Lupa Sandi?

Kisah Nani Wartabone, Proklamator Kemerdekaan Indonesia di Gorontalo

Thomas Benmetan
Thomas Benmetan
0 Komentar
Kisah Nani Wartabone, Proklamator Kemerdekaan Indonesia di Gorontalo

Dalam catatan resmi negara, proklamator kemerdekaan Indonesia secara nasional adalah Ir. Soekarno dan Muhammad Hatta, yang kemudian dikenal sebagai presiden dan wakil presiden pertama di negeri ini. Namun tahukah kita bahwa jauh sebelum kedua tokoh ini, pernah ada sosok yang lebih dulu memproklamirkan kemerdekaan Indonesia?  Dialah Nani Wartabone, seorang pahlawan yang memproklamirkan kemerdekaan Indonesia setelah memorak – porandakan pasukan Belanda di Gorontalo pada 23 Januari 1942.

Siapa sebenarnya sosok Nani Wartabone? Tidak banyak yang mengetahui tentang kisah tokoh yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 10 November 2003 silam oleh Presiden Indonesia saat itu, Megawati Soeakrnoputri. 

Nani Wartabone (wikimedia.org)
Nani Wartabone (wikimedia.org)

Nani Wartabone lahir di Gorontalo pada 30 Januari 1907, dan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang cukup berada. Ayahnya adalah Zakaria Wartabone yang bekerja untuk pemerintah Belanda, sementara ibunya adalah seorang keturunan bangsawan di daerahnya. Meskipun ayahnya bekerja untuk pemrintah Belanda, sejak kecil Nani memiliki sentimen yang buruk kepada pemerintah kolonial. Ia pernah membebaskan tahanan orangtuanya, sebab ia tak sampai hati melihat rakyat kecil dihukum. Bahkan, ia tak betah bersekolah karena pengajar – pengajarnya yang berkebangsaan Belanda tersebut sering merendahkan bangsa Indonesia. diam – diam, Nani menanam sikap antipati terhadap penjajah.

Perjuangannya dalam merebut kemerdekaan Indonesia dimulai ketika ia terlibat dalam pendirian organisasi kepemudaan Jong Gorontalo pada tahun 1923 di Surabaya. Nani terlibat dalam kepengurusan dan menuduki posisi sekretaris di Jong Gorontalo. Di Gorontalo, ia bersama rakyat berjuang melawan tentara Belanda, bergerak sekuat tenaga untuk mengusir kaum penjajah. Puncaknya adalah ketika mereka berhasil menangkap Kepala Jawatan Tentara Belanda di Gorontalo pada saat itu. Lewat kejadian itu, bumi Gorontalo kemudian terbebas dari pendudukan Belanda.

Selesai dari penangkapan Kepala Jawatan Tentara Belanda tersebut, Nani Wartabone memimpin upacara pengibaran Bendera Merah Putih yang diiringi oleh nyanyian Indonesia Raya. Pernyataan kemerdekaan berlangsung di bumi Gorontalo.

Ternyata perjuangan belum selesai, sebab setelah itu datanglah pasukan tentara Jepang yang kemudian melarang berkibarnya bendera Indonesia di Gorontalo pada 6 Juni 1942. Nani tidak tinggal diam. Ia memimpin pergerakan melawan penjajahan Jepang. Sayang, pada 30 Desember 1943 ia ditangkap dan diasingkan ke Manado.

Nani baru dilepaskan oleh tentara Jepang pada 6 Juni 1945, setelah Jepang mencium tanda – tanda kekalahan mereka dari Sekutu. Setelah pembebasannya, pihak Jepang masih mengagumi dan mengakuinya sebagai pemimpin masyarakat Gorontalo. Hal itu ditunjukkan dengan penyerahan pemerintahan Gorontalo dari pemerintah Jepang kepada Nani Wartabone pada 16 Agustus 1945, satu hari sebelum proklamasi kemerdekaan secara nasional. Sejak saat itu, merah putih berkibar kembali di tanah Gorontalo.

Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (gorontalofamily.org)
Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (gorontalofamily.org)

Berkat jasanya besarnya, sosok Nani Wartabone memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Gorontalo dan Sulawesit.  Tidak hanya dibangun tugu di kota Gorontalo untuk mengenangnya, namun sebuah taman nasional di pun ikut menggunakan namanya sebagai bentuk penghormatan akan beliau, yaitu Taman Nasional Bogani Nani Wartabone yang berada di Sulawesi Utara.

Peran dan jasanya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya menjadi kebanggaan Gorontalo dan Sulawesi Utara saja, namun menjadi kesan tersendiri bagi bangsa Indonesia pada umumnya. Keberaniannya menentang dan menumpas kaum penjajah di tanah Gorontalo, dan akhirnya memproklamirkan kemerdekaan Indonesia di tanah tersebut menjadi catatan sejarah tersendiri   yang patut kita hargai.

Makam Nani Wartabone di Gorontalo (panoramio.com)
Makam Nani Wartabone di Gorontalo (panoramio.com)


Sumber : sejarahri.com 

Pilih BanggaBangga87%
Pilih SedihSedih2%
Pilih SenangSenang1%
Pilih Tak PeduliTak Peduli1%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi6%
Pilih TerpukauTerpukau2%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG THOMAS BENMETAN

A Fulltime life-learner who lost himself into book, poem, Adventure, travelling, hiking, and social working. Graduated from Faculty of Communication Science, Petra Christian University. Currently pur ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti

ARTIKEL TERKAIT

Presiden Yang Terlupakan ?

Good News From Indonesia2 minggu yang lalu

Mengenang Maleo, Sang Mobnas Pertama Indonesia

Akhyari Hananto2 minggu yang lalu

Suara Terkeras dalam Sejarah Modern Dunia

Akhyari Hananto2 bulan yang lalu

Sang Bunga Bangsa dari Bangka

Akhyari Hananto2 bulan yang lalu
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara