Singkawang, salah satu kota yang ada di Kalimantan barat. Kota yang terletak di sebelah utara Kota Pontianak ini punya kekayaan budaya Tionghoa yang unik. Nama Singkawang diambil dari bahasa Hakka, yakni San Khew Jong yang mengacu pada sebuah kota di bukit dekat laut. Singkawang juga merupakan salah satu kota pecinan. Dominasi masyarakat Tionghowa di sini mencapai 42%.

Lantaran banyaknya penduduk Tionghoa di Singkawang, kota ini memiliki julukan sebagai Kota Seribu Kelenteng. Selain itu, ternyata di Kota Singkawang, masih tersimpan sebuah tradisi ekstrim. Tradisi ini namanya Pawai Tatung, yakni sebuah tradisi menusuk badan. Tradisi tusuk badan ini biasanya diadakan menjelang perayaan Festival Cap Go Meh hari ke-15 setelah tahun baru Imlek. Tradisi ini dinilai ekstrim lantaran menyajikan atraksi menusuk-nusuk badan dengan benda tajam.

Perayaan Cap Go Meh
Perayaan Cap Go Meh

Tatung merupakan sebutan bagi orang yang menusuk-nusukkan benda tajam ke tubuhnya. Dalam bahasa Hakka, Tatung adalah orang yang dirasuki roh dewa atau leluhur. Dengan menggunakan mantra dan mudra tertentu, roh dewa dipanggil kemudian merasuki raga orang yang dituju.

Pawai tatung menjadi salah satu pertunjukan yang ditunggu-tunggu masyarakat Singkawang ketika perayaan Cap Go Meh. Dalam pertunjukkan ini, para tatung tidak lagi sadarkan diri. Mereka telah dirasuki roh halus kemudian mempertontonkan kesaktian mereka berupa kekebalan terhadap benda tajam. Mengenakan pakaian khas Tionghoa, badan hingga pipi para tatung ditusuki benda-benda tajam kemudian mengitari jalan-jalan yang ada di sana.

Tstung yang telah dirasuki
Tstung yang telah dirasuki

Tak sedikit penonton pawai yang merasa ngeri ketika menyaksikan pawai tatung ini. Meskipun begitu, saat ditusuk benda tajam, tidak ada satu pun tatung yang terluka. Mereka memiliki kekebalan tersendiri layaknya pertunjukan debus. Mulai dari pedang, besi, paku, kawat, hingga pisau dihunuskan ke tubuh para tatung.

Sejarah Pawai Tatung

Lukisan yang menggambarkan Suku Hakka di Kalimantan Barat
Lukisan yang menggambarkan Suku Hakka di Kalimantan Barat

Pawai Tatung bermula dari kedatangan etnis Tionghoa di Nusantara 4 abad silam, khususnya suku Khek atau Hakka, dari Cina Selaan ke Pulau Borneo, sebutan untuk Kalimantan. Sultan Sambas penguasa Singkawang kala itu kemudian mempekerjakan masyarakat pendatang itu di pertambangan emas di Montedaro. Bertahun-tahun mereka tinggal di perkampungan di Kalimantan Barat. Suatu ketika, masyarakat setempat terserang wabah penyakit. Kala itu, warga meyakini wabah penyakit disebabkan adanya roh jahat. Karena belum ada pengobatan kedokteran modern di sana, masyarakat Tionghoa pendatang itu kemudian mengadakan ritual tolak bala. Ritual ini, dalam bagasa Hakka disebut Ta Ciau. Ta Ciau ini lah yang menjadi cikal bakal tradisi Pawai Tatung di Singkawang.

Dalam perayaan Cap Go Meh, Pawai Tatung dimaksudkan sebagai ritual pencucian jalan untuk membersihkan segala kesialan dan roh jahat yang ada di seluruh kota. Jadi ketika perayaan Cap Go Meh, para Tatung berkeliling ke jalan-jalan yang ada di Kalimantan Barat, khususnya kota Singkawang. Sedangkan yang menjadi Tatung pun tidak sembarangan, biasanya yang bisa menjadi Tatung adalah seseorang yang memiliki garis keturunan baik ayah atau kakeknya pernah menjadi Tatung.

Tatung kebal terhadap tusukan benda tajam
Tatung kebal terhadap tusukan benda tajam

Bukan hanya menuntut seorang tatung berasal dari keturunan yang pernah menjadi tatung, sebelum menjadi tatung mereka harus berpuasa terlebih dahulu. Di antaranya tidak boleh makan daging dan berhubungan badan selama minimal 1 satu minggu. Tidak berhenti sampai di situ, calon tatung juga diharuskan melempar kayu, jika muncul dua sisi yang sama secara berturut-turut, tandanya mereka boleh melanjutkan sebagai tatung, dan sebaliknya.

Sampai sekarang tradisi ini masih terus lestari di Singkawang. Biasanya pertunjukan ini hanya dapat disaksikan ketika perayaan Cap Go Meh. untuk melihat Pawai tatung, tidak sedikit masyarakat Singkawang serta wisatawan luar negeri yang menyempatkan hadir di perayaan Cap Go Meh.


Sumber : diolah dari berbagai sumber

Ada 1 komentar

Ayo ikutan juga