“Tanah pertama tempat tentara-tentara Jepang mendarat, ternyata bukanlah tanah Jawa – sebagaimana kita mengenal banyak tempat-tempat bersejarah bertebaran di tanah Jawa – melainkan Kalimantan.”

***

Pada tanggal 15 April yang lalu, saya bersama teman-teman berkesempatan melakukan studi lapangan ke tempat-tempat bersejarah di Balikpapan, dalam rangkaian kegiatan Mata Kuliah Politik dan Pemerintahan Jepang – Program Studi Ilmu Hubungan Internasional, Unmul. Kami mendatangi beberapa tempat-tempat bekas peninggalan Jepang di Balikpapan, di antaranya adalah; Monumen-Tugu Jepang dan Makam Jepang, Meriam Jepang, dan Bunker Jepang.

Nah, dengan tulisan ini, saya ingin mengajak Anda melihat peninggalan-peninggalan Jepang di Balikpapan. Peninggalan-peninggalan ini memperlihatkan rekam jejak Jepang pada Perang Dunia II.

***

Ya. Januari 1942, Jepang pertama mendaratkan armadanya di tanah Kalimantan, tepatnya di Tarakan. Singkat cerita, jejak-jejak Jepang bertebaran di Tarakan, kemudian di Samarinda, hingga Balikpapan, dan beberapa daerah lain di Kalimantan.

Kaigun (Pasukan Angkatan Laut Jepang) - Pasukan-pasukan Jepang saat Mendekat ke Arah Pulau Kalimantan (10 Januari) ©Pinterest
Kaigun (Pasukan Angkatan Laut Jepang) - Pasukan-pasukan Jepang saat Mendekat ke Arah Pulau Kalimantan (10 Januari) ©Pinterest

 

Tempat-tempat tersebut dulu menjadi daerah strategis pertahanan dan perlawanan Jepang terhadap sekutu. Mereka yang mengambil peran besar adalah Pasukan Angkatan Laut Jepang atau Kaigun. Pasukan AL Jepang menjadi suatu kekuatan yang mutlak dengan kelengkapan senjata dan pasukannya yang tak kalah dengan pasukan-pasukan sekutu.

Monumen – Tugu dan Makam

Monumen-Tugu Perdamaian dan Persabatan (Tampak Depan dan Belakang)
Monumen-Tugu Perdamaian dan Persahabatan (Tampak Depan dan Belakang)
Makam Simbolik Mengenang Serdadu-serdadu Jepang yang Gugur
Makam Simbolik Mengenang Serdadu-serdadu Jepang yang Gugur

 

Monumen-Tugu dan Makam Jepang yang kami datangi terletak di Jalan Soekarno-Hatta KM 13. Kendaraan yang kami pakai terparkir di seberang jalan karena Monumen-Tugu dan Makam Jepang yang ternyata berada di tengah-tengah hutan. Untuk menuju ke tempatnya, kami melewati jalan setapak yang cukup berlumut.

Sesampainya, kita dapat melihat bahwa tempat ini tak mendapatkan perhatian yang layak dari pemerintah. Beberapa bagiannya seperti lantai dan lain-lain tampak retak-retak.

Monumen-Tugu dan Makam Jepang bertingkat. Di bagian bawah adalah bangunan Monumen-Tugu Perdamaian antara Jepang, Australia dan Indonesia sementara di bagian atas adalah bangunan makam simbolik penghormatan kepada serdadu-serdadu Jepang yang gugur.

Selain Monumen-Tugu dan Makam Jepang di atas, ternyata, masih ada makam-makam lainnya yang tersebar di Balikpapan. Saat berada di Gn. Meriam, salah satu warga yang juga merupakan Ketua RT setempat mengatakan bahwa selain makam yang berada di KM 13, masih ada makam Jepang lain, hanya saja tak gampang untuk menjangkau makam yang satu ini. Dan satu lagi makam lainnya, berdasarkan portal-portal berita kota Balikpapan, adalah makam Jepang di daerah Lamaru.

Meriam

(Ki-Ka) Meriam di Bagian Kiri PDAM - Meriam di Bagian Kanan PDAM
(Ki-Ka) Meriam di Bagian Kiri PDAM - Meriam di Bagian Kanan PDAM
Meriam yang Terletak di Dataran Tinggi, Mengarah ke Laut
Meriam yang Terletak di Dataran Tinggi, Mengarah ke Laut

 

Meriam yang kami datangi, terletak dekat tempat tinggal warga di Kampung Baru Ilir. Daerahnya cukup menanjak ke atas bukit/gunung, sepertinya ini yang menjadikannya terkenal dengan nama Bukit/Gunung Meriam.

Terdapat 2 meriam di sana. Satu meriam langsung terlihat setibanya kita di sana. Satu meriam lainnya cukup tersembunyi karena tertutup bangunan PDAM. Kedua meriam tampak terawat dan dalam perlindungan undang-undang.

Salah satu warga yang juga merupakan Ketua RT setempat memandu dan menjelaskan asal-usul si meriam. Dikatakan bahwa meriam-meriam ini adalah senjata pertahanan dan perlawanan Jepang terhadap Belanda. Jepang meletakkan persenjataan di atas bukit dan mengarahkannya ke laut. Praktis, taktik ini mendukung Jepang untuk menghalau dan menyerang musuh.

Sebenarnya, selain meriam-meriam di Kampung Baru Ilir, masih terdapat dua meriam lainnya di dua tempat berbeda; Meriam Markoni dan Meriam Tanjung Batu. Meriam-meriam ini juga digunakan untuk melindungi sumber-sumber minyak di Balikpapan.

Selain cerita-cerita sejarah tentang si meriam, tanpa terlewatkan, cerita-cerita misteri berkembang seiring dengan pengalaman-pengalaman mistis yang kerap terjadi pada warga sekitar.

Bunker

Bunker 1 yang Tampak Utuh
Bunker 1 yang Tampak Utuh

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

 Bunker Jepang yang kami datangi terletak di dalam Batalyon Infanteri (Yonif) 600/Raider. Bunker terletak di antara semacam rumah-rumah/asrama/barak. Terdapat 2 bunker di dalam Batalyon.

Satu bunker masih tampak berbentuk, cukup utuh dan cukup tertutup lumut. Untuk masuk, kita harus membungkuk. Pada bunker pertama, kita bisa melihat papan peringatan yang menunjukkan bahwa tempat ini dalam perlindungan undang-undang. Satu bunker yang lain lebih terlihat seperti bagian kecil, sepertinya dimakan zaman. Letaknya di daerah ladang jagung, memperlihatkan bahwa bunker ini sepertinya cukup terabaikan.

Bunker 2 yang Tinggal Sebagian
Bunker 2 yang Tinggal Sebagian

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Selain bunker-bunker di atas, ternyata, masih ada beberapa bunker-bunker lainnya yang tersebar di Balikpapan. Bunker-bunker tersebut kebanyakan berada di pesisir-pesisir pantai Manggar yang ada di Balikpapan.

Wisata Sejarah Sarana Belajar yang Mengasyikkan

“Daun-daun kering itu banyak bertebaran, tapi mudah dikumpulkan, mudah pula disulut percikan kecil api, serta mudah dipisahkan kembali ketika angin kencang berhembus yang lama-kelamaan akan terbang entah kemana.”

***

Tempat-tempat bersejarah selalu mampu mengajak siapa saja yang menyaksikan untuk menggali makna.

Salah Satu Warga yang Juga Merupakan Ketua RT Setempat
Salah Satu Warga yang Juga Merupakan Ketua RT Setempat

Di tengah-tengah penjelasan salah satu warga di Gn. Meriam, beliau menyampaikan sembari mengingatkan kembali, perjuangan rakyat Nusantara dengan hanya bambu-bambu runcing melawan tentara-tentara bersenjatakan peralatan yang hebat. Mereka tetap punya harapan dan mereka tetap bisa menang karena rasa persatuan yang kuat.

Layaknya daun-daun kering yang gampang tersulut dan gampang terbakar, inilah Indonesia. Negara ini, kini berhadapan dengan hal-hal yang menjajah mental. Para penguasa berkeras pada pahamnya masing-masing. Pada akhirnya, rakyat tak tau kepada siapa harus menaruh percaya dan harap. Hal ini dikhawatirkan dapat merusak rasa persatuan dan kesatuan dan memecah belah bangsa.

Selain mengingatkan perihal kekuatan persatuan bangsa, beliau menyampaikan bahwa insiatif masyarakat untuk melestarikan peninggalan-peninggalan sejarah cukup dibutuhkan. Peninggalan-peninggalan sejarah ini akan sangat bermanfaat untuk generasi-generasi yang akan datang. Selain dapat dijadikan tempat-tempat wisata sejarah, peninggalan-peninggalan sejarah dapat dijadikan sarana pembelajaran yang mengasyikkan.

Mahasiswa Berswa-foto di Depan Meriam Jepang
Mahasiswa Berswa-foto di Depan Meriam Jepang

 

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu