Konflik antara kelompok militan dan pemerintah Suriah masih saja terjadi. Selasa (4/04) lalu untuk ketiga kalinya, serangan udara yang diduga menggunakan bahan kimia melanda Suriah. Lembaga pemantau hak asasi manusia di Suriah, Syrian Observatory for Human Rights, menyebut serangan ini sebagai yang terburuk dalam sejarah perang Suriah.

Perang saudara di Suriah telah berlangsung selama enam tahun. Serangan kali ini ditujukan pada wilayah Provinsi Idlib Utara yang dikuasai pemberontak, namun puluhan masyarakat sipil ikut tewas akibatnya. 58 orang dilaporkan tewas, dengan 11 diantaranya merupakan anak-anak. 

Sebagai negara yang telah menandatangani Konvensi Senjata Kimia (Chemical Weapons Convention), Indonesia mengutuk penggunaan senjata kimia yang telah membunuh banyak manusia di Suriah. Indonesia memegang teguh asas perdamaian untuk penyelesaian konflik. "Kita prihatin terhadap tindakan sepihak tersebut, termasuk penggunaan rudal Tomahawk," jelas Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir Jakarta Post.

Penyebutan tindakan sepihak ini mengacu pada serangan yang bertentangan dengan prinsip hukum internasional dalam penyelesaian konfil perdamaian. Padahal prinsip tersebut telah diatur dalam Piagam PBB. Pemerintah Indonesia pun meminta Dewan Keamanan PBB untuk mengambil langkah cepat untuk menyelesaikan konflik tersebut.

Selanjutnya di Jakarta Post.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu