di mancanegara, khususnya Selandia Baru. Menurut Kepala Barantan Kementan Banun Harpini, salak pondoh Indonesia, khususnya salak super Sleman, memiliki daging dengan cita rasa manis, bertekstur garing, serta beraroma sedap. Keunggulan inilah yang membuat salak pondoh disukai oleh banyak orang.

Lebih lanjut, menurut Banun, masuknya salak pondoh ke Selandia Baru menandakan bahwa salak Indonesia memiliki mutu yang tinggi dan layak untuk menjadi komoditas ekspor yang terbaik. Terlebih Selandia Baru merupakan negara yang mematok standar tinggi untuk barang-barang impor.

Baca Juga

“Keberhasilan salak Indonesia menembus pasar Selandia Baru merupakan pencapaian penting. Sebab, Selandia Baru merupakan negara yang memiliki standar phytosanitary tinggi,” kata Banun seperti yang dikutip dari Beritasatu.

Pada Maret 2017, Ministry for Primary Industres Selandia Baru mengeluarkan  © stuff.co.nz
Pada Maret 2017, Ministry for Primary Industres Selandia Baru menyatakan salak Indonesia memenuhi standar IHS © stuff.co.nz

Tingginya standar yang dipatok oleh Selandia Baru tersebut juga dipandang menjadi tantangan tersendiri bagi eksportir salak dari Indonesia. Fakta tersebut dikonfirmasi oleh Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati Barantan Kementan Antarjo Dikin yang mengatakan bahwa pada sebelumnya salak Indonesia mengalami kesusahan dalam menembus pasar Selandia Baru.

“Ekspor bisa dilaksanakan setelah kedua pimpinan Barantan Kementan berhasil negosiasi. Hal ini tetap dalam pemeriksaan dan monitoring petugas karantina Selandia Baru untuk melihat konsistensi. Menurut rencana, penandatanganan akan dilakukan sekitar dua bulan ke depan. Dimohon para eksportir sudah mempunyai mitra dengan importir di Selandia Baru,” kata Antarjo.

Berbicara tentang pasar mancanegara, salak Indonesia telah berhasil merambah sejumlah negara-negara Asia hingga Eropa. Berdasarkan data ekspor Indonesia, angka ekspor salak Indonesia mengalami peningkatan sebesar 4,24 persen. Volume ekspor pada 2015 yang sebesar 758.656,03 kg kemudian meningkat menjadi 790.888,05 kg pada tahun 2016.

“Tiongkok, Kamboja, Saudi Arabia, Singapura, dan Belanda menjadi Negara terbesar pengimpor salak Indonesia,” kata Banun.

Salak Indonesia dan Cita Rasanya yang Menggoda

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, salak merupakan buah endemik Indonesia yang mengalami persebaran di Asia Tenggara. Di Indonesia, terdapat beberapa varian buah yang memiliki nama latin Salacca zalacca tersebut. Salah satu contohnya adalah salak pondoh Sleman yang berasal dari Yogyakarta. Salak yang tumbuh secara alami dari tanah vulkanis Gunung Merapi tersebut mampu memberikan cita rasa yang disukai oleh banyak orang, baik dari Indonesia maupun luar negeri.

Selain itu, Indonesia juga memiliki salak Bali. Seperti namanya, salak tersebut memang berasal dari Pulau Bali. Salah satu kultivar salak Bali yang terkenal adalah salak gula pasir. Salak ini memiliki rasa yang lebih manis daripada salak-salak Indonesia lainnya. Meskipun berukuran mungil, namun salak gula pasir memiliki harga jual yang cukup tinggi hingga 90.000 Rupiah. Selain itu, salak ini juga dikenal sebagai bahan baku wine khas Bali.

Wine Salak, produk minuman beralkohol hasil fermentasi salak unggulan Bali © salaccawine.com
Wine Salak, produk minuman beralkohol hasil fermentasi salak unggulan Bali © salaccawine.com

Salak Indonesia memang mampu menggoda para penikmatnya hingga ketagihan. Mark Wiens, seorang blogger kuliner, berbagi kisahnya mengenai perkenalannya dengan salak di Yogyakarta pada tahun 2009. Pada saat itu, Wiens mengaku ketagihan dengan salak Indonesia dengan memakan 25 buah salak tanpa henti. Hingga akhirnya kawan lokalnya memperingatkan resiko konstipasi karena terlalu banyak memakan buah salak.

Buah salak, baik dimakan langsung maupun dijadikan manisan, memang menjadi buah favorit bagi banyak orang. Dari Indonesia hingga mancanegara. Bagi para penggemarnya, hanya konstipasi yang mampu menghentikan mereka untuk mengonsumsi salak. Dengan cita rasanya yang khas, memang tidak salah jika salak menjadi andalan komoditas ekspor Indonesia.


Sumber: Beritasatu dan Migrationology

Attribusi Gambar Utama: Jayson Emery / CC BY-SA 2.0 (via Flickr)

Pilih BanggaBangga67%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang17%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi17%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG LUQMAN SAPUTRO

Mahasiswa biasa, penulis cerpen amatiran, (mendaku sebagai) arek Suroboyo, juru kunci di masroyalbecak.blogspot.com ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata