Lupa Sandi?

Gagasan Kartini dalam Ratusan Buku

Adriani Zulivan
Adriani Zulivan
0 Komentar
Gagasan Kartini dalam Ratusan Buku

Semasa hidupnya yang begitu singkat, 25 tahun, Raden Ajeng Kartini banyak menulis. Ratusan kali ia menuangkan pikiran dalam surat untuk sejumlah sahabatnya di Eropa. Kondisi sosial masyarakat, terutama soal kungkungan budaya yang dialami perempuan Jawa, merupakan pemikiran terbesar yang pernah dituangkannya.

Sejumlah tulisan Kartini pernah dimuat majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie, namun tak ada buku yang sempat ia tulis. Padahal dalam salah satu surat pena yang ditulisnya, Kartini ceritakan dukungan suaminya agar ia menulis buku. Meski demikian, tujuh tahun setelah kematiannya di tahun 1904, buku pertama tentangnya terbit. Menyusul buku-buku lain di masa-masa berikutnya, hingga kini.

Pemikirannya yang melampaui zaman, membuat orang ingin terus membahas tentangnya. Soal gagasan, kehidupan, hingga seni dan budaya yang menyangkut dirinya. Ratusan buku sudah diterbitkan tentangnya. Berikut sejumlah catatan terbaik tentang Kartini, sang putri sejati, yang pernah dibukukan.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Baca Juga

Door Duisternis tot Licht (1911)

Door Duisternis tot Licht merupakan bahasa Belanda yang bermakna "Dari Kegelapan Menuju Cahaya". Ini merupakan judul buku yang berisi kumpulan surat Kartini untuk sahabat penanya di Eropa. Buku ini menarik perhatian masyarakat Belanda, hingga mengubah pandangan mereka terhadap perempuan Jawa pribumi. Buku tersebut diterbitkan atas prakarsa J.H. Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda, setelah mengumpulkan 108 pucuk surat yang dikirimkan Kartini.

Habis Gelap Terbitlah Terang; Boeah Pikiran (1922)

Setelah belasan tahun hanya dapat dinikmati oleh mereka yang mengerti bahasa Belanda, penerbit Balai Pustaka akhirnya menerbitkan Door Duisternis tot Licht ke dalam bahasa Melayu (saat itu belum ada Bahasa Indonesia). Surat pena berbahasa Belanda tersebut diterjemahkan oleh Armijn Pane, seorang sastrawan pelopor Pujangga Baru. Buku ini kemudian berjudul "Habis Gelap Terbitlah Terang; Boeah Pikiran". Buku ini juga diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa, Sunda, serta Inggris.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Habis Gelap Terbitlah Terang (1938)

Armijn Pane sekali lagi menuliskan surat-surat Kartini. Namun dalam buku ini, ia menyajikannya secara berbeda. Ia membagi kumpulan surat ke dalam lima bab, menunjukkan tahapan perubahan sikap dan pemikiran Kartini. Menurutnya, surat-surat itu dapat dibaca sebagai roman kehidupan perempuan, sehingga ia menyusunnya berdasar alur kisah.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya (1979)

Agar dapat menguasai bahasa Belanda dengan baik, dosen pembimbing studi sastra di Universitas Leiden meminta mahasiswanya Sulastin Sutrisno untuk menerjemahkan buku asli kumpulan surat Kartini. terjemahan ini kemudian dibukukan dengan judul Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Kartini, Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan Suaminya (1989)

Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya (1979) juga digunakan oleh Sulastin Sutrisno sebagai bahan penulisan buku dengan tema spesifik. Tema tersebut mengambil surat-surat yang dikirimkan Kartini kepada keluarga Abendanon, pejabat Hindia Belanda yang kemudian mengumpulkan dan membukukan surat-surat korespondensi Kartini. Oleh penerbit Djembatan, buku ini diberi judul Kartini, Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan Suaminya.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904 (1992)

Joost Coté menerjemahkan seluruh surat asli yang ditujukan kepada Nyonya Abendanon-Mandri, termasuk surat-surat yang tidak dipublikasikan dalam Door Duisternis Tot Licht karena alasan isu sensitif. Dari 108 surat yang diterjemahkannya, Coté juga menampilkan 46 surat yang dibuat adiknya Rukmini, Kardinah, Kartinah, dan Soematrie.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Panggil Aku Kartini Saja (1962)

Butuh waktu lima tahun, 1956-1961, bagi sastrawan Angkatan '45 Pramoedya Ananta Toer untuk menuliskan kisah Kartini. Dalam novel berjudul Panggil Aku Kartini saja, Pramoedya mengulik kecerdasan dan keberanian seorang Kartini yang mungkin tidak terpikirkan perempuan lain di masa itu. Gagasan nilai yang disebutkan dalam surat-surat kepada temannya menjadi bagian terpenting buku ini. Pram juga menyinggung sejumlah karya seni yang dibuat Kartini, seperti batik dan lukisan.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Aku Mau... Feminisme dan Nasionalisme. Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903 (2005)

Surat-surat yang ditulis Kartini pada 1899-1903 untuk Stella Zeehandelaar, diterbitkan pada peringatan 100 hari kematiannya. Buku karangan Joost Coté ini menjelaskan pikiran Kartini tentang isu sosial, budaya, agama, hingga korupsi. "Aku mau" merupakan moto Kartini, sebagai ungkapan yang mewakili sosok perempuan yang tak pernah dilihat maupun dijadikan bahan perbincangan di masanya.

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ADRIANI ZULIVAN

A big fan of Indonesian heritage--from culture to nature, tangible to intangible. Reading and writing as hobby, as well as dedicated work. Interested in urban discussion, disability rights, disaster m ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara