Pernahkah kawan-kawan melancong ke Busan, Korea Selatan? Bila ada kesempatan kesana, cobalah mengunjungi Jalan Surabaya yang menjadi salah satu nama jalan utama di Busan.

Pemberian nama jalan di salah satu kawasan di Busan ini merupakan tindak lanjut kerja sama sister city antara Surabaya dengan Busan. Tak hanya itu, di kawasan ini juga dipasang patung ikan Suro dan Boyo khas milik Surabaya di taman kota sebelah kantor Busan Indonesia Center (BIC). Patung ini diresmikan langsung oleh walikota Surabaya Tri Rismaharini pada 1 Juli 2014.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (disbudpar) Surabaya Wiwiek Widayati menerangkan monumen suro dan boyo yang kini dipajang di Busan merupakan karya seniman lokal Kota Pahlawan bernama Agung Tato. Patung tersebut berbahan perunggu dengan dimensi tinggi 2,6 meter serta diameter lingkaran patung 0,75 meter. Rangkaian vertikal patung itu diletakkan di atas tatakan bundar berdiameter 3 meter.

“Seluruh proses pengerjaan patung itu dilakukan di Surabaya. Setelah jadi baru dikirim ke Busan,” ujarnya.

Kepala Busan Indonesia Center Kim Soo-il sangat cinta dengan Indonesia (foto: Nora Sampurna/Jawa Pos)
Kepala Busan Indonesia Center Kim Soo-il sangat cinta dengan Indonesia (foto: Nora Sampurna/Jawa Pos)

Patung ini dipasang kala itu bertepatan dengan 20 tahun kerja sama kedua kota yang cantik ini. Hubungan persaudaraan antara keduanya yang dimulai sejak 10 November 1994 silam. Kerja sama ini dirintis sejak Surabaya dipimpin oleh walikota Sunarto Sumoprawiro yang aktif menjalankan kerja sama di berbagai bidang seperti ekonomi, pendidikan, dan seni budaya. Waktu itu ada enam kesepahaman yang disepakati, yakni pengembangan pelabuhan, perdagangan dan pengembangan ekonomi, pendidikan, kebudayaan, pemuda dan olahraga, lingkungan hidup dan pengelolaa kota, transportasi dan pariwisata, serta peningkatan sumberdaya.

Menurut Pemkot Surabaya, kedua kota aktif saling mengirimkan delegasi untuk menimba atau menularkan ilmu dan keahlian.  "Kota Surabaya dan Kota Busan sama-sama aktif mengirim delegasi seniman secara rutin. Busan tiap tahun selalu mengikuti Cross Culture Festival (CCF) yang diselenggarakan Pemkot Surabaya. Begitu pula Surabaya yang mengirim seniman untuk mengikuti event serupa di Korsel bertajuk Global Gathering," kata Ifron Hadi, Kabar Kerjasama Pemkot Surabaya. Yang menarik adalah, dari sekitar 15 ribu WNI yang tinggal di Busan, 3000 di antaranya berasal dari Surabaya.

Taman Korea di Surabaya diresmikan tahun 2010 (foto: superkidsindonesia.com)
Taman Korea di Surabaya diresmikan tahun 2010 (foto: superkidsindonesia.com)

Kerja sama sister city ini baru mulai benar-benar aktif dilaksanakan tahun 2006. Pun dari persaudaraan ini, Surabaya sendiri juga meresmikan monumen Korea di Jalan dr. Soetomo Surabaya. Taman tu dibangun di atas lahan sekitar 1.200 meter persegi.

Sebagai sister city, Surabaya dan Busan memang memiliki beberapa kemiripan. Kota Busan yang terletak di bagian selatan negara Korea Selatan ini merupakan kota pelabuhan yang mulai berkembang sejak tahun 1876. Kegiatan armada kapal dagangnya waktu itu sudah sering melakukan angkutan antarnegara dengan Indonesia, khususnya ke Surabaya. Nah, kondisi ini mirip dengan Kota Surabaya yang memiliki predikat sebagai kota Indamardi, yakni industri, perdagangan, maritim, dan pendidikan. 

Menjadi pusat promosi pariwisata Indonesia

 

Pada April 2014, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar meresmikan gedung Busan Indonesia Center (BIC) di Jalan Surabaya. BIC ini adalah gedung berlantai lima dengan luas 400 meter persegi yang bisa digunakan dengan beragam fungsi, yakni menjadi Visit Indonesia Tourism Officer (VITO) Korea, Kantor PKPU, Kantor BIC, ruang kegiatan seni, dan guest house. Lantai empat gedung itu juga dapat digunakan sebagai auditorium untuk acara-acara pertemuan masyarakat Indonesia. Gedung BIC hanya diperuntukkan untuk segala yang bernuansa Indonesia.

Gedung Busan Indonesia Center (foto: Kompas)
Gedung Busan Indonesia Center (foto: Kompas)

Di lantai dasar juga ada kedai kopi khas Indonesia, yakni Cafe Luwak. Bila berkunjung kesini, kita akan merasakan nuansa Indonesia yang begitu kental dengan aneka kerajinan tangan khas Indonesia yang dipajang di lemari. Selain itu, sebagaimana kalau kita makan siang di kafe-kafe ala Korea yang menayangkan lagu dan reality show Korea, di sini kebalikannya. Kita akan mendengarkan lagu-lagu Indonesia dan tayangan saluran televisi Indonesia. Tak hanya kopi Indonesia, di kafe ini juga terdapat menu makanan-makanan Indonesia.

Kepala Pusat BIC Prof Kim Soo-il menegaskan bahwa BIC memang menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan promosi pariwisata Indonesia di Korea Selatan. 


Sumber :

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu