Jakarta tengah bersuka.

Pemimpin baru segera tiba. Dialah si calon penghuni Balaikota. Entah dia yang pernah di sana. Atau dia yang sedang menuju sana.

Hari ini untuk kedua kalinya. Warga Jakarta sedang memilih pemimpinnya. Inilah upaya menentukan masa depannya. Menjadi bagian dari kehidupan kotanya.

Lihatlah ke atas Bundaran Hotel Indonesia. Sepasang manusia menantinya. Lambaian tangan juga karangan bunga. Monumen Selamat Datang turut menyambut mereka.

Mereka lah si orang hebat. Para tokoh negara yang mampu kuasai debat. Anak bangsa itu ada empat. Dari sebuah bangsa yang berdaulat.

Dialah si Nomor 2. Dialah si Nomor 3. Dialah si orang Belitung. Dialah si orang Jogja. Dialah si orang Cina. Dialah si orang Arab. Dialah si kristiani. Dialah si muslim.

Ialah si Nomor 2. Ialah si Nomor 3. Ialah si pendidik. Ialah si pengusaha. Ialah si anak tentara bangsa. Ialah si anak pegawai kantoran. Ialah putra sang pemilik toko kelontong. Ialah putra sang pendidik etiket.

Suara pemimpin adalah suara warganya. Siapa pun yang akan keluar sebagai pemenangnya. Mereka lah yang telah ditetapkan olehNya.

Hari ini akan menjadi legenda. Suka ria Jakarta menjadi bagian negara. Jangan sampai ada prahara. Mari bersama wariskan bahagia.

Jakarta tengah bersuka.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu