Indonesia tak pernah lupa periode itu. Saat di mana Belanda kembali merongrong proklamasi yang berhasil diucapkan dengan susah payah tanggal 17 Agustus 1945. Masih lekat dalam ingatannya: ketika Sekutu yang diwakili tentara Inggris dan Belanda datang, ada lebih banyak darah berhamburan dan semangat yang tak pernah habis pada perjuangan. Ia menyebutnya sebagai masa revolusi fisik 1945-1949.

Indonesia juga ingat, geliat revolusi fisik itu memantik semua orang untuk ambil peran: dari yang berjuang di medan perang sampai para seniman. Jika para prajurit bersenjatakan bambu runcing, maka para seniman khususnya pelukis dan sastrawan, meletakkan senjatanya di ujung kuas dan pena. Para pejuang tinta mewujud perjuangan lewat corat-coret lukisan, syair dan poster yang digunakan sebagai alat komunikasi paling umum kepada masyarakat.

Patung Pejuang masa Revolusi Fisik 1945-1949 (dok/berdikarionline)
Patung Para Pejuang masa Revolusi Fisik 1945-1949 (dok/berdikarionline)

Adalah Ir Soekarno yang pertama kali mencetuskan pembuatan poster. “Kau, buatlah gambar-gambar yang sekiranya dapat menebar semangat juang rakyat,” begitu kira-kira ucapnya pada S. Sudjono, seorang seniman senior yang juga menjabat sebagai Kepala Seksi Kebudayaan di Jawa Hokokai saat itu. Kemudian segeralah Sudjono menuju Affandi, rekannya sesama seniman—yang saat ini sejarah mengkristalkannya sebagai legenda—untuk menyampaikan maksud Soekarno tersebut.

Maka di tangan Affandi, muncullah poster perjuangan Indonesia pertama yang melegenda dan tersebar hingga jauh. Lukisan tersebut menggambarkan seorang pemuda berbaju kemeja putih meneriakkan Merdeka. Ditangannya terpasang borgol rantai yang sudah putus. Berlatarbelakang bendera Merah Putih, poster tersebut dilukis di atas kertas poster berukuran 80 x 100 cm.

Poster legendaris karya Affandi dan tagline fenomenal milik Chairil Anwar (dok/wikimedia common)
Poster legendaris karya Affandi dan tagline fenomenal milik Chairil Anwar (dok/wikimedia common)

Dari beberapa sumber diketahui, bahwa yang menjadi model lukisan adalah pelukis Dullah. Sebelumnya tidak ada jejak tulisan apapun di poster tersebut. Namun karena dirasa kering dan hambar, akhirnya Soedjono meminta usulan Chairil Anwar yang kebetulan saat itu hadir dalam satu pertemuan, untuk melengkapinya dengan kata-kata. Refleks dengan santai penyair kurus legendaris itu nyeletuk:

“Boeng, Ajo Boeng!”—“Bung Ayo Bung!”

Bukan Sekadar Kata Panggil

Seruan “bung” akhirnya menjadi sangat populer pada zamannya. Panggilan “bung” lekat pada siapapun yang memposisikan diri di garda terdepan dalam revolusi kemerdekaan. Di setiap pertemuan kaum-kaum bumbu runcing, “bung” selalu menyapa dengan tajam. Beriringan dengan kepalan tangan dan gejolak harap untuk segera mengusir kaum berambut pirang dari ibu pertiwi.

Ir. Soekarno di depan para Pemuda Indonesia (dok/hariansejarah.id)
Ir. Soekarno di depan para Pemuda Indonesia (dok/hariansejarah.id)

Namu satu hal yang tidak banyak orang tahu adalah, sapaan heroik tersebut rupanya lahir dari bilik remang-remang di sekitaran Pasar Senen. Saat ditanya darimana inspirasi kata-kata tersebut berasal, Chairil bercerita bahwa panggilan tersebut datang dari para wanita tuna susila yang biasa menawarkan ‘dagangannya’ ke setiap pria yang lewat. Para wanita itu biasanya mengajak para pria dengan nada genit “Bung, sini Bung…!”

Mendengar hal tersebut, sontak rekan-rekan seniman yang hadir kala itu langsung terbahak. Mereka tak menduga bahwa akhirnya sapaan yang berasal dari bilik remang-remang kemudian menjelma jadi sebutan revolusi paling menggelora sepanjang sejarah. Lewat ungkapan magis Chairil Anwar, “bung” akhirnya bisa keluar dari bilik remang-remang dan ikut ambil peran dalam revolusi panjang.

Bung Sjahrir, Bung Karno, Bung Hatta
Bung Sjahrir, Bung Karno, Bung Hatta

Saat ini, meski Kamus Besar Bahasa Indonesia menerangkan “bung” sebatas abang yang merupakan panggilan akrab kepada seorang laki-laki, namun pada periode revolusi “bung” adalah bentuk lain dari keberanian, kebebasan dan kemerdekaan.

“Bung” menjelma menjadi apapun yang berkaitan dengan semangat membebaskan diri dari penjajah: ia dipakai sebagai kata sapaan, lonjakan semangat, hingga penghormatan di kalangan pemimpin kemerdekaan yang kental dalam kenangan: Bung ‘Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, sampai Bung Tomo.

*
diolah dari berbagai sumber

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu