Lupa Sandi?

Gadis Buton yang Menjadi Alumni YSEALI  

adli hazmi
adli hazmi
0 Komentar
Gadis Buton yang Menjadi Alumni YSEALI   

Menjadi pembawa perubahan tidaklah harus dimulai dari yang besar. Pembawa perubahan biasanya dimulai dari hal kecil dan kemudian secara bertahap menjadi hal yang besar. Hal ini pula yang terjadi oleh gadis asal Buton, Sulawesi Tenggara yang memiliki misi penting untuk daerahnya sehingga dirinya berhasil mendapatkan program ke Amerika Serikat selama 5 minggu.

YSEALI (Young South East Asia Leaders Initiative), banyak akademisi maupun non-akademis yang mengincar program ini. Program ini merupakan program yang dicanangkan oleh mantan President Amerika Serikat, Barrack Obama pada tahun 2013 yang mengumpulkan change-maker muda dari negara-negara Asia Tenggara. Program ini telah banyak melahirkan para future leader yang saat ini sedang melakukan kontribusi nya terhadap daerahnya masing-masing.

Lahir di Buton pada 22 July 1995, Andini Claudia bersama dengan keinginannya untuk membantu orang-orang Buton terutama para penenun Buton telah membawa nya ke Amerika Serikat. Ia berhasil lolos program YSEALI setelah melewati tahap eliminasi formulir, pada formulir aplikasi yang ia isi, Andini mengutarakan keinginannya untuk menjadi pemimpin muda dan pembawa perubahan untuk rakyat Buton, mengingat Buton saat ini perlu sekali diberdayakan lebih baik lagi.

Andini Claudia di Arizona State University (sumber : Andini)
Andini Claudia di Arizona State University (sumber : Andini)

Selama 5 minggu ia berkeliling bersama inisiator-inisiator muda dari negara-negara ASEAN lainnya ke beberapa tempat yakni Arizona, San Fransisco, Los Angeles dan Washington DC. Ia bersama rombongan berjumlah 21 orang ini belajar mengenai banyak hal. Ketika di Arizona, ia belajar di Arizona State University dengan David Benson sebagai mentornya, disini ia memperoleh pengalaman bahwa ilmu yang kita pelajari sekarang itu perlu diimbangi dengan pikiran yang ‘open minded’.

“Pak Davin Benson itu meski dia professor di bidang teknik, namun ia memiliki pengetahuan banyak tentang entrepreneurship, musiik, civic engagement dan lain sebagainya, itu yang membuat kita tidak boleh menutup pikiran kita hanya di bidang yang kita pelari,” ungkapnya kepada GNFI. Dalam kesempatan ini pula bersama Davin Benson, ia mempelajari tentang market target, stakeholder dan proses untuk mencapai apa yang program Andini ingin jalankan.

Disitu juga Andini memperoleh banyak pengalaman terutama arti penting dari respect dan kepercayaan, hal ini didapat karena House Family yang menampung Andini selama di Amerika Serikat yaitu Nasiff dan Ms. Cathy Nasiff selalu mau mendengarkan anaknya mengenai masalahnya tanpa diinterupsi maupun dimarahi. “Mereka lebih banyak memberi pengertian daripada memarahi,” ujar Andini

Anak dari Rusdi Nudi ini juga mengunjungi tiga tempat yang mengubah pandangan hidupnya untuk membantu sesame, yakni House of Refugees dimana ia melakukan bersih-bersih jalan dan rumah. House of Refugees sendiri adalah rumah-rumah yang disewakan dengan harga murah untuk para gelanangan dan orang miskin sebagai tempt tinggal sementara hingga mereka mampu berdiri di kaki mereka sendiri (punya cukup pemasukan).

Tempat lainnya adalah NGO bernama My Starving Childreen yang membantu anak-anak diseluruh dunia yang kelaparan dengan memberikan makanan dan hal lain yang dibutuhkan. Disini, mahasiswi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini membantu mengepak makanan dengan standar yang tinggi seperti steril dan proporsional. Tempar terakhir yang ia kunjungi adalah Tiger Mountain Foundation, sebuah yayasan yang memberdayakan para mantan narapidana untuk mendapatkan keahlian dibidang pertanian.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Membersihkan jalan di House of Refugees (sumber : andini)

Meski begitu menurutnya ada beberapa tempat yang membuat dia terinspirasi untuk membuat perubahan di daerahnya, antara lain adalah Fabric Incubator Mac 6, sebuah wadah yang dimana perusahaan-perusaahaan start up awalnya berkembang di Arizona dan juga Ability 360 dimana ia melihat betapa kerennya orang disabilitas yang berbahagia dan mampu bekerja seperti orang-orang pada umumnya.

Mengapa ini penting? Karena berdasarkan pengamatannya, di Buton para penenun hanya mendapatkan penghasilan yang kecil karena setiap tenunan hanya dihargai maksimal 350.000 Rupiah saja, padahal untuk menghasilkan tenunan itu butuh bahan, waktu yang lama dan juga rasa seni tingkat tinggi.

“Ini tidak sepadan dengan perjuangan mereka membuahkan satu tenunan,” tegasnya. Selain itu Andini juga mengungkapkan bahwa orang-orang dengan disabilitas di Buton lebih banyak hanya di ‘rumahkan’ sehingga mereka tidak dapat menjadi produktif. “Orang dengan disabilitas jika hanya dirumahkan dan tidak produktif akan membuat mereka semakin menjadi murung dan tidak bahagia," ujar Andini.

Andini Claudia dan Mr. Taplin (sumber : Andini )
Andini Claudia dan Mr. Taplin (sumber : Andini )

Keinginannya untuk membuat perubahan di daerahnya semakin dibukakan jalan ketika pada hari terakhirnya di program ini, yakni bertempat di Washington DC dimana cocktail party diadakan, ia bertemu dengan Mark. A Taplin yang menjabat sebagai Principal Deputy Assistant Secretary bureau of Educational and Cultural Affairs yang sangat tertarik dengan programnya dan akan menghubungkannya dengan organisasi yang akan membantu Andini. “ You can email me and I will connect you to a heritage organization,” Andini menirukan Mr. Taplin.

Saat ini gadis periang inisedang melakukan projeknya bersama ayahnya yang bekerja di sektor pariwisata mengumpulkan video yang akan digunakannnya sebagai media promosi. Andini yang notabene anak dari daerah yang tidak seperti kota besar ini mampu membuktikan bahwa jika ia pun bisa maka yang lain pun juga bisa.

“Aku cuma ingin anak muda Indonesia itu berani mencoba program seperti program ini dan juga aku ingin anak muda Indonesia memiliki keinginan untuk berkontribusi ke daerahnya masing-masing karena kalau bukan kita maka siapa lagi yang akan membangun daerah kita,” tutupnya.

*GNFI

Pilih BanggaBangga61%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang4%
Pilih Tak PeduliTak Peduli4%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi24%
Pilih TerpukauTerpukau8%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ADLI HAZMI

Coffee addict, travel and sport enthusiast. a person who really likes international politics. Follow my Instagram @adli_hazmi ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti

ARTIKEL TERKAIT

7 Selebriti Internasional Keturunan Indonesia

Good News From Indonesia2 minggu yang lalu

Inilah 7 Cara ASEAN Tahan Hadapi Bencana

Good News From Indonesia2 minggu yang lalu

7 Film Indonesia di Ajang Oscar

Good News From Indonesia3 minggu yang lalu
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie