Lupa Sandi?

Sosok Perempuan Pejuang Konservasi Kupu-Kupu di Ujung Timur Indonesia

Bagus Ramadhan
Bagus Ramadhan
0 Komentar
Sosok Perempuan Pejuang Konservasi Kupu-Kupu di Ujung Timur Indonesia

Indonesia dengan bentang alamnya yang luar biasa memiliki potensi keanekaragaman serangga seperti kupu-kupu yang berlimpah. Namun potensi tersebut tidak banyak orang ketahui karena di Indonesia kajian tentang serangga terlebih tentang kupu-kupu masih dipandang sebelah mata. Hal inilah yang kemudian berusaha diubah oleh seorang perempuan bernama Dawia Suhartawan, seorang dosen Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Cendrawasih Jayapura. 

Dawia yang dikenal sebagai pengkaji kupu-kupu tersebut berhasil menginisiasi kelompok pecinta kupu-kupu bernama Perhimpunan Entomologi Papua yang bermarkas di Timika. Anggotanya berasal dari berbagai kalangan seperti dosen, mahasiswa maupun para pencinta kupu-kupu.

Sebagaimana diberitakan Mongabay Indonesia, perjuangan Dawia melakukan konservasi kupu-kupu dimulai sejak dirinya pertama kali mengenal kupu-kupu saat bertemu dengan Bruder Henk Van Mastrigt, seorang Misionaris Belanda pada tahun 1974 di Papua. 

Bruder Henk merupakan seorang kolektor kupu-kupu, dan dari sanalah Daawia yang saat itu aktif sebagai dosen Biologi belajar banyak tentang fauna hasil metamorfosis ulat tersebut. Daawia mendapatkan banyak pengetahuan, mulai dari cara identifikasi, mencari spesimen hingga bagaimana menyimpan koleksi spesimen. Hingga akhirnya sebuah laboratorium kupu-kupu berdiri di Kampus Universitas Cendrawasih. 

Baca Juga

Di laboratorium yang diberi nama Henk van Mastrigt tersebut memiliki kurang lebih 72 ribu koleksi spesimen hasil dari koleksi kupu-kupu milik Bruder Henk. Laboratorium ini dikelola oleh Daawia bersama mantan mahasiwa Evie Warikar yang kini juga bekerja sebagai dosen.

Laboratorium Henk van Mastrigt (Foto: Astrida Elisabeth / Mongabay Indonesia)
Laboratorium Henk van Mastrigt (Foto: Astrida Elisabeth / Mongabay Indonesia)

Daawia menuturkan bahwa dirinya bersama Evie harus berjuang sekuat tenaga untuk menjaga keberlangsungan laboratorium ini karena perhatian tentang pentingnya penelitian tentang serangga dan kupu-kupu masih sangat rendah di Indonesia, terlebih di Papua.

Tidak hanya laboratorium, Daawia dan beberapa mahasiswa juga berusaha mengembangkan kebun kupu-kupu namun masih menggunakan lahan milik sendiri. Di lahan tersebut Daawia menanam berbagai tanaman yang menjadi makanan kupu-kupu. Setelah tanaman-tanaman itu tumbuh, kupu-kupu nantinya akan datang dan menghisap nektar. Berbagai jenis kupu-kupu menghampiri kebun ini termasuk kupu-kupu endemik Papua. 

Daawia juga mengamati tumbuhan liar di kebun yang ternyata tempat hidup kupu-kupu. Ragam jenis kupu-kupu sangat bergantung jenis tanaman. Namun karena keterbatasan lahan, kebun sulit untuk dikembangkan.  Namun Daawia menegaskan dirinya tidak akan menyerah.

“Saya berpikir, kalau saya tak mulai, semua hanya akan jadi mimpi. Saya sudah terlambat. Jadi lebih baik mulai dari halaman rumah sendiri. Semoga dari sini nanti orang bisa meniru menghargai alam.”

Tantangan mengenalkan kupu-kupu juga tidak jarang datang dari warga. Seperti Daawia yang sering ditanya mengapa tidak menanam tanaman yang bisa dimakan. Daawia menyadari, perlu proses bagi masyarakat memahami apa yang sedang dia lakukan.

“Kalau saya bilang untuk kupu-kupu, mereka bilang untuk apa nonton kupu-kupu?”

Sampai saat ini perjuangan untuk memerkenalkan kupu-kupu di Jayapura dilakukan lewat berbagai cara, seperti lewat sekolah-sekolah, ke ibu-ibu rumah tangga, hingga ke kelompok gereja. Daawia juga tidak henti mempromosikan pengetahuan tentang kupu-kupu lewat sosial media seperti Facebook.

Tidak berhenti sampai pada tahap melakukan konservasi, Daawia juga ternyata memiliki impian untuk Papua lewat kebun bunga dan kupu-kupu. Caranya adalah dengan meniru apa yang sudah dilakukan negara-negara di Eropa. 

Saat Daawia menempuh studi doktoral di Jerman dirinya mengunjungi berbagai negara. Di negara-negara yang dia  kunjungi, penelitian tentang serangga termasuk kupu-kupu sudah lebih maju dan memasyarakat. Bahkan di sebuah toko bunga, penjual sudah memiliki pengetahuan untuk menjelaskan pada pembeli bahwa jika ingin kupu-kupu jenis tertentu datang ke halaman mereka, ada bibit bunga tertentu yang harus ditanam. 

Hortus Botanicus di Leiden, Belanda (Foto: visitleiden.nl)
Hortus Botanicus di Leiden, Belanda (Foto: visitleiden.nl)

Sedangkan di kota Leiden, ada museum yang menyimpan ribuan koleksi serangga dan terjaga baik termasuk kupu-kupu dari Papua. Kebun kupu-kupu juga ada, meskipun mereka harus menyediakan biaya besar untuk mengatur suhunya karena harus mampu menyerupai iklim tropis. Berbagai orang datang ke tempat itu dengan berbagai tujuan seperti rekreasi, belajar mauapun penelitian. 

“Saya pikir kalau buat kebun kupu-kupu di Papua tak perlu biaya besar seperti Eropa. Rasanya terlalu malas kalau kita tak buat.”

Menurutnya keragaman hewan dan tumbuhan terutama di Papua, bisa mendatangkan keuntungan dan dikelola berkelanjutan. Dirinya mencontohkan bagaimana bunga sakura mampu menjadi daya tarik kunjungan wisata ke Jepang. Wisatawan tahu kapan harus berkunjung jika ingin menyaksikan sakura. Padahal di Papua, menurutnya ada bunga lebih indah dari Sakura.  “Flame of Papua, muncul tiga kali dalam setahun. Namun Tak pernah diperhatikan," ujar Daawia menyayangkan.

Kupu-kupu di kebun kupu-kupu Daawia (Foto: Astrdia Elisabeth / Mongabay Indonesia)
Kupu-kupu di kebun kupu-kupu Daawia (Foto: Astrdia Elisabeth / Mongabay Indonesia)

Daawia menambahkan melihat berbagai kekayaan budaya yang dimiliki Papua, sangat memungkinkan untuk dibuat sebuah kebun budaya (etnobotanical garden). Tempat ini akan menyimpan kebudayaan suku-suku dan tumbuhan serta hewan hidup Papua yang telah ada sejak nenek moyang.

“Jika itu ada, akan menjadi spot menarik dunia dan bisa menghasilkan uang,” jelasnya.

Bagi Daawia, sebelum mimpi-mimpi besar terwujud, dirinya ingin memulai dengan yang kecil-kecil terlebih dahulu.

“Semoga bisa mempengaruhi orang ikut mencintai alam. Saya percaya alam tak bisa kita ciptakan, hanya bisa kita pelihara.”


Sumber: Mongabay Indonesia

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG BAGUS RAMADHAN

Seorang copywriter dan penulis konten yang bertekad untuk mampu menebar inspirasi dan semangat lewat konten-konten berkualitas untuk kehidupan yang lebih baik. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas