Lupa Sandi?

Gema Gamelan, dari Nusantara Menuju Britania Raya

Luqman Saputro
Luqman Saputro
0 Komentar
Gema Gamelan, dari Nusantara Menuju Britania Raya

Suara dentingan dan tabuhan alat musik gamelan secara perlahan terdengar mengalun di salah satu sudut kota Glasgow, Skotlandia. Dari yang semula terdengar ketukan yang canggung kemudian tersusun menjadi sebuah harmoni nada yang indah. Di dalam ruangan tersebut, ada seorang pria paruh baya berbaju batik merah yang mengajari para mahasiswa Glasgow dalam memainkan instrumen tradisional khas Indonesia tersebut.

Pria tersebut adalah Prasadiyanto. Ia adalah pengajar sekaligus maestro gamelan dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Secara khusus, Prasadiyanto datang ke kota Glasgow untuk berbagi pengetahuan tentang gamelan bersama para mahasiswa dan akademisi di Royal Conservatoire of Scotland (RCS).

Kehadiran Prasadiyanto di Skotlandia tidak lepas dari peranan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) London beserta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Kedua instansi tersebut mengadakan program “Gamelan artist-in-residence”. Melalui program tersebut, sejumlah instruktur gamelan dikirimkan ke beberapa universitas-universitas di Britania Raya. Prasadiyanto terpilih sebagai instruktur yang mengajar di RCS.

Prasadiyanto sedang mengajar gamelan di Royal Conservatoire of Scotland, Glasgow © KBRI London (via The Jakarta Post)
Prasadiyanto sedang mengajar gamelan di Royal Conservatoire of Scotland, Glasgow © KBRI London (via The Jakarta Post)

Berdasarkan berita yang dirilis oleh The Jakarta Post, program tersebut bertujuan untuk mengenalkan budaya Indonesia di Britania Raya. Gamelan menjadi fokus utama di dalam program tersebut.

Baca Juga

“Program ini bertujuan untuk mempromosikan budaya Indonesia di Britania Raya,” kata E. Aminudin Aziz selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI London.

Prasadiyanto dijadwalkan akan mengajar gamelan di RCS selama tiga bulan. RCS merupakan salah satu universitas seni terbaik di dunia. Yang membanggakan adalah, kehadiran Prasadiyanto di universitas tersebut merupakan sesuatu yang dinanti-nanti dan disambut secara antusias. RCS sendiri memiliki komunitas gamelan bernama Gamelan Naga Mas. Komunitas tersebut berdiri sejak tahun 1990.

Selain mengajar, kehadiran Prasadiyanto di Glasgow juga untuk mempersiapkan konser gamelan pada tanggal 16 Juni dan pemutaran film "Setan Jawa" yang disutradarai oleh Garin Nugroho.

Riwayat Gema Gamelan di Tanah Britania

Di Britania Raya, terhitung sekitar 150 perangkat gamelan yang dimiliki oleh sejumlah universitas hingga museum. Pertunjukan gamelan terhitung cukup sering dihadirkan di beberapa tempat di Britania Raya. Pada tanggal 29 Oktober 2016, Royal Holloway University of London mengadakan pertunjukan gamelan dan tarian tradisional Sunda.

Tidak hanya tradisional, musik gamelan di London juga dipadukan dengan musik kontemporer. Berkolaborasi dengan para musisi gamelan dan musik tradisional India, Susheela Raman menyanyikan tembang dari The Beatles yang berjudul "Tomorrow Never Knows" di London pada 1 Februari 2017.

Tidak sebatas untuk pertunjukan, gamelan Indonesia pun menarik minat sejumlah akademisi. Pete Smith adalah contoh akademisi Inggris yang mendalami seni gamelan. Smith adalah seorang dosen seni musik di Oxford University dan telah mengajar gamelan selama 20 tahun.

Pete Smith, pengajar gamelan dari Inggris. Sejak tahun 1992 ia mendalami gamelan di Solo © Kingston University Music Department (via BBC Indonesia)
Pete Smith, pengajar gamelan dari Inggris. Sejak tahun 1992 ia mendalami gamelan di Solo © Kingston University Music Department (via BBC Indonesia)

Pria yang memiliki nama panggilan Parto tersebut mulai mendalami gamelan di Solo pada tahun 1992. Kembali di Inggris, dosen yang fasih berbahasa Jawa tersebut kemudian aktif mengajar gamelan di beberapa komunitas. Hal ini menunjukkan bahwa gamelan memiliki daya tarik tersendiri bagi sejumlah masyarakat Britania Raya.

Lantas, bagaimana bisa musik gamelan bisa dikenal hingga di negeri berbendera Union Jack tersebut? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, alangkah baiknya kita kembali ke masa lalu negeri kita ini. Pada awal abad ke-19, di Eropa sedang berkecamuk Perang Napoleon. Perancis berhasil menguasai Belanda, menyebabkan Hindia Belanda menjadi koloni di bawah pengaruh Perancis. Namun pada tahun 1811, Britania Raya (yang merupakan musuh dari Perancis) menginvasi Pulau Jawa. Invasi tersebut berhasil dan Sir Thomas Stamford Raffles menjadi Gubernur Letnan di Pulau Jawa.

Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Letnan Jawa. Ia adalah orang pertama yang memperkenalkan gamelan di Britania Raya © George Francis Joseph (via Wikimedia Commons)
Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Letnan Jawa. Ia adalah orang pertama yang memperkenalkan gamelan di Britania Raya © George Francis Joseph (via Wikimedia Commons)

Sumarsam, di dalam bukunya yang berjudul "Javanese Gamelan and the West", menjelaskan betapa tertariknya Raffles terhadap kesenian di Jawa. Selain memerintah, Raffles juga meneliti sejumlah aspek sosial dan budaya di Jawa hingga menerbitkan buku "History of Java" pada tahun 1817. Buku tersebut menjelaskan banyak hal tentang kesenian di Jawa, terutama gamelan.

Tak cukup hanya menulis buku, Raffles kemudian memesan dan membawa pulang seperangkat alat musik gamelan dari Jawa ke Inggris. Gamelan yang dipesan Raffles tersebut tergolong unik. Gamelan milik Raffles memiliki ukuran lebih besar daripada gamelan Jawa pada umumnya. Selain itu, corak dan motif binatang seperti naga dan merak pada gamelan tersebut bukanlah hal yang lazim ditemukan pada gamelan. Berkat inilah, Sumarsam menyebut bahwa Raffles adalah orang pertama yang memperkenalkan gamelan ke Eropa. Kini, gamelan Raffles tersebut menjadi bagian dari koleksi The British Museum.

Gender, salah satu instrumen gamelan milik Raffles yang menjadi koleksi The British Museum © The British Museum / CC BY-NC-SA 4.0
Gender, salah satu instrumen gamelan milik Raffles yang menjadi koleksi The British Museum © The British Museum / CC BY-NC-SA 4.0

Dari yang semula hanya berfungsi sebagai koleksi dan pajangan, gamelan Raffles kemudian menjadi objek penelitian bagi sejumlah akademisi Britania Raya abad ke-19. Alexander Ellis dan William Crotch adalah dua dari sejumlah akademisi yang meneliti tangga nada gamelan Raffles.

Ketertarikan kaum terpelajar Britania Raya terhadap gamelan berlangsung hingga kini. University of York memiliki seperangkat gamelan bernama Kyai Sekar Petak pada tahun 1981, menjadi universitas pertama yang memiliki gamelan di Britania Raya. Oxford Gamelan Society merupakan komunitas gamelan tertua di Britania Raya yang berdiri sejak tahun 1985. Sejak itulah, kemudian muncul sejumlah komunitas gamelan lainnya di universitas-universitas Britania Raya.


Sumber : Diolah dari berbagai sumber.

Sumber gambar utama: The Arts Active Trust

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG LUQMAN SAPUTRO

Mahasiswa biasa, penulis cerpen amatiran, (mendaku sebagai) arek Suroboyo, juru kunci di masroyalbecak.blogspot.com ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie