Lupa Sandi?

Film-film Indonesia dengan Budget Rendah ini Berhasil Dapatkan Penghargaan Internasional

Fairuz Rana Ulfah
Fairuz Rana Ulfah
0 Komentar
Film-film Indonesia dengan Budget Rendah ini Berhasil Dapatkan Penghargaan Internasional

Industri perfilman Indonesia saat ini masih terus bergeliat. Berbagai jenis film dengan berbagai tema mulai dari tema klasik hingga tema kontroversial berhasil diproduksi oleh anak-anak bangsa. Meskipun masih belum bisa menandingi popularitas film dari negara seperti Amerika Serikat dan Korea Selatan, semangat berkarya para sineas di Indonesia patut diapresiasi. Buktinya, dengan budget terbatas, para sineas Indonesia berhasil menciptakan film-film berkualitas yang mendapat pengakuan di berbagai laga film Internasional.

Berikut lima film Indonesia yang mampu menoreh prestasi meskipun diproduksi dengan buget minimal.

  1. Siti
Sumber: 2.bp.blogspot.com
Sumber: 2.bp.blogspot.com

Siti adalah film panjang hitam putih pertama karya Eddie Cahyono. Eddie mengakui pemilihan layar hitam putih sebenarnya dikarenakan budget film yang sangat minim yaitu sekitar Rp 150 juta. Jumlah dana yang minim ini juga menyebabkan proses syuting Siti yang hanya berlangsung selama enam hari.

Namun tak disangka, pemilihan layar hitam putih justru menimbulkan efek yang lebih dramatis di setiap penggalan adegan dalam film. Film yang juga diproduseri oleh Isfansyah ini menceritakan tentang kehidupan seorang perempuan penjual peyek jingkling di sekitar pantai Parangtritis, Yogyakarta yang bernama Siti.

Siti (Sekar Sari) harus berjuang sebagai tulang punggung keluarga setelah suaminya lumpuh akibat kecelakaan melaut. Film berdurasi 88 menit ini menggambarkan perjuangan Siti sebagai perempuan, istri, ibu, dan juga anak.

Berbeda dengan film lainnya, Siti pertama kali diputar bukan di bioskop komersil melainkan dalam Jogja-Netpac Asian Film Festival 2014. Saat ini Siti berhasil meraih berbagai penghargaan bergengsi baik dalam maupun luar negeri seperti penghargaan Singapore Internasional Film Festival untuk kategori Best Performance for Sillver Screen Award pada 13 Desember 2014, Best Scriptwriting di Shanghai International Film Festival 2015, Film Fiksi Panjang Terbaik di Apresiasi Film Indonesia 2015, dan sederetan penghargaan lainnya.

  1. Maryam
Sumber: majalahcobra.com
Sumber: majalahcobra.com

Setelah lebih dari 64 tahun film pertama karya anak bangsa “Darah dan Doa” digarap oleh Umar Ismail, Maryam hasil karya Sidi Saleh berhasil meraih Piala Orizzonti di salah satu festival film tertua di dunia yaitu Venice International Film Festival. Pada festival tersebut, Maryam mendapatkan penghargaan dengan kategori film pendek terbaik mengalahkan 2.500 film pendek lainnya. Maryam bercerita tentang asisten rumah tangga yang hamil dan bekerja di rumah keluarga Katolik.

Di hari Natal, Maryam bertugas menjaga salah seorang anggota keluarga yang mengidap psikopatologis (autisme) yang ditinggal keluar kota oleh kakaknya. Untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu, sang majikan memberikan kontak yang bisa dihubungi selama ia pergi dan berpesan untuk tidak menguhubunginya kecuali ada hal penting. Permasalahan baru muncul ketika sang pria pengidap psikopatologis ingin ke gereja dan minta ditemani oleh Iyam, sementara Iyam (panggilan untuk Maryam) merupakan seorang perempuan beragama Islam dan berkerudung.

Alih-alih menolak permintaan sang tuan, Iyam menyanggupi menemani sang tuan ke gereja untuk menghadiri misa. Di sinilah Sidi Saleh mulai menuturkan ceritanya yang khas. Sidi mengaku dalam proses pengambilan gambar untuk film berdurasi 17 menit ini, ia hanya dilakukan selama dua hari. Ia juga berupaya menyiasati ide dengan dana yang terbatas agar meskipun film yang dibuat dengan anggaran minim ini tidak murahan.

  1. The Fox Exploits The Tiger’s Might
Sumber: kanaltigapuluh.info
Sumber: kanaltigapuluh.info

Judul filmThe Fox Exploits The Tiger’s Might atau hú jia hu wei diambil dari kisah terkenal masyarakat Mandarin. Kisah ini dapat diartikan sebagai kelompok yang menindas orang lain karena kedudukannya yang lebih kuat. Film ini menggambarkan relasi antara pribumi dan etnis minoritas Tionghoa yang direpresentasikan oleh tokoh David dan Aseng.

Berlatar belakang Orde Baru, sutradara Lucky Kuswandi menceritakan tentang dua remaja yang sedang mencari jati diri seksual mereka. Film berdurasi 25 menit ini sukses memenagkan Piala Citra dan membawa pulang dua piala dari Singapore International Film Festival. Film ini juga satu-satunya film karya anak Indonesia yang berhasil masuk dalam jajaran 10 film yang dipilih pada ajang bergengsi Festival Film Cannes 2015. Meskipun mendapat pengakuan dari berbagai festival nasional dan internasional, Lucky mengakui bahwa film pendek ini sebenarnya dibuat dengan budget yang rendah.


Sumber:

hiburan.metrotvnews.com | filmindonesia.or.id | cinemapoetica.com | dailyseni.com

Pilih BanggaBangga59%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang3%
Pilih Tak PeduliTak Peduli3%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi14%
Pilih TerpukauTerpukau21%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG FAIRUZ RANA ULFAH

Penikmat alam, kopi, sastra. Sedang tertarik dengan isu-isu kelas, gender, lingkungan. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas