Lupa Sandi?

Lihat Peluang Menarik, Nana Unique dari Bali Ciptakan Produk Kayu Unik

Bagus Ramadhan
Bagus Ramadhan
0 Komentar
Lihat Peluang Menarik, Nana Unique dari Bali Ciptakan Produk Kayu Unik

Menjamurnya kafe-kafe dan bisnis kuliner dengan konsep yang unik dilihat oleh Trisna Anastasia Wijaya dan Agung Eko Dhananjaya sebagai suatu peluang bisnis. Tapi, bukannya ikut-ikutan membuat kafe, pada Desember 2014 mereka justru mendirikan Nana Unique Store, sebuah merek yang membuat produk-produk alat makan kayu di bawah brand NIKI KAYU.

Trisna dan Agung melihat bahwa di pasaran sudah tersedia banyak kerajinan dari kayu dalam bentuk ukiran, mebel dan perlengkapan rumah lainnya. Namun, masih jarang dijual alat makan yang terbuat dari kayu. Permintaan konsumen dan kesempatan yang bagus pada jenis barang tersebutlah yang menginspirasi mereka memulai bisnis ini.

Nama NIKI KAYU sendiri diambil dari bahasa Bali. NIKI berarti “ini” sehingga arti dari kata NIKI KAYU apabila diartikan dalam bahasa Indonesia adalah “ini kayu”.

“Rata-rata yang lain menjual meja, kursi, jarang yang memproduksi alat makan. Biasanya alat makan masih terfokus pada bahan plastik, melamine, kaca, keramik, dan stainless steel, jarang ada yang membuatnya dari kayu. Oleh karena itu kami terinspirasi untuk mewujudkannya,” kata para pendiri Nana Unique Store dan NIKI KAYU ini.

Baca Juga
Produk alat makan kayu yang diproduksi Trisna dan Agung (Foto: Qlapa.com)
Produk alat makan kayu yang diproduksi Trisna dan Agung (Foto: Qlapa.com)

Pasar Produk dari Nana Unique Store menyasar pada pengusaha kafe, food blogger, dan food photographer, juga ditujukan untuk siapa pun yang tertarik mengoleksi alat makan dari kayu. Untuk menjangkau pasar secara luas, Trisna dan Agung menggunakan online channel untuk memasarkan produknya. Lewat Qlapa.com, Instagram dan halaman Facebook yang terbilang efektif untuk memperkenalkan produk mereka ke pasaran. Namun, kembali lagi, berbisnis produk handmade tidak hanya tentang masalah distribusi atau promosi, tetapi tentu saja kualitas produk itu sendiri.

Saat ini, ada lima orang pengrajin yang turut membantu proses produksi dari produk-produk Nana Unique Store. Tiap pengrajin memiliki spesifikasi keahlian atau keterampilan yang berbeda-beda. Lewat keterampilan para pengrajinnya, Nana Unique Store selalu berusaha berinovasi dengan desain produk yang unik serta tetap sesuai selera pasar.

“Pada awalnya desain tersebut tidak terlepas dari keterampilan para pengrajin kami yang bekerja. Selain itu, dengan semakin berkembangnya permintaan konsumen, maka kami juga menyesuaikan produk-produk yang kami buat, di mana desainnya berasal dari inspirasi dan ide kreatif dan dipadukan dengan permintaan pasar.”

Kompetisi Desain yang Mendorong Inovasi Menjalankan bisnis tentu memiliki banyak tantangan tersendiri. Trisna dan Agung juga merasakan suka dan duka menjalankan usaha, mulai dari masalah penyediaan bahan baku, kinerja pengrajin, hingga karakter pembeli yang beraneka ragam. Namun, secara khusus, tantangan yang dirasakan bisnis handmade kreatif seperti produk alat makan yang dibuat oleh Nana Unique Store adalah kompetisi.

Diakui oleh Trisna dan Agung, banyak muncul kompetitor baru dengan desain yang sering kali mirip dengan desain produk NIKI KAYU. Kunci mengatasi kompetisi ini, tentu saja adalah inovasi.

“Tantangan terbesar yang kami hadapi adalah banyaknya kompetitor-kompetitor baru yang muncul, dimana mereka seringkali meniru dan mencuri desain dari produk kami. Oleh karena itu, kami selalu berinovasi untuk menciptakan desain-desain produk baru, sehingga kami selalu tampil berbeda dari yang lainnya dan tidak kehilangan minat pasar,” kata Trisna dan Agung.

Persaingan bebas ini justru dilihat Trisna dan Agung, selain sebagai dorongan untuk berinovasi, juga sebagai dorongan untuk memuaskan konsumen.

“Kami juga melayani dengan hati, sehingga kepuasan konsumen merupakan salah satu hal utama yang ingin kami wujudkan.” 

Trisna dan Agung percaya bahwa industri handmade Indonesia akan terus berkembang ke depannya, mengingat negara kita sendiri sangat kaya akan sumber daya alam yang menjadi bahan baku produk handmade. Untuk bisnis mereka, Trisna dan Agung ingin berkembang maju hingga menarik minta konsumen mancanegara.

“Harapan kami untuk industri handmade di Indonesia adalah agar terus berkembang maju. Tentunya selain menarik minat dari konsumen lokal, juga akan sangat menarik minat konsumen mancanegara, sehingga dapat mengharumkan nama Indonesia dalam perdagangan bebas,” tutup Trisna dan Agung.

Artikel ini merupakan hasil kolaborasi GNFI dengan Qlapa.com

Pilih BanggaBangga17%
Pilih SedihSedih17%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi50%
Pilih TerpukauTerpukau17%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG BAGUS RAMADHAN

Seorang copywriter dan penulis konten yang bertekad untuk mampu menebar inspirasi dan semangat lewat konten-konten berkualitas untuk kehidupan yang lebih baik. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara