Lupa Sandi?

Tarian Barong Rampog, Ajarkan Manusia Selaras dengan Alam

Dimas Ayuna
Dimas Ayuna
0 Komentar
Tarian Barong Rampog, Ajarkan Manusia Selaras dengan Alam

Blitar, salah satu kota yang terletak di bagian selatan Jawa Timur. Menempati wilayah seluas 32,58 km2 selain dikenal memiliki situs sejarah Candi Penataran dan merupakan tempat dimakamkannya Bapak Proklamator Indonesia, ternyata juga memiliki kekayaan budaya dan kesenian tersendiri. Salah satunya adalah Barong Rampog kesenian kontemporer hasil kombinasi dari budaya setempat.

Pertunjukan Barong Rampong
Pertunjukan Barong Rampong

Barong Rampog berasal dari kata barong dan rampog. Barong berarti (binatang buas) kemudian rampog berasal dari kata rampongan atau rampog yang berarti ‘kerayah’ atau ‘berebutan’. Jika ditelaah lebih dalam lagi, barong rampog memang merupakan bentuk penggabungan dua budaya, yakni antara budaya tari Barongan dan tradisi Rampogan Macan.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Barongan

Rampogan Macan merupakan tradisi Blitar yang populer pada abad 18 – 19 M. Rampogan Macan jika diartikan secara bahasa artinya berebutan harimau. Tradisi ini biasanya dilakukan di alun-alun kota dengan mempertontonkan pertandingan antara harimau dan banteng. Yang kalah adalah hewan yang terbunuh. Dalam pertandingan ini, harimau kerap kali menjadi pihak yang kalah. Biasanya ia mati dengan luka di sekujur tubuhnya karena tertusuk tanduk banteng. Tidak cukup sampai di situ, saat macan sudat tergolek tidak berdaya, orang-orang yang ada di sana akan mengarahkan tombaknya ke tubuh harimau sampai mati.

Baca Juga

Tradisi Rampogan Macan, pada awalnya merupakan tradisi para ningrat di kesultanan Yogyakarta dan Kesultanan Surakarta. Namun kemudian tradisi ini lebih digemari oleh para bupati-bupati di daerah Jawa Timur. Blitar dan Kediri tercatat sebagai daerah yang paling sering mengadakan Rampongan Macan. Namun karena populasi macan Jawa yang semakin sedikit, akhirnya pada tahun 1905 tradisi Rampongan Macan tidak boleh lagi diadakan.

Rampogan Macan
Rampogan Macan

Menggabungkan tari Barongan dan tradisi Ranpogan Macan, Kholam Siharta seorang seniman asal blitar peduli terhadap budaya rampongan macan dan ingin menampilkannya kembali dalam sajian yang berbeda. Ia mengkreasikannya menjadi tari Barong Rampog. Ia adalah pemuda asal Kelurahan Beru, Kecamatan Wingi, Blitar.

Bukan hanya mengkreasikan tarian, tapi pemuda 33 tahun itu juga ingin menyampaikan pesan kepada para penikmat seni untuk mengingat kembali tradisi Rampogan Macan dan mengambil pelajaran agar saling menjaga sesama makhluk hidup. Jika pada umumnya topeng kepala barong menampilkan kepala harimau, dalam barong rampong, mempunyai hiasan leher berupa puluhan batang lidi yang menggambarkan tombak yang ditusukan ke badan harimau. Melalui Barong Rampog, Kholam ingin menggambarkan bagaimana perasaan sang harimau saat disiksa oleh manusia-manusia yang menghunuskan tombak kea rah tubuhnya.

Tarian Barong Rampog ini menceritakan kisah kehidupan manusia yang diibaratkan sebagai barong, dari kelahirannya sampai masa dewasa, agar bisa hidup selaras dengan alam dan dapat membatasi egonya.

Selain barong, terdapat berbagai penyimbolan lain dalam terian ini diantaranya: godaan duniawi yang disimbolkan dengan empat penari tayub, alam yang disimbolkan dengan emapt penari merakan. Kemudian klimaksnya, muncul Dadak Merak, salah satu ikon Reog Ponorogo yang menyimbolkan bencana, serta di akhir bagian, simbol cinta dan harmoni diwakili dengan seorang wanita yang menari di atas kendil.

Dalam menjalani kehidupan seseorang pastilah diharuskan memilih keputusan, dalam tarian Barong Rampog ini, jika seseorang lebih mementingkan dan memilih hawa nafsu, maka yang akan timbul adalah kerusakan. Sebaliknya, jika seseorang mampu bertahan akan berbuah baik.

Barong Rampog di Cheonan World Dance Festival 2011
Barong Rampog di Cheonan World Dance Festival 2011

Hasil kreasi pemuda asal Blitar ini ternyata mendapat sambutan baik dari masyarakat. Dengan diiringi oleh musik tradisional serta nyanyian tradisional yang epik, tidak hanya dikenal di Indonesia, tarian Barong Rampog berhasil tembus pangsa internasional. Hal tersebut dibuktikan dengan terpilihnya tari Barong Rampog menjadi juara ke empat di Cheonan World Dance Festival 2011.

*

Diolah dari berbagai sumber

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau100%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG DIMAS AYUNA

Bukan apa-apa, hanya seorang mahasiswi yang sampai sekarang masih belajar menulis. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata