Menonton film baik di bioskop ataupun gawai pribadi saat ini menjadi kegemaran bagi banyak orang mulai dari usia anak-anak hingga dewasa. Beragam genre yang ditawarkan, baik yang datang dari dalam dan luar negeri membuat banyak pecinta film tidak perlu kebingungan.

Perfilman Indonesia sendiri sudah sejak beberapa tahun terakhir tidak bosan memberikan kabar baik. Satu di antaranya adalah dipercayanya beberapa aktor dalam negeri untuk bermain dalam film-film besar keluaran Hollywood. Joe Taslim, salah satunya.

Kenyataan tersebut kemudian memantik pertanyaan: sejak kapan dan bagaimana hingga akhirnya orang asli Indonesia mulai terjun bermain film?

salah satu film awal Indonesia, foto oleh indonesianfilmcenter.com
salah satu film awal Indonesia, foto oleh indonesianfilmcenter.com

Semuanya dimulai pada satu hari di Batavia (Jakarta), bulan Desember akhir tahun 1900. Bintang Betawi—satu surat kabar yang cukup populer di Batavia saat itu—mengumumkan sesuatu dalam kolom iklannya:

“Nederlandsch Bioscoop Maatschappij. Gambar idoep ini malem 5 Desember pertoendjoekkan besar jang pertama dan teroes saben malem di dalem satoe roemah di Tanah Abang Kebondjae Moelai main poekoel Toedjoe malem. Harga tempat: Klas satoe F.2. Klas Doewa F.1. Klas tiga F.0.50. Directie”

Pemberitaan tersebut menjadi titik awal yang berpengaruh bagi terjunnya pribumi dalam dunia perfilman kolonial sebagai aktor. Namun perlu diketahui, gambar idoep atau film yang tayang saat itu merupakan film dokumenter tanpa suara alias film bisu. Belum majunya peralatan pada saat itu membuat para sineas yang memasok film ke Hindia Belanda tidak membuat tema atau alur cerita tersendiri. Hal tersebut berlangsung hingga tahun 1903.

Kedatangan Film di Hindia

Adalah Edwin S. Porter, seorang Amerikat Serikat yang pertama kali membuat film dengan jalan cerita—meskipun masih bisu. Film bisu pertama itu berjudul ‘The Great Train Robbery’, berdurasi tiga jam. Semangat yang dibawakan oleh Porter dalam membuat film pada saat itu masih terbatas untuk menghibur penonton, bukan cerminan kreativitas produser film. Inilah yang kemudian menjadi akar masalah bagi pemerintah Hindia Belanda.

The Great Train Robbery, karya Edwin S. Porter
The Great Train Robbery, karya Edwin S. Porter

Dalam film bisu buatan Amerika yang dipasok ke Hindia Belanda, cerita yang ditampilkan merupakan tingkah laku orang Eropa dalam menyelesaikan suatu masalah tanpa melalui jalur hukum: tindakan pembunuhan, perampokan, bahkan pemerkosaan diselesaikan melalui cara-cara balas dendam ataupun menyewa pembunuh bayaran. Isi cerita film tersebut rupanya memancing kritik dari kalangan Eropa.

Selama ini, terutama sejak dijalankannya kebijakan etis, penduduk Eropa dijadikan contoh dalam setiap aspek kehidupan pribumi. Citra Eropa yang memiliki peradaban tinggi, bermoral, serta Eropa yang mendasarkan hidup pada aturan formal dan sah menurut hukum, menjadi acuan dan gambaran bagi Pribumi melihat Eropa. Namun semua citra tersebut buyar diobrak-abrik gambar ideop yang bebas jadi tontonan semua kelas di Hindia.

Cemas hal tersebut akan memberikan pandangan negative pribumi terhadap Eropa, akhirnya pemerintah membuat dua keputusan: mendirikan komisi sensor dan menyokong pembuatan film di Hindia Belanda dengan memakai pemain pribumi sekitar 1926an. Inilah yang menjadi titik tolak kedua pribumi punya peran dalam film.

Pengalaman Pertama Pribumi Main Film

Film yang dimainkan oleh pribumi ini pada dasarnya mengangkat tema yang sama dengan film-film yang diimpor oleh Amerika. Pemerintah berharap film yang dibintangi oleh pribumi tersebut dapat menetralkan citra penonton pribumi terhadap orang Eropa. Mereka mencoba menjelaskan bahwa tingkah laku kehidupan orang Eropa sebenarnya ada pula dalam kehidupan pribumi. Satu tujuan yang cukup culas dari pemerintah kolonial untuk menetralisasi alam pikir pribumi.

Namun harus diakui pada perkembangannya, kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah mengenai izin pembuatan film di Hindia, yang tentunya memakai aktor-aktris pribumi, secara tidak langsung membawa Indonesia pada pengalaman pertamanya dalam dunia film.

Terdapat dua nama yang menjadi penting jika berbicara film cerita pertama pribumi. Ia adalah L. Heuveldorp dan G. Krugers. Dua orang tersebut merupakan produser utama pembut film Loetoeng Kasaroeng, film cerita pertama yang mengangkat legenda asli pribumi pada tahun 1926.

G. Krugers, Foto Wikimedia Commons
G. Krugers, Foto Wikimedia Commons

Film tersebut merupakan film pertama yang dirilis secara komersial dan secara langsung melibatkan aktor dan aktris pribumi. Dalam buku Bikin Film Di Jawa: Sejarah Film 1900-1950, Misbach memaparkan bahwa pembuatan film tersebut mendapat dukungan dan bantuan besar dari Bupati Bandung, Wiranatakusumah V. Setelah film tersebut, G. Kruger juga menerbitkan film lain yang berjudul Eulis Atjih.

Film lain yang dibuat oleh G, Kruger, tahun 1927
Film lain yang dibuat oleh G, Kruger, tahun 1927

Meski belum ditemukan data akurat dan lengkap mengenai siapa saja yang bermain dalam film cerita pertama asli Indonesia yaitu Loetoeng Kasaoreng, namun setidaknya terdapat dua nama yang berhasil dihimpun terkait film tersebut. Ia adalah Martoana dan Oemar. Dua aktor utama film tersebut. Sayangnya data pribadi kedua orang penting tersebut hanya terbatas pada nama. Misbach juga mengatakan bahwa saat awal produksi, calon pemain atau aktor akan diuji untuk memperlihatkan “rupa gusar, sayang, kagum, jemu, kasihan, masa bodoh dan kurang ajar”.

Ternyata, meski diawali dengan tujuan yang kurang ‘mengenakkan’ dari orang Eropa, namun terjunnya para aktor pribumi dalam film rupanya menuai hasil. Film cerita pertama asli Indonesia yang dibintangi aktor pribumi ini banjir pujian. Seperti yang dikutip dari Pewarta Soerabaya dalam kolom iklan:

“Liat bagaimana bangsa Indonesia tjoekoep pinter maen di dalam film, tida koeran dari laen macem film dari Eropa atawa Amerika……”


Sumber : diolah dari berbagai sumber

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu