Lupa Sandi?

Coffe Toffee dan Impian Menduniakan Indonesia

Bawono Yadika
Bawono Yadika
0 Komentar
Coffe Toffee dan Impian Menduniakan Indonesia

Aromanya yang khas dan teman akrab ketika deadline menggunung, kopi selalu jadi pilihan destinasi terbaik untuk mendinginkan suasana. Abimana Aryasatya misalnya, salah satu aktor kebangaan Indonesia ini mengaku acap kali kesulitan untuk terlepas dari kebiasaannya dalam meminum kopi. Kopi menurutnya, harus selalu hadir saat setiap bangun tidur atau hendak beraktifitas. “Selain itu, kopi membuat saya tetap fokus," ujar Abimana menyimpulkan.

Berbicara mengenai kopi, Indonesia juga tak kalah saing dalam kualitas kopi-kopi lokalnya. Hal ini sudah dibuktikan oleh salah satu kedai kopi yang telah berdiri 11 tahun lamanya. Dia adalah Coffee Toffee. Mempunyai arti permen coklat, nama Coffee Toffee ini dianggap pas, unik, dan juga seirama oleh Founder dari kedai kopi ini, yakni Odi Anindito dan istrinya, Rakhma Sinseria.

Didirikan pada tahun 2006 silam di Surabaya, Odi dan Ria memulai usaha kedai kopi ini di garasi yang mereka sulap jadi tempat coffee shop. Sempat mengenyam pendidikan di negeri kangguru, dan menjadi barista di salah satu kafe disana, Odi menemukan bahwa produk kopi yang digunakan oleh kafe tersebut berasal dari Indonesia. Dari sinilah Odi tergugah dan berfikir, mengapa bukan orang-orang Indonesia yang seharusnya berbisnis dan menikmati kopi-kopi enak asal Indonesia. Lantas, Odi dan Istri merealisasikan ide tersebut dalam kedai kopi kecil pertamanya di Surabaya.

Tampilan interior gerai Coffee Toffee Taman Apsari, Surabaya (foto: franchiseglobal.com)
Tampilan interior gerai Coffee Toffee Taman Apsari, Surabaya (foto: franchiseglobal.com)

Di gerai Coffee Toffee Jalan Taman Apsari, Surabaya, GNFI berkesempatan mewawancarai sang founder. Sembari bersama-sama menikmati Avocado Cream Joe, salah satu varian minuman paling larisnya Coffee Toffee, Odi yang kala itu didampingi istrinya membagikan kisahnya serta pengalaman-pengalaman inspiratifnya pada kami dan bagaimana kita sepatutnya bangga menjadi orang Indonesia.

Baca Juga

Saat ini kita banyak sekali menemukan kedai-kedai kopi yang meyajikan kopi khas Indonesia dengan harga miring. Hal ini diamini oleh Odi, namun menurutnya bisa dibilang Coffee Toffee merupakan salah satu pionir waralaba kopi lokal pada tahun 2006 dengan konsep kedai yang modern.

Berbicara mengenai varian rasa, Odi membeberkan dirinya punya visi untuk menemukan kopi-kopi yang banyak masyarakat belum ketahui. Menurutnya, Coffee Toffee mempunyai tujuh varian rasa kopi, yang sangat mengedepankan unsur-unsur lokal. “Kami pastikan semua produk yang kami gunakan buatan dalam negeri,” jelas Odi.

Ini tidak bercanda. Odi mengungkapkan kalau bahan-bahan yang digunakan dalam setiap menunya hampir 95%-nya adalah buatan lokal. Tak terkecuali biji-biji kopi yang digunakan. Odi benar-benar menggunakan kopi dari para petani lokal dengan jenis kopi yang baru dan memiliki kualitas bagus. Hal ini dilakukan juga dalam rangka membantu meningkatkan pendapatan petani kopi.

“Seperti yang kami lakukan pada akhir tahun 2016 kemarin, bekerja sama dengan Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor, Coffee Toffee menyelenggarakan Bogor Coffee Festival dalam rangka memberdayakan dan meningkatkan pendapatan petani kopi Bogor," kisahnya.

Selain itu, Odi juga memaparkan bahwa petani lokal mempunyai potensi penjualan yang sangat luar biasa. “Dalam pelelangan di festival ini misalnya, kopi robusta Bogor terjual dengan harga termahal se-Indonesia, yaitu 2 juta per kg-nya. Yang lebih membanggakan lagi ialah kualitas kopi petani lokal ini sudah terverifikasi oleh asosiasi sebagai special tea yaitu di atas premium,” ungkapnya.

Bulan Februari lalu Coffee Toffee meluncurkan varian kopi baru, yaitu kopi Bajawa dan Malabar (foto: GNFI)
Bulan Februari lalu Coffee Toffee meluncurkan varian kopi baru, yaitu kopi Bajawan dan Malabar (foto: GNFI)

Tak hanya kopinya yang otentik buatan dalam negeri, properti dan interior yang ada di setiap kedai Coffee Toffee pun menggunakan produk dalam negeri. Contohnya adalah cangkir-cangkirnya yang merupakan buatan pengrajin Malang yang diambil dari kampung keramik. Pun furnitur-furnitur dari Coffee Toffee ini juga diambil dari pengrajin Surabaya.

"Kami tak hanya ingin membuat kopi Indonesia, tapi kami juga ingin memanfaatkan sumber daya lokal dengan melibatkan UKM lokal untuk turut serta dalam setiap prosesnya," kata Odi.

Di samping itu semua, ada satu hal yang unik dari Coffee Toffe, yakni pada logonya. Jika Kawan cermati, logo Coffee Toffee di dalamnya terdapat simbol biji kopi, biji coklat, dan daun teh. Bagi Odi, hal ini bukan tanpa alasan. Sejak awal mendirikan Coffee Toffee ia ingin menyampaikan semangat optimisme.

Odi menerangkan, tiga simbol itu menggambarkan tentang love, passion, and enthusiasm. Love disini artinya walk to talk yaitu berbicara harus sesuai tindakan, sedangkan passion disini merujuk pada do it like a pro yaitu lakukanlah sesuatu seperti layaknya professional, dan enthusiasm artinya mengandung 2 hal; pertama yaitu beat yesterday yang artinya menjadi versi diri yang lebih baik daripada kemarin, dan kedua yaitu rebel with the cost yang artinya punya semangat pemberontak dengan tujuan yang baik di dalamnya.

“Sebagai contoh, tahun 2000-an orang-orang lebih condong ke hal-hal yang berbau kebarat-baratan dan kita melawan arus dengan memasuki muatan-muatan lokal, kita rebel dengan kondisi yang ada,” ujar Odi.

Di garda terdepan jadi 'Starbucks'-nya Indonesia

Serba murni Indonesia, mulai dari produk kopi-kopi, furnitur, hingga orang-orang yang dilibatkan dalam Coffee Toffee serta visinya memajukan Indonesia, tak salah jika Presiden Joko Widodo meminta kedai kopi ini sebagai versi ‘starbucksnya’ Indonesia November 2016 lalu.

Waktu itu, Coffee Toffee hadir dalam pameran Indonesia Franchaise & SME Expo (IFSE) 2016 di Jakarta Convention Center (JCC). Lebih dari 113 kedai kopi yang tersebar di Pulau Jawa, Sulawesi, dan Kalimantan hadir dalam ajang tersebut. Kemudian di hadapan para hadirin, Odi diminta maju ke atas panggung dan saat itulah Presiden Joko Widodo secara eksplisit meminta Coffee Toffee sebagai ikon kedai kopi nasional.

"Pak Jokowi waktu itu bilang 'Saya ingin ketika saya pergi ke kota-kota besar Indonesia saya menemukan Coffee Toffee'," ujar Odi menirukan ucapan presiden.

Odi dan tim Coffee Toffe kini tengah memantapkan diri tampil di pasar Asia Tenggara (foto: GNFI)
Odi dan tim Coffee Toffe kini tengah memantapkan diri tampil di pasar Asia Tenggara (foto: GNFI)

Selain itu, Presiden Joko Widodo juga berpesan agar Coffee Toffee bisa 'menyerang' luar negeri. Artinya, selain menjadi ikon nasional, Coffee Toffee juga harus bisa menjajal pasar luar negeri. Dan hal itu saat ini memang sudah jadi fokus Odi dan semua kerabat di Coffee Toffee untuk mulai berekspansi keluar negeri.

"Kita sudah menargetkan hal itu dan saat ini kami sedang melakukan kerja sama dengan mitra-mitra strategis untuk bisa mewujudkan menjadi gerai kopi terbesar di Indonesia. Kita sudah menargetkan tiga tahun ke depan untuk bisa memasuki pasar Asia Tenggara," ucap Odi mantap.

Sebelas tahun berdiri, Coffee Toffee nyatanya sudah meninggalkan jejak prestasi yang membanggakan. Nominee Indonesia Franchise Start Up Award 2009 versi majalah Info Franchise, Pemenang I Wanita Wirausaha Femina-BNI tahun 2010, The Best in Business Concept Indonesia Franchise Start Up Award 2010 versi majalah Info Franchise serta pengakuan dari Presiden Republik Indonesia Joko Widodo sebagai ikon nasional, merupakan sederet dari banyak penghargaan yang merupakan bukti akan kerja keras Odi dan Ria terkait dedikasinya terhadap Coffee Toffee Indonesia.

Lantas, menurut Odi Anindito apa kunci dari semua kesuksesan ini? Odipun membagi opininya, terkhusus bagi anak-anak muda Indonesia. "Kalau saya mungkin saranya lebih kepada pengusaha yah, menurut saya daripada kita sibuk menyalahkan pemerintah tidak bisa seperti ini, atau menyalahkan pihak-pihak tertentu, mari kita sebagai anak muda membuktikan dan berkarya," pungkasnya menutup wawancara kami di senja yang dingin itu.


*

GNFI

Pilih BanggaBangga77%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi23%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG BAWONO YADIKA

Saya adalah mahasiswa Sastra Inggris 2013 Universitas Brawijaya. Sekarang saya berada di tahun terakhir dalam masa perkuliahan. Saya sangat menyukai menulis, membaca, dan juga traveling. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti

ARTIKEL TERKAIT

Kopi dan Sawit Indonesia Seharga Pesawat Tempur Rusia

Indah Gilang Pusparani7 hari yang lalu

Indonesia, Negara Eksportir Kopi Terbesar Dunia?

Agatha Olivia Victoriasatu minggu yang lalu

Menteri Susi: Laut Natuna Penting bagi Indonesia

Adriani Zulivansatu minggu yang lalu
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara