Lupa Sandi?

Hanya Miliki Satu Kaki Tak Membuat Chandra Wahyu Aji Patah Arang Mewujudkan Impiannya

Dimas Ayuna
Dimas Ayuna
0 Komentar
Hanya Miliki Satu Kaki Tak Membuat Chandra Wahyu Aji Patah Arang Mewujudkan Impiannya

Memiliki keterbatasan fisik tak lantas membuat anak bangsa satu ini patah semangat. Namanya, Chandra Wahyu Aji. Ia bertekat untuk turut berkontribusi memajukan persepakbolaan Indonesia. Pemuda kelahiran Tanggerang, 11 Juni 1999 ini mendirikan sekolah sepak bola yang ia beri nama Putra Garuda Muda.

Berawal dari kecintaannya pada dunia sepak bola, pemuda ini bercita-cita menjadi pemain sepak bola profesional. Sejak kecil ia sudah berkecimpung di dunia sepak bola. Bermain sepak bola sudah menjadi hobinya sejak dulu. Ia pun banyak meraih prestasi lewat hobinya itu. Bahkan ia juga lolos seleksi pemain nasional U-14.

Chandra Wahyu Aji bercita-cita menjadi seorang pemain sepak bola profesional
Chandra Wahyu Aji bercita-cita menjadi seorang pemain sepak bola profesional

Sayangnya ia harus menerima kenyataan bahwa salah satu kakinya harus diamputasi. Awalnya, pada pertengahan 2012, ia hanya menderita cedera lutut saat mengikuti turnamen sepak bola melawan klub Singapura. Karena kejadian itu, kakinya kemudian diurut, namun bukannya sembuh bengkakan pada kakinya justru semakin membesar.

Kakinya tak kunjung sembuh. Pemuda yang kerap kali berada di posisi gelandang ini kemudian dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Fatmawati. Melalui pemeriksaan rontgen, ternyata terdapat retakan pada lututnya. Dokter lalu memintanya melakukan pemeriksaan lanjutan.

Baca Juga

Dari hasil biopsi Rumah Sakit Ciptomangunkusumo Jakarta, Chandra divonis menderita kanker tulang ganas. Dokter juga mengharuskannya menjalani kemoterapi sampai beberapa kali. Hal tersebut tentu membuatnya frustasi. Impiannya menjadi seorang pemain sepak bola profesional seketika surut tatkala dokter terpaksa harus mengamputasi kaki kanannya sampai pangkal paha. Operasi itu harus segara dilakukan sebelum sel kanker ganas itu semakin menyebar dan membahayakan keadaan Chandra.

Pada usianya yang ke 13 tahun, pemuda dengan mimpi besar ini bukan hanya kehilangan kakinya, tetapi juga kehilangan mimpinya. Hal itu pula yang membuatnya meninggalkan dunia sepak bola dari hidupnya. Selama setahun ia menjadi seorang pemurung yang menutup diri dari dunia luar.

Bangkit dari Keterpurukan

Chandra bersama anak-anak Putra Garuda Muda
Chandra bersama anak-anak Putra Garuda Muda

Meskipun sempat terpuruk artas keadaanya, bukan berarti pemuda pengagum Ahmad Butomi ini patah semangat. Teman-teman dan keluarganya memberikan support penuh kepada dirinya. Teman-temannya tetap mengajaknnya bermain bola, tanpa membicarakan kekurangannya. Tak tanggung-tanggung, tahun 2015, pemuda ini mendirikan sekolah bola untuk anak-anak. Tepatnya di Petukagan Jakarta Selatan, ia membuktikan kemampuannya di dunia sepak bola, kali ini bukan sebagai pemain bola, namun sebagai pendiri sekaligus pelatih sepak bola di sekolah bola yang ia dirikan ‘Putra Garuda Muda’.

Sudah banyak prestasi yang ia dan anak didiknya dapatkan melalui sekolah sepak bola Putra Garuda Muda. Setidaknya di usia sekolah sepak bolanya yang masih sangat muda, ia sudah mengantongi enam piala kejuaraan sepak bola. Wujud prestasi Putra Garuda Muda, mulai dari piala, plakat, sampai sertifikat, ia simpan apik di atas lemari yang ada di rumahnya. Bukan hanya itu, selain prestasi kejuaraan, Chandra juga mendapatkan kepercayaan penuh dari para siswa Putra Garuda Muda. Ia bukan hanya memberikan pelatihan bermain sepak bola, tetapi juga memberikan motivasi kepada para siswanya.

Saat ini sudah lebih dari 50 anak yang bergabung di sekolah sepak bola yang ia dirikan. Selain aktif mengurus sekolah sepak bolanya, pemuda 17 tahun ini juga aktif menempuh pendidikan formal di salah satu universitas di Jakarta. Ia juga aktif terlibat sebagai relawan peduli kanker.

Chandra kini menggunakan bantuan kruk untuk melakukan kegiatannya sehari-hari. Meskipun begitu, ia kadang menyempatkan diri untuk bermain futsal, meskipun bukan lagi menjadi gelandang, tetapi sebagai penjaga gawang diakuinya cukup untuk mengobati rasa rindunya bermain sepak bola. Harapannya kedepan yakni anak didiknya di Putra Garuda Muda dapat menjadi bagian dari Timnas Indonesia dan mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional.


Sumber: diolah dari berbagai sumber

Pilih BanggaBangga89%
Pilih SedihSedih11%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG DIMAS AYUNA

Bukan apa-apa, hanya seorang mahasiswi yang sampai sekarang masih belajar menulis. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie