Lupa Sandi?

Peternakan Sapi Perah Terbesar dan Termodern se-Asia Tenggara Akan Ada di Indonesia

Arifina Budi
Arifina Budi
0 Komentar
Peternakan Sapi Perah Terbesar dan Termodern se-Asia Tenggara Akan Ada di Indonesia

Tahun ini produsen susu terbesar di Indonesia PT Greenfield bakal membangun peternakan kedua yang digadang-gadang juga akan jadi yang terbesar di Asia Tenggara. Peternakan ini akan dibangun di Wlingi, Kabupaten Blitar di atas tanah seluas 172 hektare, tiga kali lebih luas dari peternakan pertama yang berada di Desa Babadan, Ngajum, Kabupaten Malang. Alokasi pembangunannya nanti 60 hektare-nya akan menjadi lokasi peternakan dan selebihnya digunakan untuk menanam rumput dan keperluan lainnya.

Saya bersama beberapa rekan media lainnya diajak oleh PT Greenfield untuk tengok-tengok sedikit lahan pembangunan peternakan yang luas ini pada 3 Mei lalu. Jaraknya memang cukup jauh dari pusat daerah Blitar dan tentu saja di tempat yang sangat tinggi, yakni 1.200 meter di atas permukaan laut. Untuk menuju kesana kami harus melewati jalan terjal dan berliku. Namun, jangan khawatir. Nanti ketika peternakannya sudah jadi tentu saja akses jalannya juga sudah diperbaiki.

Di tengah rintik hujan dan kabut yang kadang tebal kadang tipis, sembari menunggu Bupati Blitar, Rijanto datang kami menyempatkan untuk keliling di sekitar area pembangunan peternakan. Masih lahan kosong memang, tapi saya bisa bayangkan 10.000 sapi perah di sini tengah dipelihara oleh para peternak. Diberi kasih sayang supaya si sapi tetap bahagia dan menghasilkan susu yang berkualitas. Pasti akan seru kalau bisa menyaksikan langsung proses pemerahan susu sapi nantinya.

Di lokasi inilah peternakan terbesar dan termodern di Asia Tenggara akan didirikan
Di lokasi inilah peternakan terbesar dan termodern di Asia Tenggara akan didirikan

Sebelumnya PT Greenfield memang sudah punya peternakan yang diklaim juga menjadi yang terbesar di Asia Tenggara yang dibangun di kawasan Gunung Kawi, Kabupaten Malang. Namun, untuk peternakan yang baru ini tidak hanya menjadi yang terbesar lagi melainkan juga paling modern di Asia Tenggara. Hal ini ditegaskan oleh Head of Dairy Farm PT Greenfield Heru Prabowo dan Managing Director of AustAsia Dairy Group Edgar Collins. Berdasarkan apa yang dipaparkan oleh Heru kepada GNFI, teknologi-teknologi yang akan diterapkan di peternakan ini memang terdengar keren.

Baca Juga

Teknologi modern itu diterapkan mulai dari teknologi kipas, pemerahan susu, hingga pengelolaan pangan serta kotoran sapi.

"Di tempat pemerahan nanti juga akan menggunakan teknologi tinggi yang bisa dibaca dengan sistem elektronik. Jadi, sapi yang akan masuk tempat pemerahan itu akan dibaca nomornya oleh komputer, lalu produksinya juga akan terlacak berapa jumlahnya oleh komputer," begitu penjelasan dari Heru.

Lalu dari sisi pengolahan kotoran sapi, hasil akhir pengolahan ini akan dipakai untuk biogas yang bisa menyuplai listrik untuk warga di sekitar peternakan. Lalu yang membuat saya cukup takjub adalah bahkan sampai sistem lampu pun peternakan ini bakal menggunakan teknologi yang menarik. Lampu yang dipasang nanti akan menggunakan teknologi long daylight system di mana kondisi lampu akan disesuaikan dengan status sapi.

"Kalau sapinya laktasi atau penghasil susu, lampunya akan dibuat terang 18 jam, itu sama dengan terang waktu siang hari. Mengapa ini diterapkan? Karena sistem ini akan membantu produktivitas sapi," tambah Heru.

Peternakan sapi perah kedua PT Greenfield mengutamakan teknologi-teknologi yang canggih dan ramah lingkungan (foto: peternakan Greenfield Malang/fitnessformen)
Peternakan sapi perah kedua PT Greenfield mengutamakan teknologi-teknologi yang canggih dan ramah lingkungan (foto: peternakan Greenfield Malang/fitnessformen)

Pembangunan peternakan sapi perah ini pun disambut luar biasa oleh pemerintah setempat. Raut wajah antusias dan bahagia sepertinya tidak bisa dibendung lagi oleh Pak Bupati. Dalam pidatonya di acara peletakan batu pertama peternakan PT Greenfield itu, Rijanto mengatakan ketika peternakan ini nanti sudah jadi dan beroperasi, tentu ini bisa jadi destinasi wisata baru di Kabupaten Blitar.

"Visi misi kami adalah menuju masyarakat yang sejahtera dengan fokus pengembangan pariwisata. Kalau kawasan di Serat Kincon ini bisa terpadu, di sini ada perkebunan Wijiombo, peternakan Greenfield, dan PT P12 penghasil teh, maka siapapun yang datang ke sini bisa menikmati susu sampai teh Ken Tea yang tiada duanya di Indonesia," kata Rijanto dengan penuh semangat.

Di garda terdepan produsen susu nasional

Sebenarnya PT Greenfield bisa dibilang masih beranjak dewasa di usianya yang mulai menginjak 20 tahun. Didirikan pada tahun 1997, ketika Indonesia sedang merana akibat krisis moneter, Greenfield berani hadir demi gizi Indonesia yang lebih baik. Dan dalam waktu yang relatif singkat ini, Greenfield berhasil menjadi raksasa produsen susu nasional yang memasok 6% dari hampir 20% produksi susu nasional. Hebatnya lagi, dalam waktu singkat ini pula Greenfield berhasil menarik hati di pasar Asia. Capaian ini berdasarkan data dari Nielsen Company tahun 2015 yang menempatkan Greenfield di urutan pertama produk susu paling diminati di dunia.

Apa yang membuat Greenfields pada akhirnya begitu digemari warga dunia? Kalau berdasarkan keterangan dari Edgar Collins, kuncinya ada pada sapi. Susu yang lezat itu dihasilkan dari sapi yang happy. Seperti sudah diceritakan tadi, sapi-sapi yang diternak oleh PT Greenfields sendiri ini dirawat dengan kasih sayang.

Targetnya, Greenfield menjadi top 3 perusahaan peternakan sapi perah global (foto: twitter/GreenfieldID)
Targetnya, Greenfield menjadi top 3 perusahaan peternakan sapi perah global (foto: twitter/GreenfieldID)

Diternak di dataran berketinggian 1000-1.200 mdpl dengan suhu cuaca 15-20 derajat menurut Edgar akan membuat Si Sapi ini bahagia. 

Kunci kesuksesan ini pun tak lepas dari gandengan Greenfield dengan para peternak lokal yang mana kerja sama ini sudah berlangsung sejak tahun 2006.Para peternak di sini dibekali pengetahuan penting untuk berternak sapi perah di bidang pangan dan tentunya teknis berternak supaya sapi-sapinya tetap bahagia. Kemudian jalinan kerja sama ini terus berlangsung sampai sekarang yang jumlah peternaknya sudah mencapai sekitar 5.000 orang.

"Perusahaan kami menganut filosofi win-win. Makanya kami percaya bahwa kesuksesan kami ini terkait dengan kesejahteraan para peternak muda," kata Collins.

Selain berkontribusi dalam pasokan susu nasional, Greenfield juga memasarkan produk-produknya ke negara-negara di Asia Tenggara hingga Hong Kong sebanyak 50% dari total susu yang diproduksi. Dengan dibangunnya peternakan kedua ini, total susu yang diproduksi oleh PT Greenfield ditargetkan bisa berkontribusi lebih dari 10% dari produksi susu nasional di mana per harinya dari peternakan baru ini akan dihasilkan 125 ton susu. Dengan begitu diharapkan Greenfields bisa turut menekan angka impor susu Indonesia.


**

GNFI

Pilih BanggaBangga67%
Pilih SedihSedih1%
Pilih SenangSenang17%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi11%
Pilih TerpukauTerpukau4%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ARIFINA BUDI

Pencerita hal-hal baik untuk dunia. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas