Lupa Sandi?

Cinta Indonesia, Penulis Perancis ini Lahirkan kembali Serat Centhini

Dimas Ayuna
Dimas Ayuna
0 Komentar
Cinta Indonesia, Penulis Perancis ini Lahirkan kembali Serat Centhini

Ragam budaya dan sejarah Indonesia rasanya tak ada matinya. Ada berbagai macam kitab dan babad yang menceritakan tentang kehidupan masa lampau, mulai dari Babad Tanah Jawi, Kitab Kertagama, Kitab Pararaton, sampai Serat/Suluk Centhini. Saking menariknya kisah sejarah yang ada di Indonesia, ada seorang perempuan berdarah Perancis yang menghabisan sebagian dari hidupnya menulis ulang karya sastra Jawa klasik Serat Centhini menjadi sebuah saduran berjudul Centhini, Kekasih yang Tersembunyi.

Naskah Serat Centhini
Naskah Serat Centhini

Karya sastra kuno ini bernama asli Suluk Tambanglaras, salah satu masterpiece sastra Jawa klasik. Seperti namanya, suluk, Serat Centhini ini berisi berbagai macam tembang yang menceritakan keadaan dan kebudayaan masyarakat Jawa, serta memuat sakralnya seksualitas kala itu. Bukan hanya itu, karya klasik ini juga meliputi pelbagai macam hal dalam alam pikiran masyarakat Jawa secara lahir dan batin, seperti persoalan agama, kebatinan, kekebalan, keris, karawitan, tari, tatacara membangun ruman, penghidupan, primbon Jawa, adat-istiadat, sampai cerita-cerita kuno mengenai Tanah Jawa. Seperti yang tercantum pada bait awal serat ini ‘baboning pangawikan Jawi’, dapat dikatakan Serat Centhini merupakan induk pengetahuan Jawa. Karya sastra ini berbunyi paksa suci sabda ji yang berarti tahun 1742 dalam penanggalan Jawa, atau 1814 Masehi. Serat Centhini ditulis oleh seorang Putera Mahkota Kereajaan Surakarta, Adipati Anom Amangkunegara III pada 1814 – 1823.

Namun apa yang melatarbelakangi seseorang yang tak terpaut darah dengan Indonesia ini tertarik mendalami dan menulis ulang Serat Centhini?.

Elizabeth, Penulis Centhini, Kekasih yang Tersembunyi
Elizabeth, Penulis Centhini, Kekasih yang Tersembunyi

Namanya Elizabeth D. Inandiak. Ia adalah seorang penulis, wartawati, translator, dan sastrawati berdarah Perancis kelahiran 1960. Perempuan inilah yang telah jatuh hati, bukan kepada seorang lelaki, melainkan pada keindahan sastra Jawa. Kisah cintanya pada Jawa, terutama dengan Serat Centhini ini diawali saat ia tak sengaja membaca ringkasan Centhini yang ditulis seorang ahli kebudayaan dan sejarah Nusantara asal Perancis. Dalam ringkasan itu, menceritakan tentang Kebudayaan Indonesia dari masa kuno sampai abad ke-20. Kemudian mulailah ia melakukan penelitian tentang Serat Centhini dan menerbitkannya dalam bentuk saduran berbahasa Perancis dengan judul ‘Les Chants de I ile a Dormer Debout – le Livre de Centhini’ tepatnya pada tahun 2002.

Baca Juga

Elizabeth mengaku sangat tertarik dengan cerita yang ia temui di Serat Centhini. Cerita yang disajikan dengan estetika syair kuno. Ia juga mengagumi struktur cerita Serat Centhini yang menurutnya sangat menarik, rumit, tapi sempurna. Penuh dengan muatan mistik sekaligus rohani, karya sastra Jawa klasik ini sukses mencuri perhatian sang wartawati asal Perancis ini. Baginya cerita ini memiliki kekuatan tersendiri. “Luar biasa. Saya tidak tahu apakah pada awal abad ke-19, penulis sudah punya gambaran tentang ini, atau muncul begitu saja. Luas sekali, sebanyak 4.000 halaman,” ungkapnya takjub.

Centhini, Kekasih yang Tersembunyi
Centhini, Kekasih yang Tersembunyi

Bekerjasama dengan seorang ahli Bahasa Jawa, Sunaryati Sutanto, Elizabeth berhasil menerjemahkan beberapa pupuh – bait syair – yang ada di Serat Centhini. Agar yang dapat menikmati keindahan karya ini bukan hanya orang Jawa atau yang mahir berbahasa Jawa, ia bertekat memperkenalkan Serat Centhini pada para pembaca secara lebih luas. Setelah pada tahun 2002 ia menerbitkan saduran Serat Chentini dalam Bahasa Perancis, tahun 2008 ia kembali menerbitkan saduran Serat Centhini dalam Bahasa Indonesia. Kali ini bertajuk Centhini Kisah yang Tersembunyi.

Dalam menerjemahkan karya sastra kuno ini, Elizabeth mengaku mendapat beberapa kesulitan, seperti menyesuaikan terjemahan bahasa dengan tetap mempertahankan keindahan tembang serta musiknya. Pun begitu pada awal rencanannya menulis saduran Serat Centhini ini, ia acap kali dilanda ketakutan. Selain memikul beban berat menerjemahkan mahakarya Jawa Kuno, ia juga harus membangun ikatan batin antara dirinya dan isi yang terkandung dalam Serat Centhini. Jadi tidak heran jika dalam menyelesaikan tulisannya, ia membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk melakukan riset dan penyesuaian budaya.

Elizabeth, Perempuan berdarah Prancis yang jatuh cinta dengan pesona Jawa
Elizabeth, Perempuan berdarah Prancis yang jatuh cinta dengan pesona Jawa

Selain Centhini, karya lain yang telah berhasil ia terbitkan yakni Babad Ngalor Ngidul, karya sastra yang tetap beraroma Jawa. Elizabeth D. Inandiak menambah daftar panjang warga mancanegara yang memiliki kecintaan terhadap Indonesia. “Takdir mempertemukan saya dengan Serat Centhini. Kali ini saya jatuh cinta, bukan dengan seorang lelaki, namun dengan tanah Jawa, dengan Serat Centhini.”


Sumber: Diolah dari berbagai sumber

Pilih BanggaBangga57%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang7%
Pilih Tak PeduliTak Peduli3%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi7%
Pilih TerpukauTerpukau27%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG DIMAS AYUNA

Bukan apa-apa, hanya seorang mahasiswi yang sampai sekarang masih belajar menulis. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata