Lupa Sandi?

Mereka yang Memperjuangkan Hak-hak Perempuan Bangsa

Arifina Budi
Arifina Budi
0 Komentar
Mereka yang Memperjuangkan Hak-hak Perempuan Bangsa

Menjadi perempuan itu harus kuat, berani, dan cerdas. Setidaknya tiga hal ini yang ingin ditekankan oleh Kartini dalam perjuangannya terhadap emansipasi perempuan, menyetarakan hak antara perempuan dan laki-laki. Hal yang paling getol diperjuangkan Kartini adalah pendidikan karena ia pada usia 12 tahun setelah selesai sekolah di Europese Lagere School  (ELS)  tidak diperbolehkan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Pada masa itu, tepatnya di akhir abad ke-19, bagi masyarakat pribumi, perempuan memang punya stigma sebagai 'orang rumahan' di mana tugasnya hanyalah mengurusi urusan rumah tangga. Pun gadis di usia-usia 12 tahun seperti Kartini masa itu sudah bisa dipingit dan dinikahkan.

Namun, menurut Kartini kehidupan perempuan tidak seharusnya sebatas di dalam rumah. Ia pun berusaha memperjuangkan hak perempuan untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi. Awalnya ia menceritakan segala kegelisahan dan cita-cita besarnya ini dengan seorang sahabatnya di Belanda, Rosa Abendanon. Lambat laun Kartini mulai banyak membaca buku dan koran Eropa yang semakin membuka mata Kartini tentang bagaimana para perempuan di Eropa bisa berpikiran maju. Perjuangan Kartini pun tak pernah berhenti hingga akhir hayatnya di usia 25 tahun.

Tentu kita ingat betul kisah perjuangan Raden Ayu Kartini tersebut. Namun, yang namanya perjuangan tentu harus ada yang meneruskan agar cita-cita mulia itu bisa tercapai. Usai perjuangan Kartini, kita juga perlu mengingat perjuangan para perempuan Indonesia lainnya setelah Kartini dalam meninggikan ha-hak perempuan Indonesia. Siapa saja mereka?

S.K. Trimurti

 

SK Trimurti
SK Trimurti

Kita mengenalnya sebagai salah satu perempuan pejuang kebebasan pers dan kemerdekaan Republik Indonesia. Istri dari sang pengetik naskah Proklamasi Sayuti Melik ini punya latar belakang yang sedikit mirip dengan Kartini, yakni terlahir dari keluarga ningrat. Ia lahir di Solo, 11 Mei 1912. Sudah jauh berselang dengan wafatnya Kartini sehingga kala itu zaman sudah sedikit berubah. Sebagai puteri berdarah ningrat Trimurti sangat beruntung bisa mengenyam pendidikan di sekolah khusus perempuan untuk menjadi guru.

Trimurti muda merupakan seorang perempuan pejuang pergerakan yang tangguh. Ia tertarik masuk ke dunia pergerakan setelah mendengarkan pidato-pidato Bung Karno. Tahun 1933 ia mengikuti kursus kader yang diadakan Soekaro dan Partindo (Partai Indonesia). Sejak saat itulah Trimurti semakin gencar membuat pergerakan antipenjajah. 

Kehadiran Trimurti dalam ruang pergerakan melawan penjajah tentu menjadi sesuatu yang aneh pada masa itu karena perempuan dianggap tabu bila ikut-ikut aktivitas politik maupun organisasi yang kebanyakan dilakukan oleh laki-laki. Ya, masih sama seperti waktu zaman Kartini dulu, perempuan harus beraktivitas di dapur dan tidak boleh sering-sering keluar rumah. Trimurti yang semakin terbuka wawasannya pun tidak setuju dengan aturan tak tertulis semacam ini.

Trimurti yang kemudian aktif juga sebagai jurnalis pun memanfaatkan profesinya ini untuk memperjuangkan hak-hak perempuan. Ia menulis di harian Api Kartini dan Harian Rakyat, mengkritik kebiasaan masyarakat yang selalu meletakkan perempuan semata-mata sebagai 'pelayan' di rumah bagi laki-laki.

Hingga pada akhirnya tahun 1950 Trimurti bersama lima wakil organisasi wanita di Indonesia berkumpul di Semarang dan membentuk Gerakan Wanita Istri Sedar (Gerwis) yang menjadi cikal bakal lahirnya Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Melalui Gerwis inilah Trimurti dan para anggotanya aktif mendorong perubahan Undang-Undang Perkawinan yang dianggap tidak adil bagi perempuan. Selain itu, Gerwis juga aktif menyosialisasikan tentang hak-hak perempuan dalam perkawinan. Namun Trimurti tidak berlama-lama bergabung dengan Gerwani karena pada akhirnya Gerwani berada di bawah payung PKI. Lantaran sudah tak selaras dengan pemikirannya, Trimurti pun mengundurkan diri.

Herawati Diah

Herawati Diah adalah wartawati senior Indonesia yang melalui tiga zaman
Herawati Diah adalah wartawati senior Indonesia yang melalui tiga zaman

Lahir di Tanjung Pandan, Belitung pada 3 April 1917, Herawati Diah merupakan sosok yang sangat penting di kancah jurnalis perempuan Indonesia. Ditulis oleh Kompas, Herawati merupakan saksi dan pelaku banyak peristiwa sejarah di masa awal Indonesia merdeka. Ia merupakan satu dari empat perempuan pejuang yang menjadi saksi hidup sebuah peristiwa dikirimnya delegasi perempuan Indonesia untuk mengikuti kongres perempuan di Madras, India tahun 1947.

Hera, panggilan akrabnya, merupakan lulusan dari Barnard College, The Columbia Unoversity, New York pada tahun 1942. Di era reformasi, ia sangat aktif dalam pemberdayaan perempuan. Setelah bergabung dalam Masyarakat Anti Kekerasan pada Mei 1998, ia menjadi salah seorang komisioner pertama Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan).

Semasa hidupnya, Herawati memang sudah berjiwa perintis. Selain mendirikan Komnas Perempuan, Hera juga mendirikan beberapa organisasi di dunia sosial dan kebudayaan seperti Lingkar Budaya Indonesia, dan Gerakan Perempuan Sadar Pemilu. Ia juga sangat peduli dengan pendidikan. Kala itu lantaran prihatin dengan pendidikan yang tidak merata di nusantara, Hera membuka taman kanak-kanak bagi anak miskin di bawah naungan Yayasan Bina Carita Indonesia.

Hingga akhir hayatnya, wartawati senior ini tak lelah untuk berjuang terhadap kemajuan bangsa. Ia tentu memiliki sebuah kegundahan terhadap negeri ini.

“Persoalan bangsa kita nomor satu ialah korupsi. Bagaimana mudah sekali kita menemukan seorang tukang parkir, polisi, anggota dewan, sampai menteri, melakukannya seperti itu hal yang biasa. Solusinya adalah pendidikan dan keluarga. Keduanya. Kalau berpendidikan tinggi saja, belum tentu dia mau mengambil hak orang lain, Bila tidak dididik seperti itu dalam keluarga,” katanya, seperti ditulis Kompas.

Herawati wafat di Jakarta pada 30 September 2016.

Suraiya Kamaruzzaman

Suraya Kamaruzzaman (kedua dari kanan) (foto: BBC)
Suraya Kamaruzzaman (kedua dari kanan) (foto: BBC)

Perempuan tangguh asal Aceh ini adalah seorang aktivis perempuan yang membela korban kekerasan dalam rumah tangga khususnya di Aceh. Pada 9 Oktober 2012 lalu ia menerima penghargaan N-PEACE yang disponsori oleh Badan PBB untuk Pembangunan (UNDP) atas perannya tersebut. Ia memperjuangkan hak-hak perempuan dengan mendirikan LSM Bunga Aceh yang aktivitasnya adalah mengumpulkan dan mencatat data kekerasan terhadap wanita.

Seperti dikutip dari yapthiamhien.org, Suraiya sudah mulai berjuang membela hak-hak kaum perempuan sejak berusia 20 tahun, tepatnya di tahun ketiga kuliahnya di Universitas Syah Kuala, Banda Aceh (1988-1989). BBC menuliskan dua pertanyaan yang terus diutarakan oleh Suraiya sejak ia masih belia, yakni: "Kenapa perempuan nggak boleh sekolah sementara lelaki boleh? Kenapa perempuan menikah usia dini, lelaki tidak?" ucapnya dengan nada geram, begitu tulis BBC.

Pertanyaan bernada gugatan itu lahir, tatkala perempuan anak kelima dari tujuh bersaudara ini remuk-redam mengetahui sahabat satu bangkunya yang berpikiran cemerlang harus menikah (di usia dini) dengan seorang lelaki yang tidak dikenal. Suraiya pun semakin sedih ketika melihat satu per satu teman-teman perempuannya menikah sementara yang laki-laki masih sekolah. Ia lantas menyatakan sesuatu yang mirip sumpah: saya harus melakukan sesuatu.

Kini, sudah lebih dari 20 tahun Suraiya memperjuangkan hak-hak perempuan Aceh. Tak hanya itu, menurut Suraiya, perempuan sesungguhnya punya andil besar dalam proses perdamaian di Aceh. Contohnya, pada tahun 2000 para perempuan Aceh menggelar sebuah kongres perempuan pertama yang dihadiri hampir 500 orang dengan tema dialog damai. Kongres ini disebut-sebut sebagai pelopor isu bagaimana menyelesaikan konflik di Aceh dan lima tahun kemudian Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) akhirnya menandatangani kesepakatan damai di Finlandia.

Tiga orang tadi barulah sekelumit dari sekian banyak perempuan Indonesia yang pemberani, inspiratif, dan cerdas dalam memperjuangkan hak-hak perempuan sebagaimana yang dilakukan oleh Kartini. Bagaimanapun, dalam kehidupan ini perempuan tentu memiliki peran yang teramat besar apalagi dalam pembangunan bangsa. 

Terima kasih, perempuan-perempuan Indonesia.


Sumber: diolah dari berbagai sumber

Pilih BanggaBangga50%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau50%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ARIFINA BUDI

Pencerita hal-hal baik untuk dunia. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti

ARTIKEL TERKAIT

Presiden Yang Terlupakan ?

Good News From Indonesiasatu minggu yang lalu

Mengenang Maleo, Sang Mobnas Pertama Indonesia

Akhyari Hananto2 minggu yang lalu

Suara Terkeras dalam Sejarah Modern Dunia

Akhyari Hanantosatu bulan yang lalu

Sang Bunga Bangsa dari Bangka

Akhyari Hananto2 bulan yang lalu
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie