Siapa yang tidak kenal tempe, apalagi untuk kita yang mengaku orang Indonesia, pasti mengenal tempe dengan jelas. Biasa dimakan dengan menu utama yaitu nasi pun sebagai kudapan dalam waktu santai, kita terbiasa makan tempe dalam bentuk variasi penyajianya.

Berita tentang beredarnya tempe di luar negeri bahkan mungkin sudah tak asing bagi kita, namun adakah yang tahu seberapa jauh eksistensi tempe dan seperti apa pandangan orang luar yang benar mengenainya? Kali ini GNFI akan mengulik lebih dalam spesial tentang tempe, warisan budaya Indonesia.

Fakta Eksistensi Tempe di Luar Negeri

Kawan pasti banyak yang mengetahui bahwa tempe juga cukup terkenal di luar negeri. Namun, tahu tidak setidaknya lebih dari dua negara mengakui tempe ini sebagai sesuatu yang ‘ajaib’ bagi mereka dan juga menyediakan banyak manfaat di dalamnya. Seperti yang dilansir oleh BBC Indonesia bahwa setidaknya ada tiga negara yang mengenal eksistensi tempe, yakni Meksiko, Jepang, dan juga Inggris.

Di meksiko misalnya, tempe disebut sebagai heaven, di luar negeri disebut magic food, sedangkan di Jepang makanan ini bahkan dipandang sesuatu yang luar biasa sekali, jauh sekali jika dibandingkan dengan junk food. Dikenal tinggi akan protein. Banyak ahli gizi menyebutkan bahwa kandungan protein tempe hampir menyamai daging, susu, atau telur.

Manfaat tempe dibandingkan daging
Manfaat tempe dibandingkan daging

Di London, Inggris, tempe ini dipopulerkan oleh salah satu bule yang bernama William Mitchel. Merupakan asli warga Inggris, William belajar langsung cara memproduksi tempe di Jawa dan menjajakannya di pasar melalui kedai miliknya pribadi. Tak main-main respon orang-orang disana pun sangat positif.

"Warung Tempeh" khas Indonesia di London, Inggris (bbc.com/indonesia)

Dalam kesempatan wawancara dengan bbc.com beberapa bahkan menyebutkan sangat puas terkait manfaat yang dihasilkan tempe ini. "Saya membeli (nasi dengan) dua lauk, kari tempe kuning dan tempe jinten. Menurut saya ini makanan yang paling enak di dua pasar yang ada dekat sini. Dan juga ini vegetarian, jadi tidak terasa penuh di perut," kata satu pelanggan.

Pelanggan lain pun sudah tahu darimana asal tempe ini.

"Saya beli setiap kedai ini buka," kata pengunjung lainnya.

"Anda tahu dari mana tempe berasal?"

"Ya, Indonesia"

Selain William, dari Indonesia kita memiliki Rustono pebisnis asli Jawa Tengah yang ikut andi mempopulerkan tempe di Jepang. Dikenal sebagai raja tempe, Rustono mulai membangun bisnisnya ini pada 1997 dan kini telah mengolah satu ton kedelai per hari. Tak cuma di Jepang, produksi tempenya sudah merambah ke Meksiko dan Korea. "Di dunia internasional tempe itu sudah dikenal dari Indonesia. Ada orang Indonesia bilang tempe dipatenkan di Jepang, itu tidak benar. Itu bohong besar, saya berkali-kali menjelaskan itu," kata Rustono.

Rustono dan Produksi Tempenya di Jepang
Rustono dan Produksi Tempenya di Jepang (bbc.com/indonesia)

Membuat 'Indonesia Tempe Movement'

Perjuangan Rustono memvokalkan tempe di luar negeri bukan tanpa hambatan. Sebagai pengusaha, dia juga kerap dianggap remeh. "Ada waktu itu teman saya bilang, 'jauh-jauh ke Jepang kok buat tempe.' Intonasinya kelihatan sekali mengesankan tempe sebagai sesuatu yang murahan, enggak mutu. Masih saya rasakan. Paradigma itu masih kuat," katanya.

Namun Rustono tidak sendirian, muncul suatu gerakan tempe yang dikenal dengan sebutan Indonesia Tempe Movement, hadir sebagai inisiatif gerakan yang berusaha untuk mengubah pandangan anak muda tentang tempe. Seperti apa yang dilansir dalam websitenya sendiri tempemovement.com, banyak sekali aktivitas-aktivitas yang telah dilakukan gerakan tempe ini dalam misinya mengedukasi, menghubungkan, serta memberdayakan masyarakat melalui sociopreneurship.

Bahkan ada konferensi tempe juga loh (indonesiatempemovement.com/gallery)
Bahkan ada konferensi tempe juga loh (indonesiatempemovement.com/gallery)

Tak hanya itu, bekerja sama dengan Oxford melalui PPI Oxford disana, November 2016 lalu Indonesia Tempe Movement mengadakan workshop pembuatan tempe di St John College, University of Oxford. Melalui pembelajaran pembuatan tempe ini, diharapakan para pengunjung akan mempunyai pemahaman yang lebih baik terkait masakan tradisional dan juga terinspirasi untuk menjalin bisnis atau kerja sama terkait tempe ini.

Workshop Pembuatan Tempe Oleh PPI Oxford dan Indonesia Tempe Movement
Workshop Pembuatan Tempe Oleh PPI Oxford dan Indonesia Tempe Movement

Pengakuan Dunia

Belum ada budaya pangan yang telah diakui dari organisasi dunia, Forum Tempe Indonesia sedang dalam proses penyiapan dokumen untuk menjadikan tempe sebagai warisan budaya tak benda di UNESCO. Hal ini dinilai sangat cocok untuk diajukan karena punya bukti sejarah yang kuat.

"Termuat dalam Serta Centhini jilid tiga, jilid 12. Ada kata-kata tempe di situ. Serat Centhini itu diterbitkan pada tahun 1800-an tapi isinya menggambarkan kehidupan di abad 16. Jadi kita percaya tempe sudah ada di Indonesia sejak tahun 1600-an," kata ketua Forum Tempe Indonesia, Made Astawan. "Ini penting sebagai pengakuan, jangan sampai tempe sudah dikenal dimana-mana, kemudian enggak jelas asal usulnya dari mana."

Made Astawan  mengatakan Forum Tempe Indonesia kini tengah menyusun dokumen untuk mengajukan tempe sebagai warisan budaya Indonesia ke UNESCO.
Made Astawan mengatakan Forum Tempe Indonesia kini tengah menyusun dokumen untuk mengajukan tempe sebagai warisan budaya Indonesia ke UNESCO.

Pengakuan ini penting untuk menciptakan rasa bangga mengkonsumsi tempe. "Sama seperti batik, setelah diakui oleh UNESCO, kemudian orang-orang bangga memakai batik. Anak-anak remaja pakai batik, ke mana-mana pakai batik. Dulu kan batik identik hanya untuk kondangan," sambungnya.

Sumber: diolah dari berbagai sumber

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu