Lupa Sandi?

Wih, Karya-karya Sastra Klasik Balai Pustaka Akan dibuat Versi Visualnya!

Zia Dzulfia
Zia Dzulfia
0 Komentar
Wih, Karya-karya Sastra Klasik Balai Pustaka Akan dibuat Versi Visualnya!

Bertepatan dengan usianya yang ke 100 tahun, Balai Pustaka dan MNC Pictures bersama-sama menjalin komitmen untuk melestarikan karya-karya besar sastra klasik Indonesia lewat pendekatan yang lebih popular, media visual.

Dilansir dari Antaranews.com, terdapat 12 judul sastra klasik Indonesia yang siap diolah menjadi format sinetron dan layar lebar. Adapun judul pertama yang akan segera digarap menjadi format sinetron adalah karya milik Sutan Takdir Alisjahbana, ‘Layar Terkembang’.

“Bertepatan di usia Balai Pustaka yang ke-100, saya sangat bangga Balai Pustaka dapat mengalih mediakan koleksi sastra klasik Indonesia ke dalam format yang sangat populer bagi masyarakat Indonesia: sinetron dan layar lebar. Tugas Balai Pustaka tidak sekedar menyimpan dan mengoleksi karya sastra, tapi juga bertanggung jawan menyampaikan pesan moral yang terkandung dalam setiap karya sastra klasik Indonesia,” ujar Direktur Utama Balai Pustaka, Saiful Bahri.

salah satu karya sastra klasik BP
salah satu karya sastra klasik BP

Baca Juga

Hal ini patut diapresiasi mengingat Balai Pustaka merupakan salah satu penerbit tertua di Indonesia yang hadir sejak tahun 1908 dan telah melahirkan banyak karya sastra klasik yang menjadi acuan penulisan karya sastra di masa selanjutnya. Di antaranya ialah Salah Asuhan karya Abdoel Moeis, Si Dul Anak Betawi karya Aman Dt. Majoindo, Sitti Nurbaya karya Marah Roesli dan masih banyak lagi.

Kerja sama yang dijalin oleh Balai Poestaka dan MNC Pictures merupakan satu langkah baik yang dapat menjadi nafas baru, tidak saja bagi dunia pertelevisian dan perfilman, melainkan juga bagi Balai Pustaka sendiri.

Managing Director MNC Pictures, Titan Hermawan menyatakan MNC Pictures siap mengembangkan tontonan berkualitas dan melahirkan kembali karya-karya sastra klasik Indonesia agar dapat lebih dikenal oleh masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda.

“Tujuan kami dalam proyek ini jelas, selain untuk menyediakan lebih banyak opsi tontonan yang berkualits kepada audiens kami, juga sebagai komitmen untuk turut melestarikan karya-karya sastra lama, dan Balai Pustaka adalah pelaku terdepan di sektor tersebut,” ungkap Tita Hermawan.

Biar sastra klasik asyik untuk dinikmati

Berbicara jenis, selama ini terdapat dua jenis buku yang identik dengan Balai Pustaka: buku pendidikan dan buku sastra Indonesia klasik yang seringkali lebih populer dengan sebutan “Sastra Angkatan Balai Pustaka” yang berjaya pada tahun 1920-1950.

Pada masa tersebut, novel Sitti Nurbaya dan Salah Asuhan menjadi karya yang cukup penting. Keduanya menampilkan kritik tajam terhadap adat-istiadat dan tradisi kolot yang membelenggu. Dalam perkembangannya, tema-tema seperti ini banyak mengilhami penulis lainnya pada masa itu.

Meski telah terbit sejak tahun 1920-an, kenyataannya terdapat beberapa novel klasik yang hingga saat ini masih digemari oleh pembaca. Terbukti dari cetak ulangnya novel-novel seperti Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, Layar Terkembang, Salah Pilih, dan masih ada beberapa yang lainnya. Data yang didapat dari website resmi Balai Pustaka memperlihatkan bahwa lebih dari 20 novel sastra klasik masih dapat dipesan hingga saat ini. Bahkan beberapa novel edisi khusus dijual dengan harga 3 juta-an. Harga yang cukup bombatis untuk buku terbitan dalam negeri.

beberapa novel sastra klasik BP yang terus cetak ulang
beberapa novel sastra klasik BP yang terus cetak ulang

Upaya Balai Pustaka untuk terus melestarikan karya-karya sastrawan besar Indonesia tidak berhenti di sana. Balai Pustaka di tengah gempuran teknologi yang semakin canggih saat ini terus mencoba menyejajarkan diri agar tidak tertinggal.

Selain bekerja sama dengan MNC Pictures untuk mengangkat cerita sastra klasik andalannya ke ranah yang lebih populer yaitu televisi dan layar lebar, Balai Pustaka juga mengkonversi sastra klasik Indonesia ke konten digital.

Dilansir dari jpp.go.id, Balai Pustaka telah menandatangani Nota Kesepahaman dengan ThinkByUs Sdn Bhd, sebuah rumah produksi terkemuka asal Malaysia, untuk mengkonversi koleksi sastra klasik Balai Pustaka menjadi format audiobook.

Audiobook yang berkonten sastra klasik ini dijadwalkan akan didistribusikan di pasar Malaysia pada akhir April 2017. Hal ini tentu menjadi kabar baik bagi Indonesia karena membuktikan bahwa sastra Indonesia masih diminati dengan tinggi di negara serumpunnya.

“Balai Pustaka memiliki posisi yang strategis dalam membangun dan memperkuat kerja sama budaya dan sastra antar kedua negra. Inisiatif pengkonversian konten ke dalam format audiobook ini diharapkan dapat memperkaya khasanah kesusasteraan klasik Indonesia di Malaysia,” ujar Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid.

novel karya Hamka yang dialih-filmkan
novel karya Hamka yang dialih-filmkan

Perlu diingat kembali, kira-kira empat tahun sebelumnya, tepatnya pada tahun 2013, salah satu novel Balai Pustaka yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Buya Hamka juga berhasil dialih-filmkan. Film tersebut berhasil mendapat apresiasi sangat positif dari penonton Indonesia.

Di usianya yang genap 100 tahun, Balai Pustaka semakin gencar berekspansi dan bertransformasi ke sektor digital yang saat ini jadi primadona. Selain kerja sama dengan MNC Pictures, pengkonversian konten menjadi audiobook, pada tahun 2016 Balai Pustaka juga menggandeng Telkom untuk meluncurkan Pustaka Digital (PaDi).

Di tengah himpitan tekonologi yang mengitimidasi, Balai Pustaka terus mencoba melestarikan sastra klasik untuk tetap dapat dinikmati dengan asik. Sebuah usaha lain di usia ke-100 yang perlu diapresiasi dengan baik. Selamat ulang tahun, Balai Pustaka!

diolah dari berbagai sumber

Pilih BanggaBangga20%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang40%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi20%
Pilih TerpukauTerpukau20%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ZIA DZULFIA

Sedang hidup dikelilingi karakter fiksi. Paling suka makan pop mie lewat jam 12 malam di kereta saat perjalanan keluar kota. Biasa menulis hal-hal remeh. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara