Lupa Sandi?

Pemandian Sumber Polaman Malang, Tempat Bersinggahnya Para Raja

Dimas Ayuna
Dimas Ayuna
0 Komentar
Pemandian Sumber Polaman Malang, Tempat Bersinggahnya Para Raja

Kawan pernah dengar pemandian Sumber Polaman? Jika belum, simak ulasan berikut ini. Ada apa dengan pemandian satu ini? Berada di kawasan hutan lindung seluas 5 hektar persegi, kolam pemandian Polaman menawarkan sejuknya air yang langsung bersumber dari Gunung Arjuno. Di lokasi ini ada tiga kolam besar yang bisa digunakan untuk mandi, dan tempat berkembangbiaknya ikan-ikan yang ada di sana. Pemandian Polaman ini berlokasi di 5 km sebelah barat Pasar Lawang, tepatnya di Jalan Indrakila, Polaman, Kalirejo Lawang, Malang. Pohon maupun tumbuhan yang masih rimbun dapat dijadikan sebagai penyejuk mata.

Polaman saat ini sudah mendapatkan sentuhan-sentuhan pembaharuan, seperti pembangunan tandon-tandon air dan ppa-pipa penyalur air ke daerah di sekitarnya. Namun hal tersebut tak mengurangi kehijauan dan keasrian lingkungan sekitar Sumber Polaman.

Meskipun sekarang ini Polaman tak ubahnya seperti wisata alam, tempat ini ternyata memiliki penggalan kisah sejarah tersendiri di masa lampau. Warga setempat meyakini nama Polaman berasal dari kata pa-ulam-an atau tempat memelihara ikan, karena dalam bahasa jawa, ulam adalah ikan. Dan benar saja, di tempat ini terdapat berbagai jenis ikan. Polaman menjadi saksi masa lampau adanya dua kerajaan besar di Nusantara, yakni Kerajaan Singosari, dan kerajaan Kediri.

Kolam yang ada di Polaman
Kolam yang ada di Polaman

Pemandian yang konon menjadi tempat persinggahan raja-raja zaman dahulu ini Sampai saat ini, kolam sumber air yang dijadikan sebagai pemandian ini disucikan oleh para penganut aliran Kejawen. Dalam teks Pararaton dan Kidung Harsyawijaya, Polaman dipercaya sebagai tempat pembuangan Raja Kediri, Jayakatwang. Selain itu, tempat ini juga dipercaya sebagai tempat Jayakatwang mencari inspirasi saat menyelesaikan karya sastranya yang berjudul Wukir Polaman.

Konon, Sumber Polaman juga menjadi rute Raja Hayam Wuruk – raja keempat kerajaan Majapahit – saat melakukan perjalanan. Sumber polaman ini menjadi tempat persinggahan sejenak saat melakukan perjalanan panjang. Dulu, raja-raja Kediri kerap kali melakukan perjalanan ke wilayah di sebelah timur Gunung Kawi dan Gunung Arjuno. Ketika melewati mata air ini, mereka tak lupa menyempatkan mengunjungi Sumber Polaman ini.

Sakralnya Ikan Wader di Kolam ini

Salah satu ikan yang hidup di Polaman
Salah satu ikan yang hidup di Polaman

Jika kawan ingin melihat ritual pemberian makan ikan, kawan bisa datang langsung ke pemandian satu ini. Di sana, ada satu ikan yang sangat dikramatkan, yakni ikan wader. Loh kok bisa? Karena di Polaman, ikan wader dipercaya muncul dari dalam tanah, mengikuti aliran air langsung dari sumbernya. Aziz, juru pelihara cagar budaya yang terletak di Dusun Polaman menyebutkan bahwa banyak terjadi kejadian buruk setelah seseorang mencelakai ikan wader yang ada di polaman. Memang ini hanya mitos, tapi mitos ini tetap terjaga seiring dengan sumber yang tak pernah kering ini. Terus sampai sekarang. “Jangan sampai membunuh ikan ini – wader,” larangnya.

Ikan dengan nama latin Puntius binotatus ini bukan hanya tidak boleh ditangkap, namun juga disakralkan oleh warga setempat. Dikatakan bahwa ikan wader adalah peliharaan Mbah Jayadursa, tokoh pendiri dukuh Polaman. Untuk menghormati tokoh pendiri Dukuh Polaman tersebut, masyarakat Desa Polaman sering mengadakan tradisi bersih desa di makam Mbah Jayadursa. Tradisi ini diadakan setiap bulan September serta diiringi oleh upacara adat Barikan.

Menawarkan lokasi yang asri serta memiliki nilai sejarah, bagi pecinta travelling dan sejarah, Polaman wajib dimasukkan ke daftar rencana kunjungan. Bagaimana, tertarik mengunjungi kekayaan alam satu ini? Yuk, kemas ranselmu!


Sumber: Diolah dari berbagai sumber

Pilih BanggaBangga17%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang8%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi17%
Pilih TerpukauTerpukau58%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG DIMAS AYUNA

Bukan apa-apa, hanya seorang mahasiswi yang sampai sekarang masih belajar menulis. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata