Lupa Sandi?

Inilah Bapak Arsitektur Indonesia

Arifina Budi
Arifina Budi
0 Komentar
Inilah Bapak Arsitektur Indonesia

Hampir seluruh masyarakat Indonesia mengenalnya sebagai bapak proklamator Indonesia. Soekarno yang kita kenal memang merupakan seorang politikus, aktivis gerakan, dan pembangun bangsa yang ulung. Tanpa pemikiran-pemikiran briliannya untuk melepaskan bangsa Indonesia dari jerat penjajah Belanda, kita mungkin sekarang masih belum bisa menikmati hidup yang nyaman. Dan tanpa gagasannya, kita mungkin tidak akan menyaksikan ibukota Jakarta menjadi semegah sekarang.

Namun, nyatanya Soekarno tidak cuma punya kiprah besar di bidang politik melainkan juga bidang arsitektur. Jakarta yang kita saksikan sekarang merupakan buah pikir Soekarno sebagai seorang arsitek untuk membangun sebuah kota yang tidak lagi dipengaruhi oleh Belanda.

Ingatkah Kawan di mana dulu Bung Karno kuliah? Setelah lulus dari Hoogere Burgerschool (HBS) Surabaya tahun 1920, Soekarno muda kemudian melanjutkan sekolahnya ke Technische Hoogeschool Bandung jurusan teknik sipil. Sedangkan mata kuliah favoritnya adalah menggambar arsitektur. Minatnya ini mungkin dipengaruhi oleh Abikoesno Tjokrosoejoso, seorang arsitek yang memulai karirnya sejak tahun 1921. Selain itu, Soekarno juga berguru arsitek pada C.P Wolff Schoemaker yang sudah menjadi arsitek kondang pada tahun 1922. Kesukaannya menggambar ini juga dipengaruhi oleh hobinya sejak masa sekolah di HBS terhadap dunia seni. Soekarno waktu itu sudah mahir melukis dengan cat air sehingga di masa kuliah ia mendalami minatnya tersebut.

Bila menilik cerita perjuangan Soekarno, tampaknya ia memang lebih banyak berkecimpung di dunia politik demi membebaskan Indonesia dari tangan penjajah. Namun, di tengah kesibukannya mendalami ilmu politik dan aktif di bidang tersebut, Soekarno masih tetap mendalami ilmu yang dijalaninya semasa kuliah, yakni arsitektur.

Baca Juga
Soekarno meski punya kiprah di dunia politik Indonesia tapi juga berkiprah besar di bidang arsitektur Indonesia
Soekarno meski punya kiprah di dunia politik Indonesia tapi juga berkiprah besar di bidang arsitektur Indonesia

Soekarno lulus sebagai insinyur sipil dari THB pada tahun 1926, terlambat tujuh bulan karena ia harus cuti kuliah disebabkan ada urusan keluarga di Surabaya. Ia bersama tiga orang lainnya berhasil lulus sebagai bumiputera pertama lulusan Hindia Belanda. Dengan gelar yang tinggi sebagai insinyur tersebut seharusnya Soekarno punya masa depan yang cerah, mudah mendapatkan pekerjaan. Namun, Soekarno yang sejak awal sama sekali tidak suka dengan Belanda pun enggan untuk menjadi pegawai negeri yang mengabdi pada pemerintah Hindia Belanda.

Meski masih sibuk dengan aktivitas politik, Soekarno tetap mengawali karirnya di bidang arsitek. Proyek pertamanya adalah mengerjakan rumah bupati di Jawa Barat untuk BOW (Departement van Burgerlijke Openbare Werken) atau Departemen Pekerjaan Umum. Tapi ini juga dikerjakan semata-mata untuk menghormati gurunya yang cemas pada Soekarno, si murid kesayangan, yang lebih suka berpolitik. Selain itu, Soekarno juga sempat membantu gurunya C.P Wolff Schoemaker untuk proyek paviliun di Hotel Preanger-Bandung.

Kiprah di dunia arsitektur Indonesia

Gedung DPR dulunya adalah Gedung CANEFO yang digunakan untuk berkumpulnya negara-negara berkembang untuk membentuk kekuatan blok baru
Gedung DPR dulunya adalah Gedung CANEFO yang digunakan untuk berkumpulnya negara-negara berkembang untuk membentuk kekuatan blok baru

Sebenarnya, sejak muda Soekarno tidak pernah bercita-cita menjadi seorang arsitek kondang seperti guru-gurunya. Pribadi Soekarno sendiri sebenarnya adalah orang yang senang mencipta, maka dari itu baginya bidang arsitektur menjadi tempat aktualisasi dirinya untuk menciptakan sesuatu. Pun sebagai seorang arsitek, Soekarno pernah bilang pada gurunya C.P Wolff Schoemaker bahwa cita-citanya yang terbesar bukanlah sekedar membangun rumah, tetapi membangun bangsanya.

Dalam buku biografinya yang ditulis oleh Cindy Adams berjudul Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Soekarno mengungkapkan bahwa: 

"Irama suatu revolusi adalah menjebol dan membangun. Pembangunan mengjendaki jiwa seorang arsitek. Dan di dalam jiwa arsitek terdapatlah unsur-unsur perasaan dan jiwa seni. Seni memimpin sebuah revolusi adalah mencari inspirasi pada segala sesuatu yang kita lihat. Dapatkah seseorang memperoleh inspirasi dari sesuatu bila dia bukan seorang manusia yang penuh perasaan dan tidak punya darah seni sedikitpun?"
 

Sejak proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Soekarno sudah menyerahkan seluruh hidupnya untuk membangun bangsa ini sehingga fokusnya bukan lagi pada pekerjaan sebagai insinyur arsitek. Terlebih beberapa hari setelah proklamasi dirinya ditunjuk sebagai presiden, maka Soekarno lebih banyak berkiprah di bidang politik. Meski begitu, ilmu yang diperolehnya selama kuliah nyatanya tidak ditinggalkan begitu saja. Justru Soekarno memanfaatkan ilmu arsiteknya untuk membangun bangsa.

Patung Selamat Datang merupakan gagasan Soekarno untuk menyambut para delegasi Asian Games tahun 1962 di Jakarta
Patung Selamat Datang merupakan gagasan Soekarno untuk menyambut para delegasi Asian Games tahun 1962 di Jakarta

Lantaran lebih fokus pada perpolitikan bangsa, karya-karya arsitektur Soekarno bisa dihitung dengan jari. Namun, gagasan-gagasan arsitekturalnya telah memberikan banyak perubahan dalam pembangunan bangsa. Setidaknya kesadaran mengenai pembenahan arsitektur kota ini muncul setelah Soekarno melakukan kunjungan kenegaraan pertamanya setelah Indonesia diakui sebagai negara berdaulat ke New Delhi, India.

Di sana Soekarno menyaksikan sendiri kemajuan arsitektur dan perkotaan di ibukota India tersebut. Bersama Perdana Menteri Jawaharlal Nehru, Soekarno menyempatkan berjalan-jalan di sekitar New Delhi. Nehru kemudian menceritakan tentang keindahan-keindahan arsitektur bangunan-bangunan di New Delhi mulai dari sejarahnya hingga bagaimana bangunan dan kawasan tersebut tampak rapi, bersih, dan teratur. Entah bagaimana imajinasi dalam benak Soekarno mengenai Kota Jakarta ketika menyaksikan New Delhi, yang jelas sepulang darisana Soekarno sangat berapi-api untuk membangun Jakarta.

Tidak bisa dipungkiri memang karena pada masa pendudukan Jepang, Jakarta relatif terbengkalai. Pertempuran yang terjadi telah memprakporandakan wajah kota dibarengi dengan maraknya penyerobotan tanah yang membuat banyaknya penghunian liar dalam skala besar, jauh dari kebersihan dan ketertiban.

Kemudian Soekarno pun membentuk Dewan Perancang Nasional yang bertugas untuk menyusun pola pembangunan bangsa. Lantas dibuatlah program Pembangunan Nasional Semesta Berencana tahun 1961-1969 yang mengisyaratkan sejumlah proyek besar yang akan mengubah wajah Indonesia khususnya ibukota Jakarta.

Impian Soekarno adalah membangun Jakarta sebagai ibukota yang sejajar dengan kota-kota maju di seluruh dunia. Air mancur Bundaran HI ini merupakan buah imajinasinya
Impian Soekarno adalah membangun Jakarta sebagai ibukota yang sejajar dengan kota-kota maju di seluruh dunia. Air mancur Bundaran HI ini merupakan buah imajinasinya

Jejak gagasan arsitektur Soekarno bisa kita saksikan di Jakarta, seperti Monumen Nasional dan Tugu Nasional, Masjid Istiqlal, Stadion Gelora Bung Karno, Patung Selamat Datang, Hotel Indonesia, dan Gedung CONEFO. Pembangunan besar-besaran ditandai pada perhelatan Asian Games tahun 1962 yang berlangsung di Jakarta. Pembangunan-pembangunan tersebut lantas diposisikan sebagai simbol pembangunan kebangsaan negeri yang berdikari, berani membusungkan dada dan siap menjadi warga dunia.

Mengenai sumbangan Soekarno terhadap pembangunan Jakarta ini, Jenderal A.H Nasution memberikan pengakuan yang menarik yang dikenang oleh Ali Sadikin. Kata Ali:

"... pembangunan Jakarta secara besar-besaran dimulai atas prakarsa Presiden Soekarno pada tahun 1960.... ia menyaksikan maksud-maksud baik Bung Karno dan ia diperintahkan antara lain untuk menyediakan tanah, seperti Kompleks Olahraga Senayan, Jakarta Bypass dan lain sebagainya."

Tak hanya Jakarta, pada tahun 1955 ketika Soekarno menjalankan ibadah haji ke Tanah Suci, ia memberikan sumbangan ide arsitektural kepada Pemerintah Arab Saudi agar merekonstruksi bangunan untuk melakukan sa'i menjadi dua jalur dalam bangunan dua lantai. Hal inipun didengarkan oleh Pemerintah Arab Saudi dan kawasan Masjidil Haram akhirnya direnovasi pada tahun 1966 termasuk renovasi tempat untuk melaksanakan sa'i.

Pada akhir pemerintahannya, Soekarno menyerahkan tongkat estafetnya kepada Ali Sadikin untuk meneruskan pembangunan Kota Jakarta agar layak disebut sebagai ibukota Republik Indonesia yang sejajar dengan kota-kota maju di dunia. Bang Ali sendiri mengaku ia mengemban tugas yang berat, namun ia tetap berjuang untuk membangun Kota Jakarta, melanjutkan impian Soekarno yang pernah mengkhayalkan Jakarta punya air mancur di tengah kota, hotel-hotel megah, tempat rekreasi, hingga museum dan galeri seni.

Berkat gagasan-gagasan mengenai pembenahan dan pembangunan arsitektur Indonesia, khususnya di Jakarta pasca kemerdekaan, maka tak perlu ragu lagi bila kita juga menyebut Soekarno sebagai Bapak Arsitektur Indonesia.

Sumber : Tegang Bentang, Pusat Dokumentasi Arsitektur Indonesia

Pilih BanggaBangga55%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang5%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi30%
Pilih TerpukauTerpukau10%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ARIFINA BUDI

Pencerita hal-hal baik untuk dunia. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie