Lupa Sandi?

Membangunkan Kembali Tokoh Dongeng Indonesia Dari Tidur Panjang

Zia Dzulfia
Zia Dzulfia
0 Komentar
Membangunkan Kembali Tokoh Dongeng Indonesia Dari Tidur Panjang

Sewaktu kecil tentu kawan cukup familiar dengan nama-nama seperti Keong Mas, Duo Bawang Putih Bawang Merah, Sangkuriang, Raksasa Kebo Iwa, dan beberapa lainnya. Namun melesat ke zaman milenium, rupanya kabar mereka sudah dianggap usang bagi sebagian orang. Cerita rakyat sudah ketinggalan zaman, katanya.

Beberapa orang tua mulai enggan ‘berdialog’ dengan anaknya sebelum tidur. Tradisi bercerita sudah diketuk masuk peti. Padahal menurut penelitian psikologis, dongeng merupakan alat media komunikatif yang mampu menjembatani keharmonisan antara si pendongeng dan si penyimak. Misalkan ibu dan anak, kakek dan cucu, bahkan guru dan murid.

Kemajuan teknologi yang cepat menjadikan tokoh-tokoh dongeng dan cerita rakyat Indonesia tertidur pulas. Dongeng tidak lagi dijadikan andalan dalam mengasah stimulasi anak. Hal ini pada akhirnya mengarah pada rendahnya kepekaan anak terhadap lingkungan sekitar serta rapuhnya rasa solidaritas kepada sesama teman.

Padahal jika mundur jauh ke belakang, sejarah mencatat masyarakat Indonesia tidak memiliki tradisi literasi atau tulis menulis yang kuat. Menurut Hoed, seorang antropolog Indonesia, justru masyarakat Hindia lebih kuat dalam hal oral history atau tradisi lisan.

tradisi lisan suku Nabuasa, Nusa Tenggara.
tradisi lisan suku Nabuasa, Nusa Tenggara.

Ia mengatakan bahwa tradisi lisan sudah disampaikan secara turun temurun, dan cakupannya sangat luas mulai dari cerita rakyat, mitos, legenda, dongeng, kearifan lokal, sistem nilai, bahkan hingga kepercayan dan religi.

Hal tersebut menunjukkan bahwa dongeng atau cerita rakyat, dalam sejarah masyarat Indonesia merupakan bagian dari kentalnya tradisi lisan Indonesia yang begitu kaya. Ia merupakan sesuatu yang sangat dekat pada nadi masyarakat Indonesia. Bukan asing, namun sayangnya sudah dipandang usang.

Dongeng Indonesia Punya Masa Depan Cerah

Kemajuan teknologi saat ini membawa dongeng Indonesia kepada dualitas tersendiri. Pesatnya perkembangan teknologi membuat sebagian masyarakat, baik usia dewasa maupun anak-anak enggan untuk membaca—atau membacakan dongeng.

Padahal sudah banyak upaya dari para penggiat literasi untuk mengurangi hal tersebut. Di antaranya ialah dengan membuat aplikasi dongeng atau cerita rakyat Indonesia berbasis android. Dengan aplikasi tersebut, dongeng diharapkan tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang asing dan jauh oleh masyarakat.

Selain itu terdapat alasan lain mengapa dongeng Indonesia tidak seharusnya dianggap usang dan ketinggalan zaman. Sejak tahun 2015 lalu hingga saat ini, dunia per-dongeng-an Indonesia terus membawa kabar baik.

Kabar pertama datang dari salah satu studio animasi terbesar di Hollywood, Pixar Studio. Pada November 2015 lalu, studio yang menggarap banyak animasi terbaik itu menyatakan tertarik untuk mengadaptasi cerita rakyat asal Indonesia untuk dijadikan film-film animasinya.

Meski dalam penggarapannya dibutuhkan waktu tiga sampai lima tahun, namun hal tersebut tentu saja merupakan kesempatan berharga. Selama ini Pixar Studios selalu menelurkan film animasi dengan kualitas cerita yang baik hingga menyabet banyak penghargaan di antara dari Academy Awards, Oscar, Golden Globes, dan Grammy Awards. Hal ini merupakan kesempatan emas bagi dongeng Indonesia untuk menuturkan kisahnya lebih jauh di depan audiens internasional.

Kemudian belum lama ini dunia per-dongengan Indonesia kembali mendapat hembusan baik, kali ini dari Italia. Dalam Bologna Children’s Book Fair yang baru saja selesai digelar satu hari lalu yaitu 3-6 April 2017, Indonesia banyak mendapat kunjungan tamu kerja sama.

sejumlah tawaran kerja sama dengan Indonesia dalam Bologna Children's Book Fair. Foto oleh detik.com
sejumlah tawaran kerja sama dengan Indonesia dalam Bologna Children's Book Fair. Foto oleh detik.com

Berdasarkan keterangan dari Laura Prinsloo, ketua Komite Buku Nasional, ada sedikitnya 30 pengunjung yang mulai penjajakan dengan Indonesia di hari pertama, dilansir dari detik.com. Banyak pengunjung negara lain yang tertarik dengan folklor (cerita rakyat) Indonesia, terutama Amerika Serikat dan Jepang.

Ragam budaya Indonesia rupanya menjadi ketertarikan utama bagi pihak-pihak tersebut. Usut punya usut, dalam beberapa tahun terakhir ini diketahui bahwa agency Amerika memang rajin mencari folklor-folklor dari Asia untuk diangkat menjadi animasi.

Sedangkan dari Jepang, Indonesia kedatangan penerbit besar asal mereka, Gaken. Dalam kunjungannya mereka menjajaki apakah Indonesia memiliki cerita rakyat yang dapat dipasarkan di Jepang seperti yang mereka lakukan baru-baru ini dengan negara serumpun kita, Malaysia. Mereka sangat berharap dapat menjalin kerjasama terutama karena Jepang memiliki hubungan sejarah yang panjang dengan Indonesia.

Kenyataan di atas menunjukkan bahwa dongeng Indonesia memiliki masa depan cerah. Banyaknya peminat literasi dari negara lain terhadap kekayaan dongeng Indonesia dapat menjadi sumbu semangat bagi seluruh pihak dalam industri perbukuan anak mulai dari penulis, illustrator, hingga penerbit, untuk dapat membranding dongeng Indonesia menjadi lebih menarik. Sehingga Keong Mas, Duo Bawang Putih Bawang Merah, Sangkuriang, Raksasa Kebo Iwa serta kawan-kawannya yang lain dapat bangun dari tidur panjang. Kemudian mengurai sangkaan terhadap dongeng Indonesia yang sebenarnya jauh dari usang.


Sumber : diolah dari berbagai sumber

Pilih BanggaBangga62%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang15%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi23%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ZIA DZULFIA

Sedang hidup dikelilingi karakter fiksi. Paling suka makan pop mie lewat jam 12 malam di kereta saat perjalanan keluar kota. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara