Lupa Sandi?

Lulo, Tarian Pemersatu Keberagaman

makmur -
makmur -
0 Komentar
Lulo, Tarian Pemersatu Keberagaman

Indonesia merupakan negara yang majemuk sehingga perbedaan tidak terelakkan untuk setiap masyarakat. Setiap daerah atau diskala yang lebih kecil seperti sekolah memiliki standar pola perilaku yang diterima berbeda-beda, sehingga apa bila ada seseorang atau sekelompok yang kontra terhadap hal tersebut apalagi dengan tindakan yang keras tentunya akan menimbulkan konflik. Tingkah laku yang bertentang di lingkugan masyarakat ini disebabkan oleh beberapa hal, seperti sulit menerima perbedaan dan kebudayaan yang terus tergerus oleh arus gelobalisasi. Sehingga dampaknya sangat memprihatinkan untuk masa depan bangsa.

Kota-kota besar salah satunya Jakarta, konflik antar pelajar pernah terjadi dan menjadi sorotan sebab terekspos di televisi yang membuat seluruh masyarakat Indonesia menyaksikannya. Berdasarkan data yang diperoleh dari Bimmas Polri Metro Jaya, diperoleh bahwa tahun 1998 ada 230 kasus yang menewaskan 15 pelajar dan dalam survei lebih lanjut terjadi peningkatan disetiap tahun. Perlu di pahami bahwa hal ini terjadi tidak semata-mata karena kurangnya pendidikan moral saja, namun konflik-konflik ini terjadi karena siswa-siswi sudah tidak mengenal lagi kebudayaannya akibat kebudayaan luar yang masuk tanpa filtrasi. Apa bila hal ini berlangsung terus menerus maka tujuan pendidikan sulit tercapai.

Berbicara tentang kebudayaan erat kaitanya dengan pendidikan utamanya pendidikan anak di sekolah dasar dan sekolah menengah. Pendidikan yang mengarahkan kepada perubahan tingkah laku yang positif perlu sokongan dari kebudayaan yang mencirikan kepribadian dari sesorang dalam bertingkah laku. Dapat dikatakan antara pendidikan dan kebudayaan itu saling berkaitan dalam membentuk karakter seorang peserta didik. Memahami, melestrikan, dan mengembangkan kebudayaan ini sangat penting untuk pelajar Indonesia dengan melihat realita yang terjadi saat ini. Dapat membantu dalam merevolusi karakter anak bangsa dan memahaami hakikat kebinekaan melalui kebudayaan yang dapat merangkul mereka semua.

Kebudayaan yang ada di sekolah telah di formalkan melalui suatu mata pelajaran yang disebut seni budaya. Seni budaya ini mengenalkan kepada peserta didik mengenai berbagai kebudayaan nusantara tidak terkecuali seni tari daerah. Seni tari pada setiap daerah berbeda-beda, untuk di daerah Sulawesi Tenggara salah satu tari yang sangat terkenal adalah Tari Lulo. Tari ini sering di tampilkan oleh siswa-siswi dalam peraktek seni budaya tersebut. Namun masalahnya yang tidak disadari adalah dalam peraktek tarian ini hanya berfokus pada keindahan tarian yang bertujuan untuk penilain guru saja, padahal memahami makna dari setiap gerakan dan posisi dalam tarian jauh lebih penting.

Baca Juga

Filosofi tarian “lulo” adalah persahabatan, yang biasa ditujukan kepada muda-mudi Suku Tolaki sebagai ajang perkenalan dan mempererat tali persaudaraan (https://id.wikipedia.org). Formasi yang dibentuk saat melakukan tarian persahabatan ini membentuk lingkaran. Lingakaran merupakan simbol persatuan umat. Gerakan dari tarian ini yakni bergandengan tangan dengan ayunan seirama dan langkah kaki yang serentak. Bergandengan tangan dan di ayunkan seirama bermakna bahwa sabagai manusia sepatutnya bergandengan tangan dalam menyelesaikan permasalahan. Begitu pula dengan langkah kaki yang serentak nan seirama yang bermakna bahwa dalam mencapai tujuan bersama selayaknya dilakukan dengan langkah secara bersama-sama.

Tarian ini dapat dilakukan oleh siapa saja baik anak-anak maupun dewasa, pria atau wanita, kalangan atas maupun kalangan bawah. Sebab tari ini tidak mengenal perbedaan. Berbeda dengan poco-poco yang dilakukan bersama-sama tapi gerakanya sendiri-sendiri, tidak seperti lulo yang membentuk lingkaran dan bergandengan. Sehingga memberi arti bahwa kita sumua bersaudara utamanya pelajar.

Jadi, tari lulo ini sangat mengajarkan mengenai persatuan kepada pelajar mulai dari filosofinya, posisinya, gerakan tangannya, dan gerakan kakinya. Sehingga mampu merevolusi karakter bangsa yang lebih harmonis dan memahami hakikat kebinekaan melalui seni tari. Sangat cocok di praktekkan oleh pelajar sembari memahami maknanya tidak hanya di Sulawesi Tenggara tapi juga di daerah-daerah lain yang ada di Indonesia.


Sumber:

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG MAKMUR -

I can write because I understand my self Kendari One Name for One Future ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata