Lupa Sandi?

Kreatifitas dan Idealisme Jadi Modal Lily Lamp Art Mampu Pasarkan Produk Hingga Mancanegara

Bagus Ramadhan
Bagus Ramadhan
0 Komentar
Kreatifitas dan Idealisme Jadi Modal Lily Lamp Art Mampu Pasarkan Produk Hingga Mancanegara

Meneruskan bisnis keluarga sebenarnya bukan opsi pertama yang dipilih Frisky Ihrom Febianto dalam berkarier. Namun krisis ekonomi global yang terjadi pada 2013 akhirnya membuat pria yang sempat bekerja sebagai travel agent ini memutuskan untuk kembali menghidupkan kembali Lily Lamp Art, usaha keluarga yang berbasis di Bali dan sempat gulung tikar.

Beberapa waktu lalu, Frisky sempat berbincang dengan Qlapa.com dan menceritakan bagaimana awal perjuangan membangun brand Lily Lamp Art.

Frisky menjelaskan bahwa nama Lily Lamp Art berangkat dari nama ibunya, Lily. Nama tersebut tidak ingin dihilangkannya karena memiliki sejarah dan cikal bakal brand yang digawanginya tersebut saat ini. Menurutnya ada beberapa alasan mengapa dirinya mau untuk meneruskan usaha keluarga.

"Pertama karena cita-cita idealis saya ingin jadi owner. Kemudian yang kedua, kasihan kalau (usaha ini)

mati begitu saja. Saya bisa sekolah dan sampai sebesar sekarang karena usaha ini. Selain itu saya ingin

nama Lily Lamp Art ini bisa sampai jauh. Jadi nanti saya bisa cerita ke anak-anak saya nanti tentang

sejarahnya perusahaan ini," jelas Frisky.

Produk Lily Lamp Art yang terbuat dari kelapa (Foto: Qlapa.com)
Produk Lily Lamp Art yang terbuat dari kelapa (Foto: Qlapa.com)

Berangkat dari idealisme itulah kemudian Frisky mengubah haluan Lily Lamp Art yang awalnya melakukan penjualan wholesale atau ekspor menjadi penjualan ke konsumen akhir lewat media pemasaran daring seperti online marketplace Qlapa.com

Langkah awal yang dilakukan adalah dengan mengubah nama Lily Lamp Art menjadi Lily Lamp Art Bali di setiap media sosial yang digunakan seperti Instagram dan Facebook. Tidak hanya itu foto-foto produk pun dibenahi dan dipasarkan secara online. 

Frisky menjelaskan bahwa keunggulan dari lampu hias dan lampu dinding buatannya terletak pada bahan baku yang menggunakan limbah berupa klopping kelapa dan produk Lily Lamp Art merupakan 100% handmade. Berkat pengolahan kembali limbah tersebut, para petani kelapa yang memasok akan mendapatkan pendapatan tambahan. 

Selain itu, dari segi desain, Frisky terbilang sangat berhati-hati dalam menjaga kualitas. 

"Saya sendiri merasa kalau barang itu nggak bagus, saya nggak akan jual. Jadi di sini pun kadang saya overbudget. Karena kalau pas finishing itu kurang bagus, akhirnya saya ulangi lagi. Jadi kelebihannya adalah kami menggaransi bahwa produk kami memiliki standard yang bagus," ujarnya.

Kini, Lily Lamp Art dikelola oleh tiga orang yakni Frisky dan Istri kemudian bapak dari Frisky. "Novy lebih banyak ke pemasarannya. Dia handle marketplace mulai dari stocking, respon untuk pertanyaan sampai korespondensi ke beberapa hotel dan vila yang ada di offline. Saya sendiri handle produksi dibantu bapak saya," jelasnya.

Produk-produk buatan Lily Lamp Art sepenuhnya hasil buatan tangan (Foto: Qlapa.com)
Produk-produk buatan Lily Lamp Art sepenuhnya hasil buatan tangan (Foto: Qlapa.com)

Dalam hal pemasaran, Frisky menggunakan sosial media untuk memasarkan produk-produknya. strategi harga dan kemudahan bertransaksi. "Di mana produk kami bisa dibeli, apa kelebihannya, dan kalau sedang ada promo kami posting juga," tambahnya. 

Selain itu pengiriman juga menjadi perhatian khusus. Sebab tantangan yang dihadapi Lily Lamp Art adalah bagaimana menghemat onkos kirim. Selain juga harus tetap memperhatikan ketepatan waktu kirim.

"Sebenernya produk kami banyak jenisnya, cuma karena size-nya cukup besar ongkos kirimnya jadi tinggi sekali pasti," jelas Frisky. 

Setiap bulannya produk yang dihasilkan oleh Lily Lamp Art bisa mencapai 100 buah lampu dengan omzet mencapai puluhan juta rupiah. Lampu-lampu tersebut dipasarkan lewat berbagai marketplace salah satunya adalah Qlapa.com. Frisky juga mengungkapkan bahwa produknya pun ternyata juga diekspor ke Jepang, Australia dan bahkan sampai ke Eropa. 

"Sebelumnya memang kami lebih banyak ekspor, tapi saya melihat Indonesia sendiri termasuk negara yang konsumtif. Makannya saya getol banget fokus untuk bisa masarin produk ini dalam negeri. Yang eksport sih ada juga tapi cuma masih belum begitu saya fokusin sekarang, karena daya beli mereka juga masih belum stabil," ungkapnya.

Perjuangan Frisky membangkitkan kembali Lily Lamp Art tidak mudah. Sebab menurutnya, tantangan yang dihadapinya saat ini adalah bagaimana mampu memproduksi produk dengan keterbatasan sumber daya. 

"Karena saya take over benar-benar dari 0. Jadi semua saya jalanin sendiri, dari produksi, pemasaran.

Akhirnya saya ambil beberapa orang untuk bantu-bantuin saya di pemasarannya dan produksinya. Jadi

tantangannya sekarang adalah bagaimana membuat produk itu tetap bisa available. Selama ini kan

kendalanya di ada PO (pre order), untuk antar ready stock-nya tuh susah. Karena kita juga harus handle

untuk yang offline juga," kata Frisky.

Frisky berharap pada lima tahun ke depan bisa menambah toko dan bisa melakukan pameran di berbagai tempat. 

"Suatu saat saya harus bisa untuk masuk dan memasarkan produk kami lebih luas lagi. Karena usaha ini challenge-nya beda dari usaha yang lain, sebab lampu dekorasi bukan barang primer yang orang butuh banget. Tapi bagaimana bisa menjual ini sebanyak yang lainnya. Itulah tantangannya," harapnya.

Artikel ini merupakan hasil kolaborasi GNFI dengan Qlapa.com

Label:
kerajinan
Bali
Pilih BanggaBangga40%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi60%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG BAGUS RAMADHAN

Seorang copywriter dan penulis konten yang bermimpi mampu menebar inspirasi dan semangat lewat konten-konten berkualitas untuk kehidupan yang lebih baik. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata