Minke tokoh dalam tetralogi buru karya Pramoedya selalu ingat, ada satu kalimat Mama yang berhasil membuatnya kembali yakin untuk menulis mengenai persoalan bangsanya sendiri. Susunan kalimat pendek yang ia jadikan bensin saat api semangatnya meredup:

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi sampai jauh, jauh di kemudian hari..” (Pramoedya A.T, Anak Semua Bangsa)

Susun kalimat tersebut selalu relevan di setiap zaman. Terutama pada zaman di mana literasi tidak lagi mapan.

Aktivitas menulis selalu berkaitan dengan membaca. Dalam dunia literasi, keduanya sama sekali tidak dapat dipisahkan. Bila seseorang menuliskan sesuatu, pada prinsipnya orang tersebut ingin agar tulisannya dibaca orang lain; atau paling sedikit tulisan tersebut dapat dibaca sendiri di kemudian hari. Banyak penelitian mengungkapkan bahwa selain menambah wawasan, membaca buku juga dapat menstimulasi mental, mengurangi stress, melatih keterampilan berpikir dan menganalisa, hingga meningkatkan kualitas memori.

ilustrasi orang-orang membaca. (dok/clipartfest)
ilustrasi orang-orang membaca. (dok/clipartfest)

Namun sayangnya belum banyak masyarakat Indonesia yang sadar akan manfaat tersebut.

Data UNESCO pada tahun 2012 lalu menyebutkan bahwa indeks tingkat membaca orang Indonesia hanyalah 0,001. Artinya dari 1.000 penduduk dapat dikatakan hanya ada 1 orang yang benar-benar gemar membaca. Kemudian dalam pemeringkatan terbaru, data World’s Most Literate Nations yang disusun oleh Central Connecticut State University tahun 2016 menyebut bahwa Indonesia berada di posisi kedua terbawah dari 61 negara yang diteliti. Indonesia hanya lebih baik dari Bostwana, negara di kawasan selatan Afrika.

Hal tersebut tentu cukup memprihatinkan, mengingat para Founding Fathers kita dahulu justru menganggap buku sebagai teman hidup utama. Seperti yang diucap Bung Hatta. “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” Melihat hal ini, pemerintah Indonesia melakukan berbagai upaya untuk mengajak masyarakat Indonesia untuk gemar membaca buku salah satunya dengan mengangkat Duta Literasi Anak.

galakkan gerakan Indonesia membaca (dok/bicaraperpustakaan.com)
galakkan gerakan Indonesia membaca (dok/bicaraperpustakaan.com)

Adalah Yasmin Azzahra, seorang anak perempuan berusia 17 tahun yang diangkat oleh pemerintah Indonesia sebagai Duta Literasi Anak Berkebutuhan Khusus. Cerebral Palsy yang ia idap sejak kecil mengharuskannya untuk duduk di kursi roda dan tak dapat berbicara dengan lancer seperti anak pada umumnya. Cerebral Palsy sendiri merupakan gangguan gerakan, otot, atau postur yang disebabkan oleh cedera atau perkembangan abnormal di otak dan paling sering terjadi sebelum kelahiran. Tanda dan gejalanya biasa muncul selama bayi atau prasekolah.

Namun rupanya Cerebral Palsy tidak dapat menyurutkan semangatnya untuk selalu berkarya. Terbukti, ia dipilih karena lewat keterbatasan fisiknya mampu melahirkan karya-karya novel dan puisi. Tiga karya miliknya masing-masing berjudul My Story in Holland 1 & 2, From Holland With Love, telah diterbitkan oleh penerbit besar di Jakarta. Saat ini Yasmin sedang menulis novel karya keempatnya yang bercerita tentang perjalanan seorang pelukis, seperti yang dilansir dari detik.com.

Yasmin Azzahra Rahman (dok/detik.com)
Yasmin Azzahra Rahman (dok/detik.com)

Menulis adalah Melawan

Jika pengingat Minke dalam menulis adalah perkataan sang Mama, maka bagi Yasmin posisi tersebut diisi oleh Eyangnya. Saat itu tepatnya tahun 2012, Yasmin masih menetap di Belanda mengikuti ayahnya yang sedang menulis disertasi di Kampus van Amsterdam. Sebelum menginjak bangku sekolah di negeri kincir angin tersebut, ia sempat memiliki jeda waktu menunggu adanya sistem sekolah yang perlu dilewati. Dalam jeda waktu kosong tersebut, Eyangnya menyarankan ia untuk menulis.

“Eyang saya lewat Skype mendorong saya untuk menulis sembari menanti saya sekolah,” ujarnya seperti yang dikutip dari breakingnews.com.

Alpha Amirachman, ayah Yasmin sendiri membenarkan bahwa sang kakeklah yang menjadi pendorong utama anaknya untuk berkarya lewat tulisan. Dorong tersebut bukan terjadi tanpa latar belakang. Rupa-rupanya sang kakek pernah menjadi penulis di Mangle dan dipercaya menulis narasi bersambung di harian Pikiran Rakyat.

“Yang mendorong pertama kalinya eyangnya. Kebetulan eyangnya dahulu penulis di Mangle, selalu menulis narasi bersambung di Pikiran Rakyat,” tambah Alpha.

Yasmin bersama sang Ayah saat mengunjungi komunitas literasi (dok/venayasa.com)
Yasmin bersama sang ayah saat mengunjungi komunitas literasi (dok/venayasa.com)

Proses kreatif Yasmin memang tidak dimulai begitu saja. Keterbatasan motoriknya membuat ia selalu bertanya: Bisakah saya menulis? Bisakah saya menulis?

Bersit ragu dalam diri Yasmin seringkali muncul kala itu. Namun karena jenuh menunggu dimulainya sekolah, akhirnya ia memutuskan untuk menulis catatan-catatan hariannya. Lembar-lembar pribadi tersebut yang pada akhirnya membawa ia pada pengalaman pertamanya menulis. Catatan harian tersebut kemudian diterbitkan oleh salah satu penerbit ternama, dengan dibagi menjadi dua series berjudul ‘My Story in Holland’.

Satu hal yang sangat Yasmin inginkan ketika kembali ke Indonesia adalah untuk menimba ilmu bersama remaja lainnya di sekolah regular tanpa pembeda. Awalnya keinginan tersebut cukup sulit digapai karena tidak ada sekolah regular inklusi yang mau menerima anak berkebutuhan khusus. Namun setelah perjuangan panjang, saat ini akhirnya Yasmin diterima menjadi murid di salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) umum di daerah Tangerang Selatan. Sebuah sekolah inklusi yang menerima anak-anak dengan keterbatasan fisik.

salah satu buku karya Yasmin (dok/belbuk.com)
salah satu buku karya Yasmin (dok/belbuk.com)

Bagi Yasmin, berimajinasi lewat tulisan membuat ia dapat pergi ke tempat manapun yang ia mau. Tanpa sekat dan batas yang justru sering ia temui hampir setiap hari. Yasmin juga mengungkapkan bahwa beberapa penulis favoritnya adalah Asma Nadia dan Gol A Gong. Tulisan dua orang tersebut yang seringkali menjadi pemicu ide-ide kreatifnya.

Banyak orang menganggap penyakit merupakan penghalang utama bagi aktivitas yang mereka gemari. Namun bagi Yasmin, Cerebral Palsy yang dideritanya merupakan amunisi untuk terus mengejar mimpi dan kegemarannya dalam menulis. Karena bagi Yasmin, menulis adalah melawan. Melawan paradigma mayoritas yang menyatakan bahwa penderita disabilitas tidak akan mampu mengejar kemampuan anak normal pada umumnya. Melawan stigma yang berkata bahwa kehadiran anak-anak berkebutuhan khusus dalam sekolah regular akan menurunkan ranking sekolah. Melawan keraguan yang disebabkan oleh keterbatasan fisiknya sendiri.

quote Pramoedya A.T (dok/pkskbb.or.id)
quote Pramoedya A.T (dok/pkskbb.or.id)

Lewat tulisan Yasmin ingin membuktikan bawah keterbatasan fisik bukan berarti memiliki makna kekuatannya juga terbatas. Menurutnya, tidak pernah ada hal yang mustahil di dunia ini selama kita tidak putus harapan dan terus percaya diri. Seperti pesan semangat yang ia sampaikan kepada khalayak, khususnya para penderita disabilitas seperti dirinya.

“Janganlah kurang percaya diri, janganlah putus harapan. Saya yakin tiap-tiap orang memiliki kekurangan serta keunggulan. Tinggal bagaiman saja kita memakai keunggulan itu,” ujarnya terpatah-patah.

Yasmin mungkin saja hanya mampu duduk di kursi roda saat kawan seusianya berlari-lari mengejar bola. Ia mungkin saja hanya dapat berkata dengan suara terbata saat justru kawan lainnya berteriak-teriak dalam music area. Namun ada satu hal yang membuatnya berbeda:

Ia menulis. Dan tulisannya akan terus menggema ke tiap rongga-rongga dunia.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu