Lupa Sandi?

Kisah Heroik Mendur Bersaudara di Balik Foto Proklamasi 1945

Dimas Ayuna
Dimas Ayuna
0 Komentar
Kisah Heroik Mendur Bersaudara di Balik Foto Proklamasi 1945

Suatu pagi pada 17 Agustus 1945, di salah satu halaman rumah di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 terlihat ramai. Rumah itu adalah milik Laksamana Muda Tadashi Maeda, seorang perwira tinggi Angkatan Laut Kekaisaran Jepang di Hindia Belanda. Beberapa pemuda sedang sibuk menyiapkan tiang tinggi dari bambu untuk upacara bendera. Sebagian lainnya sibuk mempersiapkan podium sederhana, tempat dibacakannya proklamasi kemerdekaan Indonesia. Ya, hari itu adalah hari yang paling bersejarah bagi berdirinya Indonesia.

Kawan pasti pernah melihat foto presiden pertama Indonesia, Soekarno sedang membacakan teks proklamasi. Foto berwarna hitam putih dengan latar belakang sosok Mohammad Hatta itu memang merupakan salah satu foto paling bersejarah bagi Indonesia. Namun siapakah sosok dibalik dokumentasi foto itu?

Pengibaran bendera merah putih pada 17 Agustus 1945
Pengibaran bendera merah putih pada 17 Agustus 1945

Pada saat itu, Jepang telah menyerah tanpa syarat dan menyatakan kekalahannya kepada sekutu, namun informasi tersebut belum banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia. Bendera Hinomaru (bendera Jepang) masih banyak berkibar di langit Indonesia kala itu. Bukan hanya itu, Jepang juga memblokade radio agar tidak dapat mengudara.

Adalah Alex Mendur dan Frans Mendur, kakak beradik yang secara diam-diam berhasil mendokumentasikan momen berharga sejarah berdirinya Indonesia kala itu. Alex Mendur lahir pada 1907, terpaut enam tahun dari sang adik, Frans Mendur yang lahit pada tahun 1913. Frans belajar forografi kepada Alex Mendur yang sudah lebih dulu menjadi wartawan di Java Bode, koran berbahasa Belanda di Jakarta. Frans kemudian mengikuti jejak saudaranya menjadi wartawan pada tahun 1935.

Baca Juga
Frans Mendur (kiri) dan Alwx Mendur (Kanan)
Frans Mendur (kiri) dan Alwx Mendur (Kanan)

Tepatnya pada hari proklamasi, Mendur bersaudara merapat ke rumah proklamasi pukul 05.00 pagi, tata kala matahari masih beradu di garsi horizon sebelah timur. Pada awalnya, Frans Sumarto Mendur mendengar kabar akan diadakannya proklamasi dari Harian Asia Raya. Sang kakak, Alexius Impurung Mendur yang menjabat sebagai kepala bagian fotografi kantor berita Jepang Domei juga mendengar hal serupa. Dedua Mendur bersaudara ini pun segera membawa kamera mereka dan mengambil rute terpisah menuju kediaman yang dimaksud.

Dari tiga frame film yang tersisa, Frans berhasil mengabadikan tiga foto. Foto pertama yakni ketika Soekarno membaca teks proklamasi. Foto kedua, ketika Latief Hendraningrat, anggota PETA (Pembela Tanah Air) mengibarkan bendera Merah Putih di halaman kediaman Terauchi. Foto ketiga, gambaran suasana upacara para pemuda ketika sang Merah Putih tengah dikibarkan.

Prosesi pengibaran bendera di hari kemerdekaan Indonesia
Prosesi pengibaran bendera di hari kemerdekaan Indonesia

Ketika upacara selesai, Mendur bersaudara secepatnya meninggalkan lokasi proklamasi. Mereka diburu tentara Jepang. Tentara jepang berhasil menangkap Alex Mendur dan menyita foto-foto yang berhasil didapatnya. Namun keberuntungan masih berpihak kepada Frans Mendur. Ia berhasil meloloskan diri dan sempat mengubur negatif foto di tanah dekat sebuah pohon di halaman belakang kantor Harian Asia Raya. Frans tertangkap kemudian, namun ia mengaku negatif foto itu sudah diambil barisan pelopor.

Perjuangan duo Mendur belum selesai sampai di situ, meskipun negatif foto berhasil diselamatkan, tetapi foto itu masih mentah. Masih perlu dicuci dan dicetak. Perjuangan mencuci dan mencetak pun tak mudah. Mereka harus diam-diam menyelinap di malam hari, memanjat pohon, sampai melompati pagar guna sampai di kantor Domei (sekarang kantor berita Antara). Foto bersejarah itu kemudian baru dapat dipublikasikan pada 20 Februari 1946.

Tugu pers
Tugu pers

Bisa dibayangkan apa jadinya jika Alex Mendur dan Frans Mendur tidak berhasil menyelamatkan foto dokumentasi hari proklamasi? Meskipun kehadiran mereka saat proklamasi tidak begitu diperhatikan, tapi berkat foto yang mereka ambil dan berhasil selamatkan, seluruh warga Indonesia bisa mengenang hari proklamasi melalui foto. Pada tahun 2009, barulah mereka dianugerahi penghargaan Bintang Jasa Utama oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono.

Tugu Pers Mendur yang diresmikan tahun 2013 menjadi satu-satunya monumen yang didirikan untuk mengenang jasa duo Mendur. Monumen tersebut dapat dijumpai di kelurahan Talikuran, Kecamatan Kawangko Utara, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Selain Tugu Pers Mendur, disana juga terdapat sebuah rumah yang di dalamnya terdapat 113 foto hasil jepretan Mendur Bersaudara.


Sumber : Diolah dari berbagai sumber

Pilih BanggaBangga63%
Pilih SedihSedih11%
Pilih SenangSenang8%
Pilih Tak PeduliTak Peduli5%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi11%
Pilih TerpukauTerpukau3%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG DIMAS AYUNA

Bukan apa-apa, hanya seorang mahasiswi yang sampai sekarang masih belajar menulis. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara